Jawa Timur, Traveling

Yes, I am Blessed For What I Have!

sleeping ranu

Sejak dari Jakarta, si Kurus sudah mulai mengeluhkan kondisi badannya yang kurang fit. Aku tidak terlalu menanggapi. Entah lah, aku agak sulit jika harus menerima kenyataan bahwa dia sakit. Karena kalau dia sakit, siapa yang akan memanjakanku dan anak-anak?

Dini hari setelah kami check-in di The Square apartemen, dia langsung mendaratkan tubuh kurusnya di kasur.

“Gue tidur duluan, ya. Badan ngga enak banget!” keluhnya. “Sori. Ngga bisa bantu jaga dede. Mau flu, nih! Takut nularin ntar malah repot.” ujarnya lagi. Aku tetap diam, tanpa berkomentar apapun pada apa yang ia katakan.

Aku kesal. Pokoknya aku ngga mau dia sakit. Biar saja dikata egois. Aku menggerutu dalam hati.

Untung saja dia pria yang sabar. Jadi, meski kurang sehat sekali pun, dia tak pernah merepotkanku selagi masih bisa mengurus dirinya sendiri. Lagian aku juga sudah repot sama bayi. Kecuali jika sudah benar-benar tak kuat, baru dia akan meminta tolong. Seperti minta diambilkan air minum atau makanan.

Malam itu, setelah semua lelaki tertidur, aku masih belum bisa membaringkan badan. Padahal penat sudah melanda. Tetapi masih ada yang harus kukerjakan. Aku masih harus membersihkan diri dan berganti pakaian agar baby Ranu tetap nyaman tidur dan saat menyusu padaku. Kasihan kan kalau ia harus makan dari badan yang lengket dan bau karena berpeluh.

Esok paginya, Si Kurus masih belum membaik. Ia masih mengeluh pusing ditambah bersin-bersin. Dan barangkali deritanya semakin lengkap ketika aku terus cemberut saat kami sarapan di Poolside Cafe.

“Abi mah gitu orangnya. Cuek aja makan. Kenapa, sih, ngga bisa banget nyuruh aku dulu yang makan? Aku kan busui!” aku menggerutu. Egoku tetap minta didahulukan, padahal aku tau ia sedang tak enak badan.

Si Kurus yang tengah menyantap nasi goreng tampak tak peduli. Ia tetap makan dengan santainya. Mungkin karena sudah sangat terbiasa menghadapiku yang temperamen. Daffa’ & Abyan duduk di kanan dan kiri abinya juga cuek saja. Mereka khusu’ menikmati semangkuk bubur ayam. Sedangkan aku tak bisa duduk dengan jenak karena baby Ranu rewel. Badannya pasti capek setelah perjalanan panjang dari Serang ke Surabaya.

Walhasil, demi menenangkannya agar tidak menangis, aku rela berdiri untuk menggendongnya, sambil berjoget a la ondel-ondel Jakarta yang hanya bisa memutar badan ke kanan dan ke kiri.

Dan setelah lelaki kurusku itu selesai menandaskan sepiring nasi gorengnya, ia mengambil alih tugasku. Digendongnya baby Ranu lalu diajak jalan-jalan ke sisi kolam renang. Baru lah aku bisa duduk dengan jenak dan makan dengan tenang.

“Gih, kalo mau makan lagi!” pintaku pada Si Kurus setelah aku selesai makan.

“Ngga, ah! Udah kenyang.” ia menjawab datar. Matanya bahkan tak mencoba menangkapku. Mungkin ia kesal karena punya istri yang lebih banyak cemberutnya dibanding senyum.

Setelah kembali ke kamar, ia langsung berbaring lagi di ranjang.

“Gue istirahat dulu. Mau tidur lagi. Dari pada ntar sakit.” katanya sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh kurusnya.

Aku menarik nafas panjang. “Jalan-Jalan…malah sakit!” gumanku. Sambil memandangi wajah baby Ranu yang sudah tertidur dan kubaringkan di ranjang, aku jadi membayangkan nasib libura ku selama di Surabaya. Tidur saja di hotel? Yang benar saja!

Sementara itu Daffa’ & Abyan tampak lesu karena kecewa. Keinginannya untuk bisa berenang harus ditunda karena abinya tak bisa menemaninya main air di kolam renang The Square.

“Yaah, ngga jadi berenang.” ujar Abyan dengan suara cadelnya. Andai saja ada kolam khusus anak, mereka tak perlu bete begitu.

“Sabar, ya! Habis ini kita pindah hotel yang ada kolam renang buat anak-anak. Sekarang nonton TV aja dulu. Tuh ada film kartun!” aku mencoba menghibur mereka. Memberi harapan baru agar tidak merasa kecewa terlalu lama. Dan menawarkan solusi serta alternatif lain untuk tetap menjaga mood bahagia agar tak pergi.

Bukankah begitu seharusnya seorang ibu? Memberi bahagia dan menghapus kesedihan di hati anak-anaknya.

Tak lama kemudian, tercipta harmoni baru dalam kamar yang hanya kami singgahi selama 10 jam. Daffa’ & Abyan yang tertawa-tawa karena menonton film kartun yang lucu. Baby Ranu yang sesekali menggeliat dan tersenyum dalam tidurnya. Dan suara tarikan nafas lelaki kurus yang tampak sangat lelah.

Tiba-tiba aku menyadari, how blessed I am for what I have. Jika bukan Daffa’ & Abyan yang menjadi anakku, yang manis dan penurut itu, entah apa dan bagaimana. Mungkin aku harus pusing karena anak-anak yang tantrum, yang mengamuk dan harus segera dituruti jika meminta sesuatu.

Entah bagimana juga jadinya, jika yang menjadi suamiku bukan si kurus Ojrahar, yang penyabar dan pandai mengantongi ego itu. Yang bisa asik seperti teman dan sahabat, namun tetap tau kapan harus menempatkan diri sebagai seorang suami. Ya, jika bukan dia, mungkin hari-hari dalam kehidupan pernikahanku akan banyak didominasi oleh perang urat syaraf.

Dan hadirnya baby Ranu di tengah keluarga kami, menambah panjang daftar alasanku untuk tetap bersyukur, bersemangat dalam hidup, dan selalu menjalani hari dengan berbahagia.

Alhamdulillah…

44 thoughts on “Yes, I am Blessed For What I Have!

  1. Menikmati proses ribet2nya jadi ibu yg msh pny baby plus anak2 sholeh ya mbak 🙂 .. krn suatu saat nanti kita menua, anak2 udh pny kehidupan sendiri.. penuh dengan rasa syukur memang apapun keadaannya 🙂

  2. Mas Tyo mah oke bangeeett…ngadepin bini yg nyebelin gini aja dia udah cool 😉 Bener banget Noe, kita harus syukuri apa2 yg kita punya saat ini, krn blm tentu semua org memiliki apa2 yg saat ini kita punya.

    1. Iyees, berayukur itu kudu. Namun kadang untuk sampai tahapan bersyukur itu, ada kalanya kita melalui proses yang tidak mudah dan sakit. 🙂

  3. Wah kalau bojoku biasa banget itu. Disuruh ngeloni anak, pasti molor duluan. Boro-boro mempersilakan ibu menyusui makan duluan, ga pernah. Aku wis biasa wae, karena aku tau suamiku kaya gitu bukan karena dia ga sayang. Emang pikirannya ga nyampe segitu,beda kalau perempuan semua kan dipikirin ya wekekek. Sifat ngopeni semua orang itu kayanya women nature banget.

    Aku rapopo sing penting bulanan dan bookingan tiket lancar.

    1. Iyes. Masing-masing keluarga punya gayanya sendiri, dipengaruhi karakter personal dari suami dan istri juga. Poin pentingnya, yg penting kedua belah pihak asik2 aja menjalani dg gaya yabg dipilih, meskipun di mata org lain itu terasa aneh. Yang semacam panggil nama tanpa bermama-papa, atau tetep ngbrol lu gue-an. Dan memang gaya ini ngga bisa klo harua seragam sesuai dengan pandangan umum yg harus begini harus begitu.

      Halagh panjang men komenku. Matur nuwun, simbok…

  4. Boleh dong toss sama si kurus he3
    Tulisannya menyentuh Mbak, jujur dan apa adanya. Setiap rumah tangga punya kisah dan dramanya sendiri2 yak 😀

    1. Nah itu yang ingin coba aku angkat mas, cerita apa adanya dari kehidupan yang ngga semuanya baik. Meski sejujurnya, menulis jujur itu berat dan melalui proses perang batin. Tapi semoga yang baca bisa mengambil hikmah, terlepas apakah yg baca menangkap maksud saya atau tidak, ya… Bahwa ketidsk sempurnaan itu wajar. That’s human being. 🙂 thanks untuk komen bijaknya yaa

      1. Aku juga pengin nulis tentang hal-hal personal dalam keluargaku Mbak. Sebab selama ini kebanyakan hanya cerita travelling dan kuliner, kesannya hanya seneng-seneng aja.
        Emang sih dilema ya, antara pengin nulis jujur tapi ntar dianggap buka-buka aib keluarga he3 ya pandai-pandainya kita memilah saja.

  5. Waahh, inspiratif banget tulisannya mbak. Terharu bacanya.
    Abis baca ini aku jadi makin bersyukur. Alhamdulillah banget istriku tidak pernah menggerutu kalau aku makan duluan pas traveling. Padahal istriku juga sedang menyusui. Apalagi kalau pas aku sakit, istriku gak pernah egois. Dia malah nyuruh aku istirahat aja biar cepat sembuh, segera pulih, dan bisa segera bantuin momong Bara lagi.

  6. “Bukankah begitu seharusnya seorang ibu? Memberi bahagia dan menghapus kesedihan di hati anak-anaknya”

    Dan bukankah seharusnya seorang istri bisa memberi bahagia kepada suaminya dan menghapus kesedihan suaminya.

  7. ibarat pepatah Jawa ya mbak : tumbu entuk tutup, klop. Saling melengkapi satu sama lain…

    ** ngeliatnya seneng baget kemana-mana bisa ikut semua…semoga selalu sehat ya… 🙂

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.