Jawa Barat

Tak Ada Naga di Kampung Naga

Tiba-tiba kakiku gemetaran ketika mulai menuruni anak tangga yang terbuat dari batu kali dan semen. Gerimis tipis agaknya sudah turun sejak pagi, sehingga bumi sudah basah sempurna ketika aku mulai memasuki Kampung Naga pada siang menjelang sore. Bayangan tidak menyenangkan mulai berkelebat dalam fikiran. Bagaimana jika aku terpeleset saat melewati anak-anak tangga ini? Bagaimana dengan janin dalam kandunganku? Nyaliku pun menciut.

Kampung Naga 1

“Anak tangga ini jumlahnya ada 439,” ujar bapak dari Kampung Naga yang memandu perjalananku bersama keluarga dan teman-teman kali ini.

Aku lupa menanyakan siapa nama Bapak Pemandu itu. Ia mengenakan pakaian serba hitam, dan ikat kepala. Ia berjalan paling depan, diikuti Daffa’ dan Abyan beserta Abinya. Aku mengikuti di belakang. Berjalan beriringan dengan Ihwan, seorang teman yang nampaknya memiliki ketertarikan yang sama untuk berjalan lebih santai sembari jeprat jepret ketika traveling. Aku mulai menarik nafas panjang dan berdoa dalam hati. Bismillah.

Kampung Naga

Suasana sejuk, deru suara arus sungai, serta nyanyi katak dan binatang pengerat di pepohonan yang bersahutan, segera mengusir rasa was-wasku. Belum lagi gemiricik dari suara air yang mengaliri sawah yang bertingkat-tingkat. Dan setelah melewati setengah dari perjalanan, di salah satu sudut tangga yang menikung, tampak atap-atap rumah tradisional di Kanpung Naga yang terbuat dari sabut pohon aren. Sungguh mempesona!

Pada titik ini Bapak Pemandu kembali berhenti untuk menjelaskan hal yang penting untuk diketahui pengunjung.

Kampung Naga

“Nah, itu Kampung Naga yang sebenarnya,” ujarnya dengan logat sunda. Ia menjelaskan sambil menunjuk sekumpulan rumah bambu yang bersisian dengan sawah, hutan, dan sungai.

“Disana ada 113 rumah dan jumlahnya tidak boleh bertambah. Warga di Kampung Naga, hidupnya berdampingan dengan alam, meskipun hidup sederhana tetapi tidak pernah kekurangan. Dan meskipun ada sungai besar, tetapi tidak pernah kebanjiran.”Kampung Naga

Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan demi penjelasan yang dituturkan pemandu. Kemudian kami berjalan lagi, menuruni satu demi satu anak tangga yang berkelok dan licin.

Jarak Kampung Naga, hanya setengah kilometer saja dari area parkir di tepi jalan raya yang menghubungkan kota Garut dan kota Tasikmalaya. Namun bagi orang hamil sepertiku, perjalanan menuju dasar lembah dimana Kampung Naga itu bisa ditemui, cukup menguras tenaga.

DSC01816_1

Beberapa kali saat Bapak Pemandu berhenti untuk menjelaskan sesuatu, aku merasakan kakiku gemetaran. Sampai-sampai kamera di tanganku saja ikut bergetar. Tetapi aku tidak boleh manja, karena ada Daffa’ dan Abyan yang juga butuh perhatian abinya.

“Kuat, kuat, kuat,” mantraku dalam hati untuk memberi sugesti positif kepada diri sendiri. Sampai akhirnya kami tiba di dasar lembah yang subur.

Kampung Naga

Setelah melewati jalan setapak diantara sawah dan sungai, kami sampai di pemukiman masyarakat adat Kampung Naga. Hal pertama yang kutemui adalah kolam ikan dan sebuah saung, serta beberapa petak kakus di atas kolam. Oke, ini yang disebut the circle of life. Feses yang dikeluarkan manusia akan menjadi makanan bagi ikan, dan setelah ikannya gemuk akan dimakan lagi oleh manusia. 😀

Tak jauh dari kolam, ada tanah lapang yang dikelilingi oleh beberapa bangunan penting dalam kehidupan Kampung Naga. Dari sinilah titik awal mula penjelajahan ke dalam perkampungan.

Kampung Naga 3

Di sekitar tanah lapang itu, terdapat rumah kepala adat, masjid, balai desa, dan beberapa rumah penduduk. Meskipun seluruh bangunan di Kampung Naga terlihat seragam, tetapi masjid di Kampung Naga sangat mudah dikenali dengan adanya bedug di bagian depan masjid.

Kampung-Naga-1-600x398_1

Di tanah lapang ini, tak jauh dari halaman rumah kepala adat, aku melihat pemandu berhenti sejenak dan menunduk. Mungkin berdoa sebelum membawa kami masuk lebih dalam ke Kampung Naga.

Lebih jauh ke dalam Kampung Naga, aku mulai melihat lebih banyak lagi gambaran kehidupan penduduk Kampung Naga. Tempat tinggal mereka berbentuk rumah panggung, dinding terbuat dari anyaman bambu, lantai dari papan kayu, dan atap dari ijuk. Ada juga yang atap rumahnya dari daun nipah. Pada beberapa atap ijuk, ada yang telah ditumbuhi lumut dan tumbuhan paku.

Kampung Naga 5

Kampung Naga 2

Hampir di setiap rumah, di bagian depan terdapat tumpukan kayu bakar, perabotan sederhana tergeletak di teras, seperti piring, gelas atau peralatan memasak. Beberapa penduduk Kampung Naga juga ada yang menjadikan teras rumahnya untuk berjualan pernak-pernik kerajinan khas Kampung Naga.

Di Kampung Naga, terdapat sebuah pancuran yang airnya berasal dari Gunung Cikuray. Pancuran inilah yang digunakan sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum. Menurut penjelasan pemandu, tidak boleh ada kamar mandi atau sumur di dalam rumah.

Kampung Naga 4

“Menurut kepercayaan dan ajaran leluhur, kalau rumah panggung yang dijadikan tempat tinggal, di dalamnya juga digunakan sebagai tempat MCK, itu tidak sehat,” ujarnya.

Sampai di pancuran inilah kemudian bapak pemandu berpamitan. Bapak tua berusia paruh baya itu merasa tugasnya sudah selesai untuk memandu dan memberikan informasi yang kami butuhkan. Kami dipersilakan jika masih ingin melihat-lihat atau sekedar mengambil gambar, sementara ia kembali ke lokasi parkir sambil menunggu tamu-tamu lain yang mungkin membutuhkan jasanya.

Sekelumit Sejarah & Asal Usul Kampung Naga

Beberapa minggu lalu, aku sempat menonton sebuah acara jalan-jalan di TV. Kebetulan sedang meliput Kampung Naga. Menurut penjelasan host, nama Kampung Naga ini diambil dari kata sanaga yang berarti tebing. Jadi, nama Kampung Naga ini tidak ada hubungannya dengan hewan dalam mitos Tiong Hoa atau seperti yang digambarkan di film-film fantasi yang bisa mengeluarkan api dari mulutnya.

Kampung Naga, berarti sebuah kampung yang terletak di dasar lembah dan dikelilingi tebing.

Kampung Naga

Sanaga, menurut penjelansan bapak pemandu, juga berarti kampung atau pemukiman penduduk di luar Kampung Naga.

Konon, menurut sejarah yang tercatat di Wikipedia, Kampung Naga pernah diberangus pada masa mulai berkembangnya DI/TII di Indonesia. Pada masa itu, warga Kampung Naga lebih mendukung pemerintahan Soekarno, sehingga penggiat DI/TII yang menginginkan berdirinya Negara islam di Indonesia membakar Kampung Naga. Pembakaran ini membuat arsip sejarah Kampung Naga menjadi punah, dan tidak diketahui lagi bagai mana asal usul Kampung Naga, kapan mulai ada, dan siapa yang mempelopori.

Kearifan Lokal

Berbicara kearifan lokal masyarakat adat, mengingatkanku pada masyarakat adat Baduy di Banten Selatan. Bagiku, kehidupan dan kearifan lokal masyarakat Kampung Naga ada kemiripan dengan masyarakat adat Baduy. Masyarakat yang sangat menjunjung tinggi adat dan tradisi nenek moyang. Sama-sama mempercayai adanya hari baik dan hari yang sial untuk melakukan berbagai ritual seperti waktu yang tepat untuk melaksanakan pernikahan, mendirikan rumah, dan lain-lain.

Bedanya, Kampung Naga lebih permisif dalam hal teknologi. Terbukti dengan adanya antena televisi di rumah-rumah warga Kampung Naga.

Beberapa kearifan lokal Kampung Naga

  • Islam adalah agama yang dianut oleh masyarakat adat Kampung Naga.
  • Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran leluhur adalah hal tabu, misal bermain alat musik modern. Ini menjadi catatan penting, jangan membawa alat musik ke Kampung Naga, seperti gitar atau alat musik lainnya.
  • Tempat tinggal harus berbentuk rumah panggung. Tidak boleh mendirikan rumah gedung dari batu bata dan semen meskipun mampu. Dan tidak boleh di cat, kecuali menggunakan kapur.
  • Rumah (pintu depan) hanya diperbolehkan menghadap ke utara atau selatan, tidak boleh menghadap matahari (timur atau barat)
  • Tidak boleh ada perabotan di dalam rumah, seperti meja, kursi, atau tempat tidur.
  • Pintu depan rumah tidak boleh sjajar dengan pintu belakang. Ini ada kaitannya dengan kepercayaan tentang rejeki yang didapat bisa mudah hilang, karena masuk dari puntu depan dan bisa langsung keluar dari pintu belakang.

How To Get There

Kampung Naga terletak di desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Lokasinya sekitar 30 kilometer dari Kota Tasikmalaya.

Hari sabtu lalu (3 Januari 2015), usai menghadiri resepsi pernikahan teman di kota Tasikmalaya, kami memacu kendaraan melewati jalan raya ke arah Garut. Dengan bantuan GPS di google maps, kamu dapat menemukan Kampung Naga dengan mudah.

Namun jika menggunakan kendaraan umum, dari Jakarta (Terminal Kampung Rambutan) bisa naik bus jurusan Garut, kemudian lanjut dengan bus jurusan Singarparna dan minta turun di Kampung Naga. Atau jika dari Bandung (Terminal Cicaheum) bisa naik bis jurusan Singarparna dan minta turun di Kampung Naga. Informasi ini aku dapat dari pemandu dan dibenarkan oleh wikipedia. 😉

1 thought on “Tak Ada Naga di Kampung Naga

  1. terimakasih banyak atas informasi dan juga artikelnya, anggapan saya kampung naga itu berawal dari sejarah ada seekor naga yang ada di wilayah tersebut…ga taunya kampung naga ternyata di ambil dari nama tebing yang ada di kampung tersebut…..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.