Edelweiss Bromk

Yang Tersisa Dari Perjalanan ke Bromo

Panorama Gunung Bromo

Cerita tentang Bromo ini sebenarnya sudah lama berlalu. Sudah setahun lamanya kenangan tentang Bromo hanya tersimpan dalam ingatan. Belum sekalipun kutuliskan dalam blog ini. Kufikir, semua orang pasti tau, dimana dan keindahan apa yang bisa dinikmati di sana. Sehingga sempat merasa tak perlu buru-buru menuliskannya. Toh, di blog lain sudah banyak yang membahasnya juga. Tetapi pagi ini, ada yang membuatku ingin menuliskan sekelumit cerita tentang dataran tinggi yang memesona itu. Tentang kenangan yang tersisa, dari perjalanan ke Dataran Tinggi Bromo.

Panorama Kabut Bromo

Dari puncak Penandjakan 2, perlahan matahari pagi menyembul di ufuk timur. Memang, titik ini bukan tempat terbaik untuk menikmati sunrise. Ada sedikit kekecewaan yang kemudian hadir. Kenapa guide tidak membawaku ke Seruni Point saja? Gerutuku dalam hati. Sampai akhirnya kecewaku terobati saat gelap berganti terang. Gunung Bromo dan Gunung Batok terlihat bersisian, diselimuti kabut, di bawah langit biru yang disaput awan.

Suku Tengger

Aku kembali berjalan melewati jalan setapak, meninggalkan puncak Penandjakan 2 dan menuju area parkir mobil Jeep. Destinasi selanjutnya adalah lautan pasir, lalu berjalan menuju puncak bibir kawah Gunung Bromo. Belum sampai di area parkir Jeep di Penandjakan, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Kulihat seorang lelaki dengan kain sarung tersampir di pundak yang menjadi ciri khas Suku Tengger. Ia tengah memikul dua keranjang bambu yang sarat dengan rumput pakan ternak. Kulirik arloji di pergelangan tanganku. Hari masih terlalu pagi. Sepagi ini? Sejak pukul berapa ia mulai mencari rumput?

Kuda Putih Bromo

Di Lautan Pasir, kusaksikan betapa keindahan dataran tinggi Bromo membawa berkah tersendiri bagi warga sekitar. Banyaknya wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan alam, mendatangkan rejeki bagi mereka, melalui jasa angkutan di punggung kuda yang bisa ditawarkan. Kuberi tau, ya, jika kamu sedang mencari pangeran berkuda putih, mungkin dataran tinggi Bromo bisa jadi tempat yang tepat untuk dijadikan tempat pencarianmu. πŸ™‚

Selfie di Bromo

Ketika tongkat narsis mulai exist, kapanpun, dimanapun, siapapun bisa berekspresi di depan lensa kamera. Entah kenapa, aku merasa tertarik untuk mengabadikan momen ini, ketika seorang remaja berdiri di atas jeep, dan mengambil foto diri dengan background gunung Batok, Bromo, dan langit biru.

Bromo, Jawa Timur

Seperti koloni semut, berbondong menuju satu titik dimana sumber kebahagiaan berada. Seperti itulah mereka yang didadanya dipenuhi rasa penasaran akan Kawah Bromo… Lelah adalah sesuatu yang harus dikalahkan demi melihatnya.

Naik Kuda di Bromo

Akan tetapi, hendaknya memang setiap manusia bisa mengukur batas kemampuan diri. Tak perlu memaksa jika memang tak bisa. Ada banyak jalan menuju Roma, katanya. Naik lah ke punggung kuda, jika tak sanggup berjalan dari area parkir Jeep di Lautan Pasir, untuk menuju titian anak tangga ke puncak bibir Kawah Bromo.

Bromo

Hidup memang selalu menawarkan pilihan. Begitupun saat harus menuju puncak Gunung Bromo untuk melihat kawahnya. Jika tak sabar mengantri untuk melalui jalan yang aman, jalur yang lebih beresiko bisa saja dipilih dan ditempuh oleh mereka yang level keberaniannya sedikit berlebih.

Kawah Bromo

Keindahan Kawah Bromo inilah yang ingin disaksikan banyak mata. Namun apa jadinya jika sampai terperosok ke dalamnya? Ya, keindahan dan bahaya yang ditawarkan kawah Bromo, barangkali seperti halnya cinta, bahagia dan rasa sakit bagai dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.

Lembah & Ngarai Bromo

Lembah & Ngarai, satu dari sekian banyak keindahan lain yang bisa dinikmati di Dataran Tinggi Bromo.

Edelweiss Bromk

Dan akan selalu ada yang bisa membuat hatimu teriris. Seperti bucket-bucket bunga edelweiss yang dijajakan di lereng Gunung Bromo itu.

Bukit Teletubies Bromo

Savannah & Bukit Teletubbies adalah peraduan terakhir dari serangkaian itinerary trip Bromo. Sebelum menuju tempat yang mengagumkan ini, sebenarnya ada satu tempat yang dikunjungi, yang sangat dikenal dengan nama Pasir Berbisik. Hanya saja, aku tak bergairah turun dari Jeep untuk menikmati lautan pasir itu.Β Angin bertiup terlalu kencang dan menerbangkan banyak butiran pasir ke udara. Aku tak sanggup menghirupnya terlalu banyak.

Savannah & Bukit Teletubbies

Aku memilih beristirahat sejenak di dalam Jeep yang lebih terlindung dari badai pasir, sembari menyiapkan tenaga baru agar bisa menikmati destinasi selanjutnya. Savanah! Sebelum akhirnya kuharus beranjak pulang, dan membawa kenangan dari perjalanan di dataran tinggi Bromo yang memesona.

52 thoughts on “Yang Tersisa Dari Perjalanan ke Bromo”

  1. Assalamualaikum mba nurul.
    Salam kenal..
    Saya ingin ke bromo, tapi karena suami saya bukan jiwa petualang, saya bingung kalo ke sana itu apa harus pake paket tour ya?
    ada rekomendasi ga mba?
    kalo mba nurul sendiri bagaimana ?

    mohon maaf kalo kepanjangan.. hehe

    1. Hai mba, maaf baru jawab, sebaiknya pakai tour saja. Googling banyak kok perusahaan tour n travel yg nawarin pake ke bromo. πŸ™‚

  2. Jadi pengin balik ke Bromo lagi. Alhamdulillah kemarin dapat driver orang tengger yang baik, sampai dijamu makan ala Tengger sama ibunya segala.

    1. Xixixi… Ini jg rameeee bgt, lbh rame dr yg keliatan di foto, cuma gk aku munculin. Wajar lah ya, Akbar. Bromo emg cantik sih

  3. Wah rame sekali…mungkin bisa buka pasar di atas sana ya…
    Btw, pemerintah daerah ngak negur yang jual bunga edelweissnya?

  4. dulu aku sampe ngesot2 pas dipenanjakan hahahaha…capekkknyaaaa,mana jalan kaki dari parkiran. Kebayang kan, jalan kaki….bener2 naik gunung,padahal ada jeep,kan bisa nyewa,cuma kayaknya aku waktu itu dikerjain gitu sama orang2….errr

  5. Entahlah sdh tiga kalibke Bromo kok aku ndak prnh bosen ya, daya pikatnya nggak akan habis dilekang ya mbak *yaelah jamaaan πŸ™‚

    Btw foto2 nya cakeeep, anak remaja selfie ????

Leave a Reply