Tip & Trik Food Photography a la Marisa Djemat

Sebagai penyuka coklat dan makanan manis, sepotong cake coklat yang disajikan menjadi penyempurna kebahagiaan saat mengikuti workshop food photography di Aston Rasuna Hotel.

***

Dalam dunia blogger, aku mengenal beberapa nama food blogger yang cukup ternama. Satu hal tentang food blogger yang membuatku kagum adalah foto-fotonya yang selalu menggoda hasrat untuk makan. Apalagi kalau ngintip feed instagramnya, aduh, ngiler seketika deh!

Coba saja lihat feed instagram @anakjajan, @elizasetiawan atau @yennymakanmulu. Dan belum lama ini aku mulai mengenal akun ig @mde_206Β yang isinyaya foto-foto makanan dengan tone warna dark food photography. Kekinian sekali.

@mde_206 adalah akun instagram milik Marisa Djemat, seorang fotografer yang menjadi speaker untuk #WorkshopFoodPhotpgrahy di @AstonRasuna Hotel Jakarta. Beruntung aku mendapat kesempatan untuk hadir dalam workshopnya.

Marisa Djemat sedang presentasi materi tip food photography

Dalam presentasinya, mba Icha (sapaan akrab untuk Marisa Djemat) menyampaikan tip dan trik umum dalam food photography. Ada sesi tanya jawab juga untuk memenuhi rasa haus ilmu para peserta workshop.

Poin-poin penting yang dapat aku tangkap dari materi yang dipresentasikan dan hasil tanya jawab adalah sbb:

Buatlah orang lain menjadi lapar. Yup! Tantangan utama dalam food photography adalah bagaimana membuat makanan tampak menarik dalam foto, sehingga membuat yang melihat begitu menginginkan makanan itu.

Untuk membuat sebuah makanan tampak lebih menarik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti angle, pencahayaan, tema foto, komposisi dan properti pendukung.

Waktu terbaik untuk memotret makanan adalah pagi hari ketika matahari mulai bersinar terang namun belum terlalu terik, yaitu sekitar jam 7 sampai jam 9 pagi. Usahakan makanan masih dalam keadaan fresh saat akan dipotret.

Pilih angle yang tepat untuk setiap makanan. Ada makanan yang lebih cocok jika dipotret dengan angle eye level, namun ada juga yang lebih bagus jika menggunakan angle flat lay. Contoh, flying noodle lebih cocok difoto dengan angle eye level. Sedangkan segelas kopi yang biasanya memiliki detil atau hiasan di permukaannya, akan lebih baik jika menggunakan high angle atau flat lay.

Dalam hal pencahayaan, usahakan tidak ada sesuatu yang menghalangi arah cahaya. Berdiri dan membelakangi sumber cahaya saat memotret adalah kesalahan besar, karena akan ada bayangan yang jatuh menutupi makanannya.

Siapkan properti pendukung jika memotret dengan tema tertentu. Misal memotret makanan hari raya, tambahkan properti seperti ketupat atau hiasan berbentuk kubah masjid untuk menegaskan suasana hari raya.

Untuk makanan di cafe, bisa gunakan apa saja yang ada di cafe agar tidak perlu repot membawa properti sendiri dari rumah. Misal, buku resep dan tanaman hias yang biasanya ada di atas meja. Bisa juga ditambah gadget untuk memberi tema atau kesan santai dan enjoying time.

Sedangkan jika di rumah, tak ada salahnya jika kita membeli beberapa perlengkapan makan vintage yang bisa sangat berguna sebagai properti, entah sebagai alas maupun background.

Bicara soal properti untuk background, usahakan benda-benda yang digunakan diatur agar memiliki tinggi yang berbeda (tinggi rendah) agar foto lebih dinamis.

Usahakan juga agar foto memiliki komposisi yang tepat dan tidak bocor. Yang dimaksud komposisi adalah objek apa saja yang ingin dimasukkan dalam frame foto. Jika ada objek lain yang tidak dinginkan dan masuk dalam foto, itu namanya bocor.

Foto yang bocor akan mengacaukan fokus seseorang yang melihat foto tersebut. Akibatnya, tujuan utama food photography untuk membuat orang ‘ngiler’ menjadi gagal.

Ada tip sederhana dari mba Icha untuk mensiasati agar tidak bocor, terutama bagi pemula, yaitu dengan cara mengambil gambar yang agak lebar kemudian meng-crop saat proses editing sebelum upload foto.

Dancing Coffee

A post shared by Marisa Djemat (@mde_206) on

Dalam hal editing foto sebelum upload, Mba Icha sendiri mengaku tidak melakukan edit berlebihan pada fotonya. Hanya mengatur tone warna agar terlihat natural. Sayangnya tidak dijelaskan editnya apakah menggunakan software PC/laptop, atau cukup menggunakan aplikasi photo editor di smartphone. Tidak disebutkan juga nama software atau apps apa yang dipakai untuk editing.

Dan sejujurnya, aku penasaran dengan teknik dark fotografi yang digunakan Mba Icha dan kebanyakan food blogger lainnya. Aku berharap Mba Icha mengadakan workshop lanjutan yang lebih mendalam tentang food photography. Berbayar pun aku mau. Hehe.


Berlatih Memotret

Usai presentasi materi workshop dan sesi tanya jawab, seluruh peserta dipersilakan untuk praktek memotret. Menu makanan yang disediakan untuk dipotret adalah menu-menu andalan dari #MezzaRestoAstonRasuna. Namun sebelum itu, ada hidangan coffee break yang bisa dinikmati.

Bicara cofee break, berarti bicara soal cake coklat yang enak banged pakai huruf d. Seperti yang sudah kutulis sebagai intro tulisan ini, dan berkali-kali kutulis pada caption di instagram, kue coklat yang entah apa namanya itu memang terbaik. Coklatnya kaya, manisnya pas, meleleh dan lumer saat dikunyah. Benar-benar memanjakan lidah penggemar coklat.

Selain itu, ada mango mouse dalam cup kecil, dan bitterballen isi … (isi apa ya, aku lupa). Dan yang namanya coffee break, pasti ada kopi dan teh juga.

Tak lama setelah cofee break, satu per satu menu makanan untuk dipotret dan direview dikeluarkan. Para peserta dipersilakan untuk memotret dan upload di instagram. 3 orang dengan foto terbaik berhak mendapat voucher makan di Mezza Resto Aston Hotel senilai @ 250 ribu rupiah.

Sayangnya aku belum berhasil membuat foto terbaik. Hehe. Hanya foto seadanya di bawah ini.

Soal rasa, akan kutulis dalam postingan terpisah dan tayang besok ya. Sekaligus cerita dan share foto-foto hasil hotel tour. Fasilitasnya lumayan lengkap. Aku suka dan pingin ajak anak-anak nginep di sana jadinya.

Last but not least, aku senang bisa ikut acara workshop Food Photography bareng Marisa Djemat. Harapanku ke depan, semoga ada workshop lanjutan yang membahas tentang teknik food fotografi yang lebih mendalam dan dibimbing langsung saat prateknya. Biar makin pinter akunya. πŸ™‚

30 thoughts on “Tip & Trik Food Photography a la Marisa Djemat”

  1. Foto-fotomu udah bikin ngiler gitu masih belum menang? Suka foto minuman tapi yang sandwich nampak pucat. Mungkin buat makanan yang menonjolkan unsur fresh perlu saturasi yang lebih bold *komentator sotoy padahal kalau disuruh foto belum tentu bisa*

  2. Toooos dulu dong sesama penyuka cake cokelat πŸ˜€

    Iiih Mbak Nurul jangan gitu, foto-fotomu bagus bangetttt. Sampai-sampai di regram terus sama Aston. Ihiiiy πŸ™‚ Good luck semoga menang πŸ˜€

  3. Nggak pernah bosan ikut workshop food photography. Padahal ini workshop food photography ketiga yang aku ikutin lho. Setiap workshop memberikan insight yang berbeda termasuk yang ini.

Leave a Reply