Tips Traveling With Children

Tips Membawa Bayi Naik Pesawat Terbang

baby traveling

Mau tidak mau, suka atau pun tidak, traveling bersama bayi memang tak sebebas biasanya. Kami sudah tidak bisa lagi mengunjungi banyak objek wisata dengan berpatokan pada itinerary yang ketat. Kami juga sudah tidak bisa seenaknya memilih moda transportasi umum yang menjadi favorit karena harganya yang murah. Traveling bersama bayi, kenyamanan adalah syarat mutlak. Tidak bisa ditawar.

Begitu pun soal akomodasi. Dulu, bahkan meski bersama Daffa’ & Abyan yang notabene masih anak-anak, jenis akomodasi dengan harga murah masih menjadi favorit untuk menginap. Menjadikan bus malam untuk menghemat biaya penginapan pun kami jalani.

Tetapi bersama bayi, rasanya aku belum berani menghabiskan waktu sepanjang malam di kendaraan. Ini juga yang menjadi pertimbanganku untuk memilih jalur udara dari Jakarta ke Surabaya pada 4 November lalu. Padahal rencana awal kami ingin naik kereta malam. Namun rasanya aku masih belum siap jika membayangkan bagaimana ribetnya nanti.

Bagaimana kalau baby Ranu poop dan harus ganti popok? Bagaimana kalau baby Ranu butuh digendong sambil ditimang sebelum tidur? Karena ada kalanya baby Ranu gelisah, dan baru merasa nyaman jika digendong dan dinyanyikan lagu sayang. Apa iya aku harus jadi peragawati di dalam kereta api. Lenggak-lenggok di dalam gerbong sambil menggendong bayi, begitu? Belum lagi soal menyusui.

Hmm, semua pertanyaan itu terus menjadi momok buatku. Untung saja saat last minute sebelum hari H berangkat ke Surabaya, ada promo final call bagi AirAsia BIG member. Dengan menukar poin BIG yang sudah kukumpulkan sejak 3 tahun lalu, kami bisa berangkat ke Surabaya dengan AirAsia sekeluarga. Terbang gratis memang merupakan salah satu keuntungan menjadi AirAsia BIG member.

Tiket pesawat baby Ranu
Tiket pesawat baby Ranu

Meskipun awalnya sempat merasa galau juga setelah tiket pesawat sudah di tangan. Aman ngga sih kalau bayi yang baru berumur 2 bulan diajak terbang? Sedangkan aku yang sudah setua ini saja masih suka merasa ngga nyaman dengan tekanan di ketinggian yang membuat telinga sakit. Bagaimana dengan bayi?

Aku lalu bertanya kepada social media secialist-nya AirAsia, yang kukenal sejak aku diajak menjadi member AirAsia Bloggers Community. Pertanyaanku, bayi umur berapa mulai boleh diajak naik pesawat?

Kebijakan AirAsia menyebutkan, kategori infant (bayi) yang bisa diijinkan terbang bersama AirAsia adalah bayi yang berumur minimal 9 hari, sampai dengan 2 tahun.

Mendapat jawaban seperti itu, aku merasa lega dan kembali meyakinkan diri bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tetapi dasar yang namanya Noe, yang kebiasaan suka cuek dan nggampangin. Akhirnya terjadi lah drama baby Ranu rewel di pesawat saat berangkat ke Surabaya.

Nah, supaya ngga dibilang keledai, aku mencoba belajar dari pengalaman supaya baby Ranu ngga rewel lagi saat perjalanan pulang ke Jakarta.

Berikut adalah tips membawa bayi terbang naik pesawat;

Check-in lebih awal di counter bandara

Sebaiknya datang ke bandara 2 jam sebelum boarding. Dengan demikian, kita bisa leluasa check-in manual di counter, dan meminta tolong kepada petugas untuk mengusahakan nomor kursi yang saling berdekatan dengan seluruh anggota keluarga.

Check-in lebih awal di counter juga memungkinkan kita mendapat nomor kursi di bagian depan. Malah kadang petugas di counter check-in akan memberikan kursi hot seats kepada kita jika kursi tersebut belum dibooking oleh penumpang lain. Mungkin karena pertimbangan ada bayi dan anak-anak. Atau jika ingin lebih nyaman lagi, bisa membeli/booking seat yang kita ingin secara online.

Ajak bayi tidur sebelum boarding

Saat tidur bayi cenderung lebih tenang dibandingkan saat terjaga. Jika bayi terjaga, kemungkinan rewel lebih besar terutama ketika lepas landas karena suara bising mesin pesawat, adanya guncangan, ditambah suasana gelap karena lampu cabin dimatikan sementara.

Susui bayi selama penerbangan

Pernah dengar tip agar telinga tidak sakit saat naik pesawat? Katanya bisa diatasi dengan mengunyah permen karet, ya! Mungkin bisa belaku juga kepada bayi. Permen karet diganti dengan susu lah ya pastinya.

Pelajari cara menggunakan pelampung bayi

Penting untuk mempelajari bagaimana memakaikan pelampung pada bayi. Karena pelampung bayi mungkin berbeda dengan pelampung orang dewasa. Ini hanya untuk berjaga-jaga ya. Harapannya sih, perjalanan kita naik pesawat bersama bayi selalu aman dan selamat. Ya, kan?

16 thoughts on “Tips Membawa Bayi Naik Pesawat Terbang

  1. nah, ini lebih lengkap lagi, khusus pesawat.
    makasih, bunda. rencananya sih mau ngajak debay ke jakarta (dari malang) terus… papua (pindah ke sana). bismillah… xixixi

  2. dulu saat anak pertama masih di bawah setahun bbrp kali terbang, tapi ini anak kedua belum sama sekali
    gak tau knp gk bisa menikmati lg naik pesawat kalau bawa bayi hehe

  3. sebelum membaw bayi terbang, memang perlu memperhatikan beberapa aspek. soalnya repot juga kalau bayi ny ananti malah nangis terus di dalam pesawat. selain bikin repot, juga bikin ganggu penumpang lain :”)

  4. Ari, aku gendong Oliq berkali2 selama penerbangan KUL-melbourne waktu dia 6 bulan. Tipsnya pick a seat kursi agk belakang jd bisa diajak jln bg belakang krn utk long haul pesawatnya besar ada space lumayn buat gendong atau anak jln2.

  5. Kalau kami, ngajak Bara lebih suka naik kereta api sih mbak daripada pesawat. 3 kali naik pesawat jarak pendek, di tengah perjalanan Bara bosen, rewel, dan minta digendong. Gak mungkin kan digendong di dalam pesawat, secara jarak antar kursi aja mepet banget.

    Bara udah naik kereta api 6 kali. Dan, rasanya lebih gampang nenangin dia di atas kereta. Kalau rewel tinggal digendong sambil jalan-jalan di dalam gerbong. Bara juga kayaknya lebih suka naik kereta. Soalnya selama keretanya jalan ya anteng aja. Kalau keretanya berhenti di stasiun baru rewel.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.