Tag Archives: wisata alam

Air Terjun Parangloe, siang itu…

Siang itu di Air Terjun Parang Loe, aku jatuh cinta pada eksotisnya batu-batu yang seolah sengaja ditata rapi di dasar sungai yang mengalir di bawah air terjun. Jatuh cinta pada tebing batu yang seolah dibuat dari lempengan-lempengan batu alam, dilekatkan pada dinding yang menyerupai tebing bercelah dan bertingkat, sehingga mempercantik aliran air yang jatuh dari atasnya.

Keindahan air terjun Parangloe

 

Ah, Tuhan pasti sedang tersenyum ketika menciptakan air terjun ini.

Ini hari terakhirku traveling di Sulawesi Selatan. Awalnya aku berencana menggunakan hari terkahir ini untuk jelajah pulau di Selat Makassar. Aku ingin snorkeling di sekitaran pulau Samalona dan Kodingoreng Keke, aerta menikmati panorama sunset di pulau Kayangan. Tetapi Akbar dan Om Ridho, para backpacker asli kelahiran Makassar itu menyarankan kami untuk ke air terjun ini.

Alasannya cukup sederhana, kami sudah menghabiskan sehari penuh untuk bermain-main di pantai di sekitaran Tanjung Bira. Mungkin tak ada salahnya jika kali ini mencoba wisata alam yang lain yang juga tak kalah cantiknya. Baiklah, aku menurut. Maksudku, bukan aku, tapi kami, karena aku tidak sendiri disini, melainkan juga bersama Abang, Ayub, Alvie, dan Icha.

Kami berangkat dari Makassar menggunakan mobil sewaan seharga Rp200.000,-. Mobil ini milik temannya Akbar, sehingga kami mendapat tarif terbaik dan lepas kunci, jadi kami menyetir sendiri. Sepanjang perjalanan, Akbar yang memandu kami. Ia bercerita banyak hal selama di perjalanan, yang isinya semua tentang keindahan alam Sulawesi Selatan.

Wisata air terjun Parangloe

Hmm…, aku jadi jatuh cinta. Bukan! Bukan pada Akbar, tapi pada Sulawesi Selatan. Namun sayangnya, saat itu sedang musim panas saat kau datang ke Air Terjun Parang Loe. Debit airnya kecil, jadi air yang terjun tidak se-eksotis seperti pada foto-foto milik Akbar. Akbar mengunjungi air terjun ini pada Agustus, sedangkan aku di bulan Semptember. Namun, ini tidak mengurangi rasa kagumku pada indahnya Indnesia.

Tentang Air Terjun Parang Loe

Air Terjun Parang Loe terletak di Desa Parangloe, Kab. Gowa, Sulawesi Selatan. Air Terjun ini berada di dalam kawasan Perhutani. Jaraknya sekitar 40km dari kota Makassar dan membutuhkan waktu 2 jam dengan berkendara. Rutenya mengikuti Jalan Poros – Gowa – Malino, dan berhenti di Kantor Perhutani yang ada di desa Parangloe.

Dari titik inilah kita harus berjalan kaki sejauh kurang lebih sejauh 2 KM, melewati jalan berbatu di dalam kawasan hutan untuk sampai ke Air Terjun Parang Loe. Para pengunjung juga diwajibkan melapor ke kantor Perhutani jika sebelum memasuki kawasa hutan untuk menuju air terjun.

Air Terjun Parang Loe juga dikenal dengan nama Air Terjun Bantimurung 2. Hal ini dikarenakan aliran air sungai dari Air Terjun Parang Loe akan bermuara di Air Terjun Bantimurung yang ada di Taman Nasional Bantimurung – Bulu saraung. Selain itu Air terjun Parang Loe dengan karakteristiknya yang bertingkat ini juga dikenal sebagai Niagara-nya Indonesia.

Rute ke Air Terjun Parangloe

Sepanjang perjalanan di dalam kawasan hutan menuju air terjun, kita akan menemukan banyak sekali papan peringatan. Disana tertulis agar kita waspada pada air bah yang bisa saja terjadi secara tiba-tiba saat debiat air tinggi. Air bah ini bisa saja menelan korban jiwa, terbukti dengan adanya beberapa prasati yang menandai bahwa di lokasi tersebut seseorang telah meninggal dunia karena air bah.

Satu hal yang harus dilakukan selain melapor ke petugas saat hendak berkunjung adalah, membaca dan memperhatikan setiap himbauan yang tertera di papan peringatan.

Meskipun air terjun ini bisa saja dikatakan sebagai surga yang tersembunyi, namun tempat ini belum cocok untuk dijadikan sebagai tempat wisata keluarga. Karena aksesnya yang sulit, dan ancaman bahaya yang bisa saja mengintai, terutama saat musim penghujan.

Pete Jalur

Sumber foto; www.indonesianholic.com

Tips: Sebaiknya didampingin oleh guide lokal yang sudah memahami medan untuk meminimalisir resiko bahaya.

Foto-foto oleh Ayub.

Harmoni Kampung Baduy

Kampung Baduy

Jalan setapak itu terbuat dari batu, berundak-undak, meliuk, menghubungkan satu kampung dengan kampung lainnya di Tanah Adat Baduy. Dijalari semak, dipagari tanaman dan pohon-pohon yang menghijau. Dan sepasang kaki yang telanjang itu tak kenal lelah menyusurinya. Memanduku, membawakan ransel dan memanggul anakku.
Kami, yang ingin menikmati harmoni di Kampung Baduy, pada 28 September 2013.

Continue reading Harmoni Kampung Baduy