Air Asia Blog Contest

Takut, Tetapi Bukan Penakut

Masih terlihat ekspresi tegang di wajah Abyan saat pesawat Air Asia yang kami tumpangi hendak lepas landas dari Jakarta menuju Surabaya pada 12 Juli 2014. Ia memeluk lenganku erat sekali, hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdegup lebih kencang. Tapi ini masih bisa kusebut sebagai prestasi karena ia tidak menangis dan berontak seperti saat pertama kali hendak naik pesawat Air Asia dari Jakarta menuju Singapura pada Mei 2013 lalu.

image

Bahkan kemarin, ia sempat berpose dan tersenyum saat hendak boarding. Berbeda sekali dengan setahun yang lalu, aku harus kewalahan mengejar-ngejar Abyan yang ketakutan, menangis, dan berlari menjauhi pesawat. Untungnya si sulung, Daffa’, sudah mulai mandiri meski usianya waktu itu baru 6 tahun. Dengan menyeret ransel Daffa’ naik ke pesawat sementara aku kejar-kejaran dengan Abyan. Untung aku bisa menangkap Abyan dan membawanya masuk ke kabin pesawat meski secara paksa. Jika tidak, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kami berdua yang harus ketinggalan pesawat, sementara Daffa’ terbawa terbang sampai ke Singapura. 😀

Membandingkan keadaan Abyan antara saat pertama kali naik pesawat, dengan yang kedua kalinya, aku melihat ada perubahan besar. Perubahan itu ada pada usahanya melawan rasa takutnya.

Seringkali dalam hidup kita menghindari sesuatu yang kita takutkan. Padahal, banyak orang-orang yang disebut pemberani sebenarnya memiliki ketakutan yang sama. Bedanya, mereka berani menghadapi rasa takutnya.

Sebagai ibu, aku tentu ingin selalu mendukung anak-anakku untuk berani menghadapi rasa takut agar mereka bisa menjalani hari-harinya dengan bahagia dan percaya diri. Memang, ini sebuah tantangan besar bagiku. Butuh kesabaran yang besar dalam melalui prosesnya.

Contoh saja, saat aku mencoba membantu Abyan untuk menghilangkan traumanya terhadap air. Saat usianya masih 3 tahun, Abyan pernah hampir tenggelam di kolam renang. Sejak itu ia trauma, tidak berani masuk kolam renang meski kolam renang khusus anak-anak. Diajak ke pantai pun ia takut dan terus menangis. Tetapi aku terus membawanya ke kolam renang dan pantai, mendampinginya, dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Usahaku tak sia-sia, di usianya yang ke 5 di tahun 2014 ini, Abyan sudah berhasil mengatasi traumanya, dan sudah bisa menikmati saat diajak bermain di kolam renang atau pantai.

Cara yang sama harus aku lakukan untuk membantu Abyan mengatasi rasa takutnya naik pesawat. Tak ada cara lain selain diajak naik pesawat lagi. Masalahnya adalah, naik pesawat itu biayanya nggak semurah masuk kolam renang, atau masuk area pantai Anyer yang jaraknya cuma 20 kilometer saja dari rumahku. Untung ada Air Asia yang selalu rajin bagi-bagi tiket harga promo. So, problem solved!

Awalnya saat mereka tahu bahwa kami akan ke Surabaya naik pesawat, Daffa’ dan Abyan protes.

“Ibu, kenapa nggak naik kereta aja?” Tanya Abyan.

“Iya, Bu, kan ada tuh lagunya, pernah sekali aku pergi dari Jakarta ke Surabaya, untuk menengok nenek disana, mengendarai kereta malam.” Daffa’ menimpali sambil menyanyikan lagu dangdut. Dan itu membuatku tertawa geli.

Kujelaskan saja kepada mereka, bahwa tiket pesawat yang aku beli untuk ke Surabaya harganya jauh lebih murah dibanding tiket kereta. Dan kuyakinkan sekali lagi agar mereka tak perlu takut, karena aku akan selalu medampingi mereka.

Senang sekali rasanya melihat Daffa’ dan Abyan bisa tersenyum ceria ketika mengantri untuk boarding. Bahkan minta difoto bersama petugas Air Asia yang cantik dan sangat ramah. Sesaat setelah pesawat lepas landas dan mengudara, Daffa’ dan Abyan sangat menikmati pemandangan di luar jendela. Ada lautan awan putih yang menakjubkan. Apalagi ketika melihat puncak gunung semeru yang menyembul di atas awan, mereka begitu excited.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya semua rasa takut dan trauma Abyan terus terbawa hingga dewasa. Akan banyak hal yang seharusnya dinikmati dalam hidup malah harus terlewatkan. Dunia ini terlalu indah untuk tidak dijelajahi. Padahal dari setiap penjelajahan dan petualangan, akan banyak pengalaman yang bisa diambil hikmahnya, agar lebih bijak menghargai hidup.

Atau yang lebih parahnya, akan banyak potensi yang harus terkubur. Misalkan saja, kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan air atau kelautan, atau yang berhubungan dengan ketinggian dan pesawat terbang. Hmm…, memang, sih, rejeki itu sudah ada bagiannya masih-masing dari Tuhan. Tapi, tak ada salahnya juga untuk mengusahakan yang terbaik, bukan?

Aku berharap, di ulang tahun yang ke-10 ini, Air Asia semakin berjaya dan terus menjadi yang terdepan sebagai maskapai Low Cost Carrier. Terus bagi-bagi tiket promo, agar siapapun tidak lagi beralasan tak punya biaya untuk keliling dunia. Aamiin.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.