Tag Archives: Travelogue

Surabaya, Dari Apartemen ke Apartemen

Surabaya, 5 November 2015
Dini hari, 00.59 WIB

“Lho! Jadi bukan hotel?” tanyaku keheranan.

Aku sempat merasa tidak yakin pada apa yang dikatakan supir taxi malam itu. Dia bilang, The Square adalah Apartemen.

Sehari sebelum keberangkatanku ke Surabaya, aku memesan sebuah kamar di The Square via aplikasi Agoda di smartphone. Memang sih, di Agoda, tidak ada keterangan bahwa The Square itu jenis akomodasi seperti apa. Apakah sebuah hotel, condotel, atau guest house? Tidak ada penjelasan. Namun itu tidak begitu penting bagiku. Yang menjadi perhatian saat aku memesan kamar, adalah harga yang relative murah, ada kolam renangnya, dan sudah include breakfast.

The Square
The Square

Setelah 30 menit naik taxi dari Terminal 2 bandara Juanda, kami sampai di sebuah gedung tinggi, yang menurut supir taxi, itu adalah the Square. Aku heran. Suasananya sepi sekali. Bahkan aku tidak menemukan pintu kaca yang biasanya terdapat di bagian depan sebuah gedung hotel sebagai pintu masuk.

Yang kulihat hanyalah toko-toko yang sedang tutup di malam hari, serta sebuah coffee shop yang buka 24 jam dengan lampu-lampu temaram. Tampak beberapa bule tengah duduk menghadapi gelas kopi di atas meja.

“Pintu masuknya dimana ini?” tanyaku kepada siapa saja yang mendengar.

Suamiku yang sedang sibuk menurunkan koper dan ransel kami dari bagasi taxi tidak menjawab. Lagi pula, dia juga pasti tidak tau. Daffa’ & Abyan yang sudah lebih dulu turun dari taxi, lalu duduk di trotoar. Di antara remang cahaya lampu jalan tengah malam itu, aku bisa melihat mata mereka terpejam karena sudah tak kuasa menahan kantuk. Sementara baby Ranu, masih nyenyak dalam pelukanku.

Yang lelap dalam dekap
Yang lelap dalam dekap

Bayi yang usianya baru 2 bulan itu, sepertinya memang tak perlu pusing sedang berada dimana dan jam berapa. Selama ia merasa nyaman dalam gendongan, ia akan terus tertidur. Sesekali ia akan bangun jika lapar. Tetapi akan segera tertidur lagi saat kujejali dengan makanan yang ia butuhkan.

Setelah turun dari taxi, aku sempat mengecek baby Ranu. Kudekatkan jari telunjukku di depan lubang hidungnya. Aku sangat lega saat aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Kuselimuti lagi tubuh baby Ranu dengan kerudung lebarku, lalu aku kembali mengedarkan pandangan, untuk mencari dimana pintu masuk The Square Appartemen.

“Ibu jalan aja ke sana, nanti ada lift, ibu naik ke atas.” ujar supir taxi memberitahu. Kufikir ia tidak dengar pertanyaanku, karena tadi tidak langsung menjawab.

Kami lalu berjalan melewati lorong di antara Starbucks cafe dan pertokoan yang sudah tutup. Tepat di belakang Starbucks, ada sebuah lift yang hanya bisa digunakan untuk lalu lintas antara ground floor dan dan lantai 1 dimana terdapat lobby, poolside cafe dan kolam renang.

Salaj satu sudut ruangan lobby The Square
Salah satu sudut ruangan lobby The Square

Di lobby The Square, tampak seorang laki-laki muda duduk di balik meja resepsionis. Ia menyambutku dengan senyum. Tak mau berlama-lama, kami langsung menuju kamar di lantai 16 setelah mengurus administrasi check-in.

Di dalam kamar nomor 1617, ada dua ranjang single bad, sesuai dengan yang kuminta dalam catatan saat booking. Dua ranjang itu, cukup atau tidak, harus muat untuk kami berlima. Memang terkesan memaksa. Si kurus tidur dengan Abyan di satu ranjang. Sementara satu ranjang lagi untuk ditiduri 3 orang, Daffa’, aku & baby Ranu.

Kebayang bagaimana posisi tidur kami? Macam udang goreng yang disusun di atas pinggan. Berjejer dan melengkung.

Maklum saja, budget kami terbatas. Sehingga kami harus mencermati kebijakan setiap hotel tentang berapa jumlah anak yang boleh menginap gratis. Untungnya, The Square membolehkan semua anak dibawah umur 12 tahun menginap, tanpa dikenakan biaya tambahan.

Esok paginya, rencananya Daffa’ & Abyan akan berenang setelah sarapan di poolside cafe. Namun sayang, tidak ada kolam renang khusus anak. Dan karena kami tidak membawa pelampung, atau ban renang, jadi anak-anak gagal berenang.

Untung saja aku hanya memesan kamar di The Square hanya untuk satu malam. Setelah sarapan, aku langsung hunting hotel lagi untuk 2 malam yang tersisa. Saat hendak booking, aku memastikan lagi bahwa di hotel tersebut ada kolam renang khusus anak. Lalu pilihan jatuh pada kamar family room di Gunawangsa Manyar Hotel.

Kolam renang di The Square
Kolam renang di The Square

Setelah packing, sekitar jam 11 pagi, aku meminta tolong petugas resepsionis untuk memesan taxi. Tak lama, taxi yang kami pesan pun datang.

“Ke hotel Gunawangsa Manyar, ya, Pak!” pintaku kepada supir taxi. Kusodorkan handphoneku untuk menunjukkan alamat hotel yang kumaksud.

“Oh, di Jl. Menur Pumpungan.” kudengar supir taxi itu menggumam, sambil menganggukan kepalanya.

“Tau kan, Pak, dimana tempatnya?”

“Ya, Bu!” jawabnya dari balik kemudi. “Apartemen Gunawangsa, kan?” Sopir taxi itu lalu bertanya untuk memastikan.

Hah! Apartemen? Lagi?

“Aih, Gusti!”, Begitu Reaksi Mereka

Hiking ke Batu Lawang

Kali ini aku merasa tertipu. Kufikir aku sudah sampai di Batu Lawang ketika menemukan sebidang tanah datar di tepi jurang. Di atas tanah itu, sudah mulai terlihat panorama kota Cilegon dari ketinggian. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mengatur nafas, sembari mengecek kondisi bebe Ranu yang masih saja tertidur pulas dalam gendongan. Tetapi, belum juga rasa lelahku hilang, teman-teman yang tadinya sudah lebih dulu sampai, mengajak melanjutkan perjalanan. What, jadi kita belum sampai?

Aku menyerah. Merasa tak sanggup lagi berjalan lebih jauh. Ya, senekat-nekatnya aku, aku tentu masih bisa mengukur kemampuan, serta tau kapan aku harus gigih mencapai tujuan, dan kapan saatnya berhenti. Aku memilih menunggu di sebidang tanah datar yang kukira adalah lokasi Batu Lawang. Tetapi rupanya di tempat itu dulunya terdapat dua buah saung bambu. Katanya juga, di saung ini dulunya ada yang berjualan minuman dan snack, dan menjadi tempat yang strategis untuk menikmati pemandangan sambil. Sekarang masih tersisa bekas-bekas pondasinya saja yang bisa dilihat.

Setelah semua orang pergi melanjutkan trekking ke Batu Lawang, tinggallah aku dan bebe Ranu yang masih tertidur dalam gendongan bayi dan terbungkus selimut tebal. Di bawah pohon yang cukup rindang, kusingkap selimut tebal yang kujadikan pelindung dari angin kencang yang mungkin menerpa saat naik sepeda motor. Secara reflek bebe Ranu mengatupkan matanya semakin rapat karena sinar matahari yang menembus celah dedaunan, dan menyinari wajahnya. Melihat reaksi bebe Ranu itu, aku bersyukur karena utu berarti bahwa bayiku masih ‘bersamaku‘.

Cukup lama kami hanya berdua di tempat itu. Sesekali ada muda mudi yang lewat hendak pergi dan atau pulang dari Batu Lawang. Mereka terlihat lelah berjalan kaki. Bulir-bulir peluh mengucur di dahi dan leher. Sesekali terdengar ada yang saling menyemangati setelah langkah mereka melewatiku dan bebe Ranu.

“Ayo, semangat! Tuh, bayi aja bisa trekking sampe sini, masa kita kalah.” Begitu kurang lebih kalimat mereka yang kudengar.

Sebelumnya, kami sempat bertegur sapa jika kami saling bertemu pandang. Namun tak satupun dari mereka yang berhenti untuk beristirahat bersamaku. Sampai akhirnya ada seorang perempuan yang usianya telah menyentuh senja. Dari penampilannya, aku bisa mengenali bahwa ia adalah penduduk sekitar Batu Lawang. Ia mengenakan kaos berlengan pendek, dengan bawahan kain jarit batik. Ia membawa satu dirigen yang digendong dengan kain batik. Dan langkah perempuan itu terhenti saat melihatku dan bebe Ranu tengah beristirahat sambil menunggu suami & teman-temanku kembali.

Batu Lawang
Sulitnya mendapat air bersih di musim kemarau

“Aih, Gusti…! Sing endi irane, Nong? Ngegawe bayi neng kebon.” (Aih, Gusti…! Dari mana, Nong? Bawa-bawa bayi ke kebon.)

Perempuan tua itu menyapa dengan logat dan bahasa jawa serang yang kental. Ia keheranan melihatku bersama bayi di tempat yang amat tak lazim untuk kami. Aku hanya tersenyum. Ia lalu mendekat, sehingga kami hanya berjarak selangkah saja.

“Umur berapa bulan?” Tanyanya kemudian.

“Sebulan setengah, Bu.” Jawabku. Kulihat ia membelalakan matanya setelah mendengar jawabanku, dan mulutnya sedikit menganga.

“Aiih, bayi merah udah diajak jalan-jalan ke tengah alas. Di mana rumahnya, Nong?” Ia mengulangi pertanyaannya. Kali ini aku menjawab, setelah pertanyaan pertamanya yang hanya kubalas dengan senyuman.

Kami jadi terlibat dalam obrolan yang umum terjadi antara dua orang yang baru kenal. Namun hanya salah satu di antara kami yang antusias. Iya, perempuan tua itu sangat penasaran denganku. Bertanya soal asalku, umur bayiku, dengan siapa aku pergi, dan banyak lagi. Aku menjawab setiap pertanyaannya dengan perasaan setengah hati, karena setengah hatiku yang lain merasa ketakutan. Aku takut karena di tangannya ia memengang sebilah pisau tajam.

Agaknya, berita-berita di TV yang akhir-akhir ini banyak didominasi kriminalitas membuatku paranoid. Bagaimana jika ibu tua ini orang jahat? Bagaimana jika tiba-tiba ia menikamku lalu membawa pergi bayiku? Duh! Dalam hati aku berharap.

Cepatlah pergi! Cepatlah pergi!

Akan tetapi perempuan itu malah menyandarkan tubuhnya yang mulai renta ke batang pohon yang kami gunakan untuk berteduh. Ia nampak kepayahan dengan beban di punggungnya. Hal itu cukup bisa mengalihkan fikiran parno di kepalaku.

“Ibu bawa apa?” Tanyaku.

“Air, Nong. Lagi musim kemarau, air bersih lagi susah. Sumurnya kering.”

Mendengar jawabannya, aku jadi prihatin. Sekaligus membuatku ingat pada sosok Mak Uwe (nenekku) yang telah meninggal pada 24 Juni 2015 lalu.

Nenekku adalah tipe yang tak bisa diam berpangku tangan. Meski tubuhnya mulai rapuh termakan usia, berbagai pekerjaan masih ia kerjakan setiap hari. Bukan hanya pekerjaan rumah. Beliau bahkan masih ikut-ikutan bekerja sebaagai buruh pembungkus kerupuk di pabrik industri rumahan milik tetangga. Ya, ini juga karena faktor ekonomi, sih.

Aku ingat, dulu waktu aku masih sekolah dan tinggal bersama nenekku di kampung, saat musim kemarau, kami berdua juga harus bersusah payah mengambil air, ke sumber mata air di tengah ladang dan jauh dari rumah.

Ah, kenangan! Sekarang nenekku sudah tiada. Tapi ia tetap hidup dalam diriku. Sesekali ia hadir dalam ingatan, lewat banyak hal tak terduga yang kualami sepanjang perjalanan hidup. Termasuk kejadian hari itu, lewat pertemuanku dengan seorang perempuan tua di Batu Lawang. Kegigihannya menjalani hidup di masa tua, berhasil membuang jauh kekhawatiranku. Sehingga saat ia pergi untuk melanjutkan perjalanan pulang, aku menyadari bahwa ia bukan orang jahat seperti yang kutakutkan.

Batu lawang Cilegon
Nangka, salah satu hasil kebun sebagai sumber mata pencaharian

Tak lama setelah perempuan tua yang membawa air dalam jirigen itu pergi, lewat lagi seorang perempuan tua lainnya. Tampilannya masih sama, dengan jarit batik yang dililitkan di pinggang sehingga bentuknya menyerupai rok. Di punggungnya pun bertengger beban yang cukup berat. Namun kali ini bukan air dalam jirigen, melainkan sebuah nangka yang cukup besar. Tebak apa reaksinya saat melihatku dan bebe Ranu!

“Aih, Gustiii…! Si, Enong ngegawe bayi meng gunung!”

*****

Nong/Enong = panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa Jawa Serang/Banten

Alas = kebon/hutan