Tag Archives: Honeymoon

Memoars in Penang, Kota Panjang Umur

“Penang ini kota panjang umur ya, Noe”

Lelaki kurusku berujar ketika bus yang kami tumpangi mulai memasuki kota Georgetown. Aku kurang mengerti betul apa maksudnya. Tetapi aku malas bertanya. Aku hanya mengangguk pelan. Saat itu aku tengah asik menikmati pemandangan kota Georgetown yang klasik dari dalam bus yang sudah membawa kami meninggalkan hotel di kawasan pantai Batu Feringgi.

Georgetown_Penang

Gedung-gedung tua bergaya Eropa menjadi pemikat hati di setiap ruas jalan yang kami lewati. Ada banyak jendela lebar di gedung-gedung bersejarah itu. Di setiap gedungnya, tertera 4 digit angka yang menginformasikan sejak tahun berapa gedung itu telah berdiri. Aku sampai tercengang ketika melihat sebuah gedung dengan angka tahun 1907.

Begitupun ruko-ruko yang berdiri di kanan dan kiri jalanan Penang. Yang terbayang di ingatanku adalah jajaran ruko di sepanjang Mangga Besar sampai kawasan museum-museum di Kota Tua Jakarta.

Sungguh, aku iri menyaksikan wajah kota Penang. Meski gedung ruko-ruko di penang sudah tampak berumur, namun masih difungsikan dengan sangat baik. Ada toko pakaian, minimarket, money changer, cafe, toko kue, atau souvenir. Banyak juga kulihat klinik-klinik pengobatan alternatif.

Penang

Oya, bukan kah rumah sakit dan klinik pengobatan di Penang ini sangat terkenal? Sudah banyak kudengar, orang-orang Indonesia yang menderita sakit yang sulit disembuhkan, memilih Penang untuk tujuan berobat.

Apakah ini yang dimaksud lelaki kurusku dengan kota panjang umur? Bisa  jadi! Lelakiku memang unik. Jika kebanyakan orang menjuluki Penang sebagai museum hidup, ia malah menemukan judul baru. Kota panjang umur! Mungkin selain gedung-gedung tua, ia melihat sisi lain dari Penang. Rumah sakit dan klinik? Mungkin!

Bus yang kami tunpangi akhirnya sampai di tujuan akhir. Berhenti tepat di depan lobi Hotel Jen Penang di Georgetown. Hotel ini masih satu grup dengan Golden Sand Resort, dan Rasa Sayang Spa & Resort yang ada di Batu Feringgi. Masih sama-sama Shanhri-la Group. Setiap hari, ada free shuttle bus dengan rute Batu Feringgi – Georgetown, untuk tamu yang menginap di kegita hotel ini. Kebetulan aku menginap di Golden Sand Resort, jadi tidak perlu naik bus Rapid Penang untuk sampai ke Georgetown dari Batu Fenringgi.

Komtar_Penang

Dari Hotel Jen Penang di Jalan Magazine, kami jalan kaki ke terminal bus Komtar. Jaraknya hanya sekitar 200 meter. Tak sulit menemukan terminal ini. Letaknya persis di sebelah Komtar Penang Shopping Center, sebuah pusat perbelanjaan ternama yang gedungnya terlihat tinggi mencolok karena hampir menyentuh langit.

Di terminal, sambil menunggu bus nomor 203 yang akan membawa kami ke Kek Lok Si Temple, aku memperhatikan sekeliling. Di bangku-bangku besi, di antara  banyak calon penumpang yang tengah duduk menunggu bus, terlihat beberapa lelaki dengan pakaian kumal tidur berbaring. Ini mengingatkanku pada suasana kotaku ketika malam hari. Di trotoar dan emperan toko-toko yang telah tutup, banyak gelandangan tidur begitu saja. Tanpa alas, tanpa selimut. Ternyata, pemandangan seperti itu bisa juga dijumpai di Penang.

Terminal_Komtar_Penang

Tetapi yang lebih  menarik di teminal Komtar adalah saat melihat beberapa burung dara yang terbang rendah di dalam terminal. Sesekali ia mendarat dan mematuk-matuk remah makanan yang dijatuhkan orang. Lalu saat bus mulai berdatangan, burung-burung itu terbang lagi, dan hinggap di tempat yang lebih tinggi. Di pagar, atau di atas papan informasi.

Ini kali kedua aku berada di Terminal Komtar, dan aku mulai bisa menikmati setiap detik pentualanganku di negeri asing. Tidak seperti kemarin, saat pertama aku tiba di terminal Komtar setelah meninggalkan bandara di hari pertama di Penang. Aku dan lelaki kurusku sibuk membaca peta di papan informasi, dan bertanya kepada orang-orang, harus naik bus nomor berapa untuk mencapai hotel di Batu Feringgi. Untungnya tersedia papan informasi yang memberi petunjuk cukup jelas. Bahasa lokal yang tak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia juga sangat memudahkan kami mendapat informasi.

Rute_Nomor_Bus_Rapid_Penang

Harus kuakui, sistem transportasi publik di Penang sangat nyaman. Tak ada kekhawatiran soal macet, pengamen, apalagi copet. Tertib lalu lintasnya benar-benar terasa. Bus Rapid Penang adalah prioritas di jalan raya. Pengguna jalan lainnya harus minggir ketika bus hendak melintas. Bus Rapid Penang ini juga hanya akan berhenti untk mengangkut dan menurunkan penumpang di halte bus, tak ada yang berhenti apalagi parkir sembarangan.

Uniknya, sistem pembayaran di bus rapid penang, tidak melalui kenek atau kondektur. Penumpang yang hendak naik, harus melalui pintu depan dan membayar sesuai tarif dengan uang pas karena sopir tidak menyediakan uang kembalian. Catat, dengan uang pas! Jadi, siapkan uang ringgit pecahan kecil jika traveling ke Penang. Ongkos tersebut juga tidak diberikan kepada sopir, melainkan dimasukan ke dalam box terkunci yang ada di sebelah kursi pengemudi. Untuk penumpang yang hendak turun dari bus, harus lewat pintu belakang.

Bus_Rapid_Penang

Ya, traveling di Penang memang benar-benar menyenangkan. Kultur penduduknya yang disiplin, dan lebih banyak memilih moda transportasi publik, membuat lalu lintas lancar. Tak banyak kendaraan di jalan raya sehingga memperkecil polusi udara yang dihasilkan asap knalpot. Tak heran jika banyak orang-orang berusia lanjut masih banyak yang berani berpergian sendiri dengan naik bus Rapid Penang.

*****

“Noe, kamu liat deh kakek-kakek yang duduk disana!”

Lelakiku berbisik sambil menunjuk seorang lelaki tua yang duduk di kursi prioritas untuk lansia, orang sakit, wanita hamil atau membawa anak-anak. Saat itu, kami sudah duduk dalam bus nomor 203 dari Komtar menuju Kek Lok Si Temple.

“Kenapa?” Tanyaku heran.

“Dia kan udah tua banget.  Jalan  aja udah harus pake tongkat dan ngebungkuk-bungkuk. Bayangin kalo di Jakarta, masih ada ngga yang berani jalan sendiri naik metromini atau busway gitu.”

Kata-kata lelaki kurusku itu malah mengigatkanku pada kejadian di busway setahun lalu di Jakarta. Seseorang mendorong jatuh Abyan saat ia hendak duduk di kursi kosong yang tersisa di dalam bus. Rebutan kursi antara orang dewasa dengan anak-anak!

“Kamu inget ngga kejadian kemarin?” Lelaki kurusku bertanya lagi.

“Nenek-nenek itu, ya?” Aku mencoba menebak apa yang ada di fikiran suamiku.

Penang_Kota_Panjang_Umur

Ceritanya, kemarin saat kami sedang dalam perjalanan menuju Batu Feringgi dari Komtar, di dalam bus Rapid Penang nomor 101, aku duduk di kursi prioritas. Berhubung tak ada lagi kursi lain yang tersisa, aku merasa berhak duduk di priority seat. Meski belum terlihat buncit, tetap saja aku sedang hamil, kan? Jadi aku cuek saja duduk bersamaan dengan 3 orang nenek di situ.

Beberapa puluh meter sebelum sampai di sebuah halte, masih di sekitaran Georgetown, seorang nenek berwajah oriental di sebelahku memencet bel, sebagai tanda bahwa ia ingin berhenti di halte selanjutnya. Usai memencet bel yang menempel di tiang besi di sebelah kursi tempatku duduk, kaki nenek itu menyenggol-nyenggol kakiku. Ia berbicara dalam bahasa China. Aku tidak dapat memahami apa maksudnya. Aku mulai beringsut. Mungkin ia butuh tempat duduk yang lebih longgar, fikirku.

Bus kemudian berhenti, tepat di depan halte. Nenek tua itu lalu berusaha berdiri dengan dibantu sebuah tongkat rotan di tangannya. Badannya yang sudah dimakan usia tak bisa lagi berdiri tegap. Ia berjalan perlahan menuju pintu keluar. Tepat di depan pintu, si nenek kembali berbicara dengan bahasanya. Kali ini suaranya lebih keras sambil menghentak-hentakkan tongkatnya.

Seluruh penumpang bus menatap dengan ekspresi wajah yang keheranan. Mungkin mereka juga sama sepertiku, tak mengerti apa maksud nenek itu. Tetapi beberapa detik kemudian aku mulai menyadari sesuatu.

Ya Allah, ya Tuhanku! Aku menyesali betapa lambatnya otakku untuk mengerti isyarat nenek itu. Tanpa berfikir panjang lagi, aku langsung bangkit dan menghampiri nenek itu. Begitu juga lelaki kurusku yang duduk di barisan kursi paling belakang. Fikiran kami seolah terhubung melalui telepati.

Kami berdua lalu meraih lengan si nenek, dan membantunya turun hingga ke trotoar. Dengan sabar, sopir bus menunggu kami sampai kembali naik ke dalam bus.

Ingatan tentang nenek itu, membuatku memahami bahwa Penang adalah kota yang ramah, bahkan terhadap orang-orang berusia lanjut. Ya, Penang adalah kota panjang umur.

Memoars in Penang, Me Time vs. Prime Time

Malam minggu, kata orang malam yang panjang. Seperti dalam lagu dangdut lawas yang dilantunkan oleh Jamal Mirdad. Katanya, malam minggu adalah malam yang asik buat pacaran.

Me time

Ah, aku justru malas keluar kamar. Selepas sore yang kuhabiskan sambil menikmati secangkir earl grey dan ditemani lelaki kurus di balkon kamar hotel, kami lalu menenggelamkan diri masing-masing di balik selimut tebal. Pacaran? Nggak juga. Yang ada kami malah sibuk dengan gadget.

Tetapi bukankah setiap orang memang butuh me time? Bagiku tak ada salahnya jika sekali waktu kami saling memberi kebebasan dan menghargai privasi. Sibuk dengan gadget untuk mengecek email misalnya. Update status socmed juga sah-sah saja. Atau memberi kabar kepada keluarga nun jauh di sana.

Lelaki kurus yang menjadi teman hidupku itu juga sudah sangat faham, soal apa saja yang biasanya kukerjakan saat terlihat asik dengan gadget. Menulis untuk update blog, membalas email-email penting yang kadang isinya adalah tawaran job review. Atau sekedar haha hihi di grup whatsapp dengan teman-teman. Sampai akhirnya baterai menjadi drop, dan peraturan pun mulai diterapkan.

Peraturan tak tertulis yang kubuat kadang memang terasa tidak adil. Aku cuek-cuek saja jika dia larut dengan handphonenya, selagi milikku juga masih ON. Tapi, jika baterai handphoneku sudah drop, maka ia pun harus menyimpan handphone miliknya dan menemaniku mengobrol. Haha. 😀

Dan mungkin itu adalah hal yang harus disyukuri. Bayangkan jika seorang yang kecanduan gadget sepertiku, mendapat handphone dengan baterai yang tak pernah bisa habis. Ah, bisa hancur dunia persilatan.

“Bang, udahan keleus main hape-nya!” Pintaku setelah menyambungakn handphoneku dengan casan di steker listrik.

Lelaki kurusku lalu meletakan handphone-nya di atas meja kecil di sisi tempat tidur. Sebegitu sabarnya ia menghadapi aku yang superrior.

“Mau jalan ke pantai?” Tanyanya.

Aku menggeleng. Rasanya malas meninggalkan kasur dan selimut tebal yang membuatku merasa hangat di tengah serbuan suhu dingin yang dihembuskan AC di dalam kamar.

“Tidur aja deh.” Ujarku sembari menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku yang mulai lelah.

Alunan musik ceria terdengar sayup-sayup dari arah dinning room hotel yang letaknya persis bersisian dengan bibir pantai Batu Feringgi. Aku masih bisa menangkap bias cahaya lampu-lampu taman di luar sana melalui kaca jendela dan pintu yang menjadi sekat antara balkom dan ruangan kamarku yang letaknya di lantai 2.

Lelaki kurusku pun bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela. Merapatkan tirai coklat di jendela dan pintu kaca yang semula terbuka lebar. Saatnya melepas penat. Atau…, prime time dengan lelaki kurus?