Tentang Sepak Bola, Traveling & Nasionalisme

Kamis pagi ini ngga jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Basah dan dingin. Gerimis sisa hujan semalam belum mau reda. Aku sampai harus pakai payung saat meninggalkan rumah untuk pergi kerja.

Dalam perjalanan menuju titik tunggu bis jemputan kantor, aku sempat berandai-andai, coba ada yang mau beliin tiket nonton final AFF Suzuki Cup di Thailand, sekalian tiket pesawatnya. Hehe.

Sebenarnya aku bukan maniak bola. Istilah offside aja masih belum faham. Dan tetap belum bisa ngerti kenapa ada orang Indonesia yang begitu ngefans sama club sepak bola Eropa. Untungnya aku ini traveler ngehek yang selalu mencoba untuk ngga berfikiran sempit. Soalnya aku sering juga ditanya emak, “ngapain sih kamu main jauh-jauh ke pulau? Laut dan pantai juga yang ditemuin. Pantai yang deket juga ada”, dan kalo udah gitu aku cuma bisa nyengir.

Buatku memang sulit menjelaskan kepada orang yang ngga ngerti, tentang apa yang menjadi hobi dan mengapa kita mau bela-belain demi hobi. Itu sebabnya, walau heran, aku ngga pernah nanya ke temen kenapa dia cinta banget sama club sepak bola kesayangannya. Paling banter nanya ke Ojrahar, “Bi, kok loe bisa demen banget sama club Inggris yang itu sih?” yang kemudian hanya dijawab datar saja.

“Karena mainnya bagus”, udah gitu doang.

By the way, balik lagi soal laga final yang memperebutkan piala AFF Suzuki Cup. Aku bisa sangat excited untuk nonton terus karena TIMNAS Indonesia yang main. Seandainya bukan Indonesia, aku ngga akan tertarik untuk nonton. Dari situ aku sadar satu hal, ternyata ada 3 hal yang sering membuat jiwa nasionalismeku bangkit beberapa tahun terakhir ini.

Pertama, kecintaanku pada Indonesia bangkit ketika melihat keindahan Indonesia saat traveling. Baik itu keindahan alam, adat dan budayanya yang unik, atau keramahan orang-orang yang kutemui. Satu contoh ketika aku menjelajah hutan karst Maros di Sulawesi Selatan. Aku melihat seorang anak berseragam merah putih, bersama kakak-kakaknya dalam satu sampan, mendayung menyusuri sungai di pagi hari, hanya untuk pergi ke sekolah.

Sungai yang mereka susuri sebenarnya adalah rawa sepanjang 500 meter. Rawa yang menghubungkan perkampungan penduduk dengan sebuah dusun terpencil di tengah hutan karst. Penduduk dusun yang konon katanya hanya berjumlah empat puluhan kepala keluarga. Sampan dan rawa adalah bagian hidup sehari-hari untuk beraktifitas.

Sungai Rammang-rammang

Rawanya bersih. Pohon nipah tumbuh subur di sisi kanan dan kiri. Saat menyusurinya, aku bisa melihat gunung-gunung karst menjulang dengan gagahnya, di bawah langit biru dengan matahari yang hangat. Kondisi cuaca yang sempurna itu membuat permukaan air dapat merefleksikan apa saja yang ada di sekitarnya.

Indah! Ini Indonesiaku, gumamku dalam hati.

Kedua, aku bisa menyadari kalau aku cinta Indonesia ketika aku jauh dari rumah. Memang sih, perjalananku ke luar negeri baru satu atau dua kali saja. Paling banter juga negara tetangga. Tetapi pengalaman yang kudapat cukup membuatku sadar bahwa Indonesia adalah yang terbaik buatku. Tempat di mana mendapatkan makan halal tidak lah sulit. Tempat di mana masjid bisa ditemukan hampir di setiap 1 kilometer jarak antara masjid yang satu dan lainnya.

Aku yang tak pandai membaca peta, pernah tersasar-sasar di Ho Chi Minh City, sehingga harus berjalan kaki selama hampir 1 jam demi mencari lokasi Ben Tanh Market. Sebuah pusat perbelanjaan di mana banyak restoran halal, dan ternyata jaraknya tak sampai 1 kilometer dari hotel tempatku menginap.

Di saat-saat seperti itu kemudian aku mulai merasa homesick. Kangen pulang ke tanah air. Apalagi saat aku mengobrol dengan guide lokal ketika jalan-jalan ke sungai Mekong. Dia sempat memuji permainan timnas sepak bola Indonesia U19 yang berhasil mengalahkan Vietnam di final AFF tahun 2013. Dia juga heran saat tau bahwa sebelum ke Vietnam, aku sempat ke Thailand untuk main-main di Phi-phi island.

“Ngapain ke Phi-phi, bukannya pulau dan pantai-pantai di Indonesia lebih bagus?” tanyanya heran. Iya, aku setuju!

Dan ketiga, kecintaan pada Indonesia bisa tiba-tiba meledak meletup saat timnas sepak bola Indonesia berlaga. Di depan layar kaca aku bisa berteriak-teriak sepanjang pertandingan. Meneriakkan kata “Indonesia!”, “ayo Indonesia, kamu bisa!” atau kalimat “ya Allah, jagain gawang Indonesia” dan “gol-in, ayo Indonesia tambah gol!” sambil pengepalkan tangan ke atas, atau berdiri lalu jingkrak-jingkrak.

Saking semangatnya, sampai lupa ada semangkuk seblak ceker yang dicuekin di atas meja. Padahal niat awal beli seblak untuk teman nonton bola biar makin sip. Haha. Ya namanya juga excited dan kepingin banget Indonesia menang kan.

Aku yakin, perasaan seperti itu juga dialami oleh banyak orang Indonesia. Sepak bola menyatukan Indonesia yang kaya akan perbedaan. Dan aku bangga!

Semakin bangga karena Indonesia berhasil mengalahkan Thailand dalam laga final AFF Suzuki Cup tadi malam. Masih berharap ada keajaiban untuk bisa nonton langsung pertandingan terakhir di Thailand hari sabtu nanti. Haha.

***

Note: foto paling atas diambil dari facebook page AFF Suzuki Cup 2016

25 thoughts on “Tentang Sepak Bola, Traveling & Nasionalisme”

  1. Ealaaaah seblak seblaaak buat temen nonton bola to kemaren itu. Aku suka aku sukaaaaaa.

    Ngomong ngomong soal bola kemaren aku nemenin anak yg lagi gak enak badan. Jadi ngikutin via obrolan temen aja

  2. Sama kita mbak, aku juga nggak ngerti ngerti amat dengan permainan bola kaki. Tapi Kalo dah acara sepak bola yang atas nama Nasional alias Timnas bikin semangat 45nontonnya #sayangkemaringaksempatnonton
    Dan paling seru nonton bola ya,pas nobar atau nonton langsung di stadion. Hanya saja Kalo di stadion ini kadang ada suporter yang agak jahil#menurutku karena terlalu kali sama tim favo nya, kita yang suporter tim lawannya bisa diserang,biarpun cuma kecil2an baru tahap ejek mengejek, kadang lempar kecil2 kulit kacang dsb.#pengalamannggakenak

  3. Bener banget, Mbak Noe.
    Pokoknya kalo udah bawa- bawa negara yang posisinya kita milih negara sendiri atau lawan pasti otomatis jiwa nasionalismenya keluar. Berasa banget pas dulu jadi LO Tenis lapangan. Ga ngerti ttg-nya dan sistem poinnya tpai pas Indonesia main, heboh ikut teriak2 (mulai ngerti scoring pas itu). Padahal, lagi lawan tim Viet Nam, negara yang lagi aku layanin wkwkkwkwk

    1. Aku suka bola klo yg main timnas Indonesia. Semangat nontonnya. Tapi klo ada tmn ngajak nonton bareng pertandingan bola jg suka ikut, yg penting asik bareng temen biasanya aku. Haha

  4. Yoi…dgn bepergian kita juga bisa membangkitkan kesadaran terpendam…wkwkwk. Istilah aku ini mah. Soalnya kadang yg di dekat2 itu ngga pernah dipandang mata sampai kita jauh..baru deh sadar. hihihi. Lebay deh akuh…

    Btw, mau dong seblaknya.

  5. Iya bener.. temen2 kuliah aja pada bilang, ngapain lu ksni, disini mah cuacanya jelek, ga kayak di Indonesia, mataharinya “banyak”.
    Mereka aja pada kaget begitu tau Indonesia pulaunya ada 17rb an.. langsung deh jd pada pengen ke Indonesia

Leave a Reply