Tangki Kasih Jangan Kosong

LimaBahasaKasihAshley, gadis usia tiga belas tahun dirawat untuk penyakit yang ditularkan kepadanya melalui hubungan seksual. Kedua orang tua Ashley terpukul sekali. Mereka marah pada Ashley. Mereka juga marah pada sekolahnya, yang mereka permasalahkan karena telah mengajarkan dia mengenai seks. Mengapa dia harus melakukan ini? Mereka bertanya.

Kisah tersebut adalah sebuah cerita yang dtuturkan oleh Dr. Gary Champman dalam bukunya yang berjudul “Lima Bahasa Kasih”, pada Bab Dua – Menjaga Agar Tanki Kasih Selalu Penuh. Dr. Gary Champman adalah seorang konselor perkawinan di Amerika.

Buku ini saya pinjam dari seorang dosen di Universitas Jayabaya. Beliau adalah sosok perempuan yang banyak menginspirasi saya. Suatu hari saat obrolan memalui blackberry messenger antara saya dengannya menjadi begitu hangat karena membahas soal relationship (hubungan cinta sepasang kekasih). Bagaimana sebuah keluarga bisa dibangun secara harmonis dengan segala perbedaan karakter dua manusia, yang kemudian melahirkan anak-anak dan menghadapi berbagai permasalahan hidup. Saya banyak belajar dari ibu dosen yang ramah dan kebetulan punya hobi yang sama dengan saya – backpacking.

Kembali pada cerita Ashley.  Dalam bukunya, Dr. Gery Champman menceritakan hasil percakapannya dengan Ashley. Ashley memberitahu mengenai perceraian orang tuanya waktu ia berusia enam tahun.

“Saya fikir ayah saya meninggalkan saya karena tidak mencintai saya.”

“Waktu ibu saya menikah lagi, saya berusia sepuluh tahun, saya merasa sekarang ia punya orang yang mencintainya, tetapi saya masih belum punya orang yang mencintai saya. Saya ingin sekali dicintai. Saya berjumpa dengan anak laki-laki ini di sekolah. Ia lebih tua dari saya, tetapi ia menyukai saya. Saya tidak bisa mempercayai hal itu bisa terjadi. Ia ramah kepada saya, dan setalah beberapa waktu saya sungguh merasa bahwa ia mencintai saya. Ia tidak ingin melakukan hubungan seks, tetapi saya ingin dicintai.”

Membaca cerita kejujuran dari seorang anak (Ashley) yang haus kasih sayang. Tiba-tiba saya seperti terseret pada masa lalu. Saat dimana saya ada di masa itu. Sebagai remaja dengan “tangki cinta” yang kosong. Bagaimana sebuah perceraian bisa berpengaruh besar terhadap jiwa seorang anak. Namun bersyukur saya bisa melewatinya. Tidak terjerumus dalam pencarian pemenuhan kasih sayang di tempat yang salah. Meski pada akhirnya tetap saja setelah usia dewasa saya menikah dan gagal. Disinilah muncul kekhawatiran besar. Bagaimana dengan Daffa’ dan Abyan? Anakku…

Belajar dari buku yang saya baca sekarang ini, tentang tangki kasih. Setiap manusia memiliki kebutuhan emosional akan cinta. Kebutuhan itulah yang kemudian menjadikan tangki kasih itu ada dalam diri manusia. Apa jadinya jika kebutuhan akan kasih sayang ini tak terpenuhi? Tangki kasih akan kosong dan menyenyebabkan seseorang itu merasa tak diingini, merasa sendiri dan terasing. Bayangkan jika hal ini terjadi pada anak-anak, maka ada berapa banyak yang bernasib seperti Ashley?

Saya merasa ngeri membayangkan hal itu. Seandainya Daffa’ dan Abyan ternyata merasa tak dicintai oleh saya. Saya sendiri pernah merasa terpukul dengan kata-kata anak saya. “Ibu jahat, nggak sayang sama mamas!”, begitu komentar Daffa’ saat saya menolaknya membeli mainan mahal. Ah, bagaimana mungkin saya tidak menyayangi darah daging saya sendiri? Sesaat kemudia saya mencoba menghibur diri, “suatu hari nanti kamu akan mengerti nak.”

Lima Bahasa Kasih (Five Love Language). Sebuah buku yang mengulas bagaimana seharusnya berkomunikasi menggunakan bahasa kasih yang sesuai dengan karakter masing-masing individu. Saya belum faham betul apa saja yang lima itu karena saya belum selesai membaca. Tapi semoga dari buku ini saya bisa lebih memahami bagaimana caranya berkomunkasi dalam mencinta. Agar orang yang saya cintai dapat merasakan cinta yang saya curahkan kepada mereka. Terutama anak-anak saya.

Karena misteri yang sesunggunya adalah, mengapa tangki kasih itu bisa kosong? Apakah orang-orang terdekat yang seharusnya memenuhi kebutuhan itu memang benar-benar tidak mencintainya. Jawabannya bisa saja ya. Coba lihat saja yang marak di berita-berita. Ada seorang ibu yang menyiksa anaknya hingga mati. Atau bapak yang memperkosa anak gadisnya sendiri. Entah apa motifnya, tapi menurut saya itu adalah bukti tidak adanya cinta dalam hati meraka.

Lalu, jika jawabannya tidak? Semisal orang tua Ashley yang sudah merasa mencukupi semua kebutuhannya. Merasa itu sudah cukup untuk membuktikan bawa orang tua Ashley benar mencintainya. Tapi mengapa tetap saja Ashley merasa tidak dicintai? Jadi dimana letak salahnya?

Lagi-lagi saya merasa ngeri dan takut anak-anak saya tidak bisa merasakan betapa saya mencintainya. Semoga dengan mempelajari bahasa kasih, saya bisa melampaui ketakutan saya, dan anak-anak saya akan tumbuh menjadi pribadi yang bahagia karena tangki kasihnya tak pernah kosong. Aamiin…

Leave a Reply