Tag Archives: Mozaik Rindu Bab 1

Ketika Aku Harus Pergi Sendiri (ke Singapura)

Salah satu kelemahanku saat ingin menulis catatan perjalanan adalah kurangnya data. Sebab saat melakukan perjalanan, aku kurang rajin mencatat.

Satu kisah yang amat ingin kutulis ulang agar layak dibaca adalah cerita asam manisnya trip ke Singapura. Baik itu perjalanan pertama saat masih menjadi single fighter bersama dua anak, maupun pada perjalanan kali kedua bersama orang-orang baru yang memberi warna baru.

Sempat terbersit doa, “Tuhan, ijinkan aku kembali lagi untuk menelusuri jejak. Memunguti kenangan. Lalu menuliskan ulang semua cerita”.

Kemudian hari-hari berganti. Agedan demi adegan dalam realita keseharian hidup sukses menenggelamkan doaku. Kukubur saja sekalian keinginan untuk mengabadikan kisah perjalananku dalam bentuk buku. Sebab semua terasa tak mungkin. Mustahil.

Sampai suatu hari datang ke padaku sebuah pesan dari Jack, temanku yang seorang relawan di Rumah Dunia. Isi pesannya berupa berita bahwa aku terpilih menjadi salah satu dari 100 peserta yang akan mendapat bimbingan Vokasi Menulis dari Kemendikbud. Salah satu agenda acaranya tentu saja traveling. Dan alangkah terkejutnya aku ketika tau bahwa destinasinya adalah Singapura!

Allah. Rupanya Dia tidak memberiku jawaban tidak pada doa lirihku dahulu.

Bukan main semangatnya aku untuk menerima tawaran beasiswa Vokasi Menulis dari Kemendikbud itu. Ini bisa jadi kesempatan bagus, fikirku.

Tetapi dilema lain muncul ketika membaca pesan lanjutan dari Jack. “Tetapi kamu tidak boleh membawa keluarga ya!” katanya melalui whatsap. Aku yang sedang bekerja di kantor lalu kehilangan konsentrasi.

Lagi. Aku harus masuk dalam sebuah peperangan. Perang batin antara Noe yang ambisius, yang tak pernah ingin menyia-nyiakan kesempatan demi mengejar cita-cita, dan Noe yang juga seorang istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya.

Haruskah aku melewatkan kesempatan ini dan tetap di rumah bersama anak-anak? Jika aku memutuskan untuk pergi, bagaimana dengan Ranu yang masih menyusu? Lagi pula, waktu pelaksaan Vokasi Menulis itu bersamaan dengan ujian kenaikan kelas anak-anak SD. Jika aku pergi, berarti aku tidak bisa mendapingi Daffa’ dan Abyan belajar selama ujian? Belum lagi pekerjaan kantor yang juga menuntut untuk dijadikan prioritas.

Ah! Tiba-tiba aku merasa tak bisa berfikir.

Ijin Suami

Hari itu aku pulang kerja dengan hati bimbang. Walau sebenarnya aku sudah memberi kepastian kepada Jack bahwa aku bersedia ikut dalam program Vokasi Menulis Kemendikbud. Ijin suami pun sudah kukantongi. Setelah puluhan menit waktu di kantor kuhabiskan untuk menelepon Ojrahar. Permohonan cuti pun sudah disetujui oleh atasanku di kantor. Seharusnya aku tak usah galau lagi kan?

Iya, seharusnya aku sadar. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah impian. Dan selalu ada konsekwensi yang harus ditanggung untuk setiap keputusan. Dalam hal memutuskan menerima tawaran Jack, maka aku harus siap mengikuti aturan main.

Jack menjelaskan, pelaksanaan pelatihan akan dilaksanakan selama enam hari. Tiga hari di Serang di Rumah Dunia, dan tiga hari sisanya untuk studi banding di Singapura. Seluruh peserta diharapkan mengikuti semua agenda acara. Dan agenda pelatihan ternyata sampai jam 11 malam setiap harinya. Aku melongo saat membaca jadwal tersebut.

Di rumah, sambil memeluk dan menyusui Ranu, aku kembali berdiskusi dengan Ojrahar. Aku masih penasaran apakah dia mengijinkan dengan dukungan penuh, atau sekadar mengijinkan agar aku senang. Sebab aku tau, lelaki yang menjadi suamiku itu sangat memahamiku. Aku yang selalu menggebu-gebu ketika menginginkan sesuatu. Dan dia yang selalu tersenyum dan memberi kekuatan dari belakang.

“Beb, ini ngga papa aku pergi?” tanyaku menyelidik. Diletakannya smartphone yang sejak tadi mengajaknya berselancar di dunia maya. Ia lalu beringsut. Menggeser tubuhnya untuk lebih dekat denganku dan Abang Ranu yang tengah berbaring di atas tempat tidur.

Tangannya perlahan menyentuh kepala Abang Ranu dan mengelus rambut tipis yang tumbuh di sana. “Ngga papa kan ya, Bang. Sama Abi nanti ya. Abang ka pinter. Ya kan, Bang!” ujarnya dengan nada bicara kepada anak-anak.

Jawaban itu membuatku menbuatku terharu. Tak henti bersyukur. Suamiku baik sekali.

Takut Mati

Sabtu, 28 Mei 2016. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun untuk menyiapkan sarapan. Aku bertekad untuk menikmati momen-momen terakhir sebelum pergi bersama keluarga kecilku. Walau hanya sesederhana sarapan bersama dengan menu seadanya.

Untuk Mamas & Kakak, aku membuatkan susu coklat kesukaan mereka. Sedang untuk Ojrahar, kubuatkan susu kalsium tinggi kalsium untuk menjaga kondisi tulangnya agar tidak semakin menurun kepadatannya. Untuk teman minum susu, ada beberapa lembar roti tawar dan selai kacang.

Perasaanku dipenuhi perasaan takut. Ada yang bergemuruh di dalam dadaku. Mataku memanas dan ada yang mulai menggenang di balik kelopaknya. Kuseka mataku sebelum genangan itu mengalir saat aku mengaduk gelas-gelas susu.

Sekali lagi aku merasakan betapa beratnya perpisahan. Aku takut pagi ini adalah pagi terakhir untuk kami bisa sarapan bersama. Aku takut terjadi hal yang buruk dan membuatku tak bisa lagi hadir di tengah mereka yang kucintai.

Sejatinya, pulang adalah tujuan akhir dari setiap perjalanan.

Perasaan itu sebenarnya sudah mulai hadir saat pertama kali aku memutuskan untuk ikut dalam program beasiswa Kemendikbud. Perasaan yang membuatku tak bisa membiarkan setiap detik berlalu dengan sia-sia. Kukurangi keintimanku dengan gadget. Kubiarkan blog terbengkalai tanpa update. Kuusahakan memasak setiap hari. Kupeluk dan kucium anak-anak kapanpun aku bisa.

Aku lakukan apapun yang terbaik, karena aku takut. Takut yang lebih takut sari biasanya. Aku takut mati dan tak bisa kembali. Takut tak bisa memeluk dan mencium mereka lagi. Takut tak bisa menyusui Ranu lagi. Takut tak bisa memasak lagi di dapurku yang sempit dan tak pernah rapi. Dapur di mana MasKa biasanya menunggu masakanku matang dengan pertanyaan-pertanyaannya yang menunjukkan ketidak-sabaran.

“Ibu, masak apa?”
“Hm…, pasti enak!”
“Udah mateng belom, Bu?”
“Berapa menit lagi matengnya, Bu?”

Bagiku, itu adalah salah satu momen terbaik menjadi ibu. Saat upaya yang bahkan sangat sederhana, tetapi diapresiasi dengan begitu tingginya. Yang bahkan walau masakan itu tak enak rasanya, tetapi tetap disanbut dengan antusias dan disantap dengan lahap.

Dan selama aku pergi, aku pasti akan menanggung rindu yang amat sangat. Rindu pada senyum Ranu juga tingkahnya yang lucu. Rindu pada Mamas & Kakak yang biasa ribut berebut mainan. Atau saat mereka berebut mencium pipiku dan mengucap kata terima kasih hanya karena aku membuatkan mereka pancake untuk sarapan.

Perasaan-perasaan itu membuatku menjadi pendiam selama beberapa hari menjelang pergi. Bahkan ketika menghidangkan sarapan di tengah para lelaki yang asik menonton siaran kartun di TV pagi itu.

“Jangan sedih gitu, Ibu! Abang Ranu ngga apa-apa kok. Kan ada Mamas sama Kakak yang bantu jagain. Ya kan, Mas, Kak?” kata Ojrahar mengingatkan. Diambilnya segelas susu dari atas pinggan lalu diseruput dengan seksama. Kakak yang sedang asik menikmati roti tawar menganggukkan kepala. Diikuti Mamas yang kemudian berpesan untuk membelikan coklat dari Singapura.

Aku tidak menemukan kesedihan di mata Mamas & Kakak. Mungkin karena mereka sudah terbiasa ditinggal traveling olehku. Iya, aku memang sering traveling dan meninggalkan anak di rumah. Tapi entah, kepergianku kali ini terasa lebih biru dari biasanya.

Diam-diam kurapal sebait doa. Bismillah. Semoga semua akan baik-baik saja.

Melupakan Kesedihan

Usai sarapan, aku memeriksa kembali barang bawaanku. Setelah merasa cukup dan tidak ada yang kurang lagi, kumasukkan semua dalam satu ransel. Lalu sekitar jam 10 pagi aku berangkat ke Rumah Dunia.

Ranu sedang tidur saat aku pergi. Aku sengaja menidurkannya lebih dulu agar aku tidak semakin sedih melihat Ranu menangis karena aku meninggalkannya. Tangisan yang biasa kudengar setiap hari jika aku hendak pergi kerja. Tangisan yang akan berubah menjadi tawa ceria saat melihatku pulang di sore harinya.

Rumah Dunia sudah mulai ramai ketika aku tiba. Beberapa peserta sudah memenuhi Solidarnos Cafe, sebuah kafe yang menjadi unit usaha untuk menyokong kas Rumah Dunia.

Aku melihat Intan bersama dua temannya dari Indramayu tampak mengobrol di salah satu meja. Mereka bertiga juga peserta Vokasi Menulis Kemendikbud utusan dari TBM Bintang Book Corner Indramayu.

Intan adalah teman yang sudah kukenal sejak awal tahun 2013. Aku langsung menghampirinya setelah turun dari ojek. Perempuan berwajah ayu itu menyambutku dengan senyum dan kami langsung berpelukan.

Ada rindu yang terlepas dalam pertemuan kami. Rindu yang tanpa kusadari telah bersarang dalam hati setelah hampir setahun kami tidak bertemu. Dan kebahagiaan bertemu Intan diam-diam membuatku lupa pada rasa sedih dan takut yang membebaniku.

Ternyata benar bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan rasa sedih pun bisa seketika berganti bahagia, saat ada sahabat yang mengelilingi.

On Fire

Pelatihan dimulai sekitar jam dua siang. Mundur satu jam dari jadwal yang seharusnya. Penyebabnya adalah karena proses wawancara peserta oleh pejabat dari Kemendikbud memakan waktu yang lama.

Di dalam gedung auditorium, Gol A Gong membuka acara. Aku dan peserta lainnya bersemangat mendengarkan orasinya tentang literasi. Dilanjutkan dengan sambutan oleh Dirjen Kemendikbud.

Sore menjelang ketika seremoni pembukaan usai dilaksanakan. Gol A Gong kembali mengambil alih acara. Ia menyampaikan materi tentang tujuan diadakannya vokasi menulis oleh pak mentri. Tentang hak dan kewajiban peserta. Tentang 100 buku yang harus ditulis oleh 100 peserta.

100 buku itu nanti akan dilaunching pada Hari Aksara Internasional (HAI) pada Oktober 2016 di Palu. Dan kabarnya, 5 orang yang berhasil menulis buku terbaik akan diajak ke Palu dalam acara launchingnya. Wah! Aku jadi makin bersemangat. Aku harus total! Tekadku dalam hati.

Langsung kutulis rencana judul bukuku di atas selembar kertas. Pena di jariku lalu menari dengan lincah. Menggoreskan kata demi kata yang berloncatan di kepala. Tanpa kusadari, aku sudah memulai menulis bab 1 untuk calon bukuku ini. Dan diam-diam, dalam hati aku melantunkan sebuah lagu.

This girl is on fire.
This girl is on fire.