Technology, Tips and Tutorial

Tip Memilih Kamera Mirrorless Sesuai Kebutuhan

keunggulan kamera mirrorless

Bagi blogger, kamera adalah salah satu benda yang paling essential. Dan mungkin semua blogger menginginkan kamera yang paling canggih agar bisa memproduksi foto yang bagus. Jadi kalaupun tulisan biasa aja, setidaknya fotonya bagus dan enak diliat gitu.

Masalahnya, membuat foto yang bagus itu ternyata ngga cukup dengan kamera mumpuni. Skill dan sense dalam fotografi juga harus diasah. Dalam bahasa jawa sih banyak yang bilang istilahnya “the man behind the gun” gitu. Uhuk! Ngomong soal fotografi bikin pingin toyor kepala sendiri deh. Sudah 2 tahun lebih pegang kamera DSLR tapi masih ngga bisa pakai dengan optimal. Eh tapi disini aku bukan mau bahas mengenai teknik atau teori fotografi kok.

Anyway, soal kamera DSLR-ku yang gede, jadul dan berat itu, akhirnya bulan lalu ada juga orang yang mau adopsi. (baca: udah kejual)

Nikon D5000

Setelah itu baru deh aku korek tabungan buat tambah-tambah beli kamera mirrorless yang lagi kekinian itu. Harapannya aku bisa lebih produktif, dan ngga usah repot lagi sama kamera gede yang memberatkan leher dan pundak, entah saat traveling atau saat menghadiri event blogger.

Sebelum beli kamera, aku sempat dihadapkan pada dua pilihan. Pilihannya antara nekat beli langsung ke toko offline, atau nungguin promo harbolnas Bukalapak aja. Tanggal 11.11 kan suka gede-gedean tuh diskonnya.

Dan karena udah ngebet sama mirrorless idaman, akhirnya pas awal bulan November aku minta dianter Ojrahar ke toko kamera terkenal di bilangan Cideng, Jakarta. Luckily, sedang ada promo cash back alias diskon sampai 1 juta rupiah untuk jenis kamera incaranku. Bahagia dong! Hehe.

picsart_11-22-10-28-19

Nah, sesuai judul tulisan ini, aku mau berbagi tip membeli kamera berdasarkan pengalamanku.

Pertama, ketahui apa kebutuhanmu

Untuk aku yang doyan traveling, dan suka ikut blogger gathering, aku merasa membutuhkan kamera mirrorless yang memiliki body kompak alias kecil dan ringan, namun mampu menghasilkan gambar berkualitas.

Disamping itu, aku juga merasa perlu ada koneksi wifi untuk bisa transfer foto langsung dari kamera ke handphone. Soalnya kan kalau di acara blogger tuh suka ada kewajiban share foto ke socmed secara live. Nah, jadi ngga usah ribet lagi soal transfer foto yang mesti pake bantuan card reader dan laptop.

Selanjutnya, aku butuh kamera dengan sensor yang besar dan autofocus yang cepat, serta bisa menghasilkan foto yang lumayan walau pakai mode auto. Sehingga aku bisa mengabadikan momen dengan cepat di acara-acara penting, yang mana momen tersebut ngga mungkin terulang.

Sensor yang besar memungkinkan kita membuat foto yang tetap OK walau minim cahaya. Autofocus yang cepat menjadikan kamera siap digunakan untuk memotret kapan saja tanpa jeda dari satu jepretan ke jepretan selanjutnya. Kalau autofocusnya lambat, habis jepret satu foto, kadang kita harus nunggu beberapa detik sampai kamera siap untukjepretan selanjutnya.

Dipotret menggunakan Nikon D5000
Dipotret menggunakan Nikon D5000

Contoh kasus nih, waktu aku hadir di acara launching ASUS Zenfone 3. Ada momen di mana model memamerkan gadget sambil berlenggak-lenggok di atas panggung.

Sedihnya, acara itu dilangsungkan di dalam ruangan dan minim cahaya. Eleuh, langsung deh kamera yang keliatan keren berubah jadi macan ompong yang ngga bisa ngapa-ngapain. Untungnya aku udah mulai bisa setting manual. Jadi trial and error nya banyak. Dan dari ratusan foto yang aku buat, dapet lah satu atau dua yang bagus.

Kedua, browsing dan tanya pada ahlinya

Setelah tau persis apa yang aku butuhkan, aku mulai browsing tipe-tipe kamera mirrorless. Bukan cuma artikel ulasan, tetapi juga spesifikasi lengkap dan harga di berbagai toko online.

Dari artikel ulasan, aku mulai mengenal serba-serbi soal kamera. Biasanya kalau menemukan fakta baru seputar spesifikasi kamera, aku akan langsung cek apakah kamera incaranku memiliki spesifikasi seperti yang baru saja kubaca di sebuah artikel review itu.

Contoh, sebuah artikel menyebutkan bahwa sensor APS-C dikenal sebagai sensor dengan kecepatan tinggi dan mampu menghasilkan gambar yang bagus. Setelah membaca itu, aku akan langsung cek spesifikasi kamera incaranku apakah sudah menggunakan sensor APS-C atau belum. Tempat favoritku untuk cek spesifikasi biasanya ya toko online, soalnya bisa sekalian cek harganya.

Hasil browsing sana sini, aku jadi tau bahwa ada beberapa kamera mirrorless dengan harga dibawah 10 jutaan yang sudah menggunakan sensor APS-C. Di antaranya adalah merk SONY a6000 dan Fujifilm XA-2. Dua merk itu masuk dalam daftar incaranku selain Olympus Pen EPL-7.

Setelah banyak browsing, mulai deh bingung harus pilih yang mana di antara tiga merk itu. Dan saat itu lah aku merasa perlu berkonsultasi kepada para suhu yang berpengalaman dalam hal fotografi.

Ada 3 orang yang sempat aku jadikan tempat konsul. Masing-masing punya pendapat berbeda. Ada yang lebih suka Fujifilm, dan bahkan ada yang menyarankan Canon EOS M3. Ealah, ini ngga jadi milih 1 antara 3, malah ditambahi satu pilihan baru lagi.

Ketiga, coba sebelum membeli

Salah satu temanku yang sudah beli mirrorless duluan bilang, beli kamera itu seperti milih jodoh di antara banyak gebetan. Eaa. Penjajakan dulu. Cobain dulu. Eh tapi kalau jodoh buat pasangan hidup ngga boleh dicoba sebelum dinikahi ya!

Jadi aku ikuti sarannya. Aku pergi ke toko kamera yang punya banyak display dengan tujuan untuk mencoba semua jenis kamera sebelum membeli. Mau cari mana yang paling cocok.

Canon eos m3

Di antara semua kamera yang didisplay dan ready stok, ada 3 merk yang masuk kisaran budgetku. Berikut ini kesanku setelah mencoba ketiganya.

  • Canon EOS M3. Harganya berkisar 5 jutaan. Body kecil seukuran kamera saku. Aku suka layarnya bisa touch screen. Sayangnya autofocus agak lambat, yaitu ada delay sampai 5 detik setelah jepret satu foto. Jadi kalau mau jepret foto baru harus nunggu 5 detik setelah jepeetan sebelumnya. Gitu deh pokoknya. Kekurangan lain yang kurasakan adalah tidak ada grip pada body kamera sehingga kurang nyaman digenggam.
  • SONY a5000 & a5100. Layar bisa diputar sehingga cocok untuk yang suka selfie. Untuk seri terbaru yaitu SONY a5100 layarnya sudah bisa touch screen, tetapi kecepatan autofocusnya tidak secepat SONY a6000. Body lebih kecil dibanding a6000.
  • SONY a6000. Harga sedikit lebih mahal dibanding seri a5000. Kalau ngga salah bedanya cuma 1 jutaan. Tapi itu sebanding dengan banyak kelebihannya seperti autofocus yang super cepat, MegaPixel lebih besar dan ada jendela bidik. Layarnya memang tidak bisa diputar, hanya bisa dimiringkan sedikit untuk memotret high atau low angle. Dan berhubung aku ngga terlalu doyan selfie, jadi itu bukan masalah. Yang penting mah ada wifi, sensor APS-C, autofocus cepat tanpa delay, dan ada grip untuk kenyamanan saat menggenggamnya. Design keseluruhan juga cakep. Yang warna putih paling aku suka.

Selain ketiga kamera di atas, aku juga sempat coba Fujifilm XA-2. Bagus sih, tapi petugas toko bilang stoknya lagi kosong. Lagi pula, katanya, SONY a6000 masih lebih OK. Kalau mau yang lebih bagus, dia menyarankan untuk naikkan budget ke Fujifilm XT10 yang harganya sekitar 15 juta. Eum, makasih deh. Haha.

Sony a6000

Dari cerita panjang di atas, udah kebaca belum akhirnya aku beli kamera yang mana? Begitulah pengalamanku saat memutuskan membeli kamera mirrorless, sekaligus tip membeli kamera mirrorless agar sesuai dengan kebutuhan. Siapa tau bisa dijadikan bahan pertimbangan teman-teman yang punya rencana beli kamera dalam waktu dekat, tapi ngga punya waktu untuk coba ke tokonya langsung, atau mungkin ada yang mau memanfaatkan diskon harbolnas Bukalapak 2016. Bisa dipikirkan dulu lalu putuskan secara bijak dan tepat sebelum beli online. 🙂

29 thoughts on “Tip Memilih Kamera Mirrorless Sesuai Kebutuhan

  1. Cakep banget ya hasilnya, aku suka hasil jepretan pake kamera yang bagus. Terlihat hidup ya.. ini memorinya bisa langsung konek ke lepi ya mba? Soalnya kalau yg model jadul suka bongkar dulu memorinya terus pake card rider baru bisa di transfer ke lepi, efeknya kalau aku yg suka lupa bawa printilannya nih..jadi seperti gak praktis ya.. mesti bawa card rider, kabel data, kamera dan lepi. Klu kita buuh cepet fotonya malah jadi lama ya..

  2. Bener deh buat kita yang apa-apa meski cepat, kamera DSLR kayaknya kurang mendukung apalagi dalam event indoor ya kudu setting kamera lagi. Ribet. Aku seringnya gitu. Hikss. Kamera beli mahal-mahal tapi nggak bisa makainya. Mending beli yang mirrowless gini ya. Bisa autofocus. Kalau bisa milih pengennya Sony A6000. Ah semoga ada rejeki lagi.

  3. Thanks mbak tipnya. Saya lagi nabung juga pengin beli.kamera mirrorless. Udah dari entah kapan pengin. Hehehe… Awalnya pengin dslr. Makin ke sini eh yang eksis mirrorless. Jadi nabung dulu. Tertarik Fuji Film itu sih tadinya 😀

  4. Jadinya beli Sony a6000?? Bener gak? :v

    Aku masih menuhin celengan ayam nih demi bisa beli mirrorless, wakakak.

    Kalau buat food photography bagusnya kamera yang gimana, Noe? Aku butuhnya itu deh. Ada yang bilang mending DSLR aja kalau buat moto makanan. Gitukah?

    1. Mau DSLR atau Mirrorless kayaknya oke aja, yang penting pakai lensa yang cocok untuk food photography. Biasanya food blogger pakai linsa fix 50mm f/1.8

      Itu lensa impianku jg, btw. Haha. Tapi masih dilema sih, pinginnya sekalian yang bisa zoom untuk dibawa traveling juga. Kayak 18 – 105mm gitu. Ntah lah, gmn nanti. Nabung lg dulu 😀 oya, tebakanmu benar :p

  5. Makin bingung beli yg mana, tapi emang kalo beli ginian kudu baca review, dicoba dulu. Bukan barang murah soalnya, iya kalo beli baju gt. Gk cocok dipake yaudah EGP, lah kalo mirrorless…errrr hihihi.
    Tfs tips2nya Mba 🙂

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.