Tag Archives: Family Trip

Monkasel & Nyanyian Lagu Rindu

monkasel

Surabaya, 5 November 2015.

Aku tak menaruh curiga ketika datang seorang perempuan menghampiri kami di meja makan. Ia bahkan menawarkan bantuan untuk menggendong baby Ranu agar aku bisa makan dengan jenak di foodcourt di belakang Surabaya Plaza. Kami makan di sana setelah selesai menjelajahi Monumen Kapal Selam (Monkasel), salah satu obyek wisata terkenal di Surabaya.

Monkasel menjadi obyek wisata pertama yang kukunjungi pada trip kami sekeluarga di Surabaya. Setelah sejak kemarin kami hanya sibuk berpindah dari apartemen satu ke apartemen lainnya demi menemukan tempat menginap yang menyediakan fasilitas kolam renang anak.

Sore menjelang malam ketika kami selesai menelusuri lambung kapal selam mulai dari pintu masuk hingga keluar. Kami juga sempat menonton film dokumenter tentang sejarah kapal selam yang sekarang dijadikan monumen itu. Usai menonton, kami langsung mencari makan untuk memenuhi kebutuhan perut yang kelaparan. Maklum, seharian ini kami baru makan satu kali, yaitu ketika sarapan di The Square. Siangnya kami hanya mengganjal perut dengan roti tawar dan susu.

Tak sulit mencari makanan di sekitar Monkasel, karena lokasinya yang bersebelahan dengan Surabaya Plaza. Di Surabaya Plaza, ada banyak sekali resto yang bisa memuaskan hasrat makan. Mulai dari resto makanan Indonesia, fastfood terkenal asal Amerika, sampai resto khas Jepang juga ada. Atau jika mau yang murah meriah, foodcourt yang ada di halaman belakang Surabaya Plaza bisa menjadi pilihan bijak. Dan foodcourt itulah yang menjadi pilihan kami untuk alasan budget.

Untuk sampai ke foodcourt ini, kami berjalan lewat pintu pagar bagian belakang area Monkasel. Ada jalan yang menghubungkan Monkasel dengan Surabaya Plaza. Jalan itu bersih. Pohon palm ditanam di kanan dan kirinya. Hanya beberapa meter saja setelah melewati pintu pagar Monkasel, kami dapat menemukan foodcourt dengan menu serba murah.

Aku berusaha bersikap biasa saja, saat tersadar bahwa ada yang memperhatikanku. Dia adalah seorang perempuan yang tengah duduk dan bercakap dengan temannya di salah satu meja foodcourt. Sesekali mata kami bertemu pandang dan saling melempar senyum, saat aku berjalan dari satu kedai ke kedai lain untuk melihat menu makanan apa saja yang tersedia.

Baby Ranu sebelum kubaringkan di atas meja
Baby Ranu sebelum kubaringkan di atas meja

Usai memesan makanan, aku mengambil tempat duduk yang masih kosong. Aku memilih meja yang bersebelahan dengan seorang perempuan yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik kami itu. Ada banyak meja & kursi kosong sebenarnya. Hanya saja, kebanyakan kursi menggunakan rangka besi yang dibuat menyatu dengan meja, sehingga tidak bisa digeser-geser. Dan lagi, jarak antara kursi dan meja sempit sekali. Aku merasa tidak akan nyaman duduk di kursi model begitu dengan membawa seorang bayi.

Kebetulan di dekat perempuan itu duduk masih ada meja kosong. Di sekeliling meja itu disediakan kursi plastik untuk duduk pengunjung. Dengan pertimbangan keleluasaan bergerak, aku memilih meja itu untuk makan bersama seluruh keluargaku. Lagi pula, ukuran mejanya yang lebar bisa sekalian kugunakan untuk membaringkan baby Ranu di atasnya.

“Abang Ranu!” ujar si Kurus memanggil bayinya setelah kubaringkan di atas meja. “Pinter deh, ngga rewel diajak jalan-jalan ke Monkasel”, katanya lagi.

Baby Ranu tertawa dan mengeluarkan suara jeritan lucu. Dia memang sudah mulai bisa memberi respon jika ada yang mengajaknya bicara. Dan suara riangnya itu ternyata menarik perhatian perempuan yang duduk berseberangan meja dengan kami itu. Ia lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri kami.

“Ya Allah, arek cilik iki antengnya ee,” ujarnya ketika sampai di tepi meja. Tangannya mulai mencubit pipi baby Ranu yang membulat seperti bakpao. Aku tersenyum.

Tadi sebelum kubaringkan baby Ranu di atas meja, perempuan itu sempat menyapa kami dan menanyakan berapa usia bayiku. Aku tak keberatan menjawab rasa penasarannya, hingga akhirnya kami malah mulai mengobrol dengan akrab.

Dalam obrolan itu, ia banyak bercerita tentang cucunya nun jauh di Sidoarjo. Tak begitu jauh sebenarnya dari kota Surabaya. Hanya saja kesibukan sebagai pedagang rawon di foodcourt, membuatnya tak bisa sering-sering menengok cucu.

“Duh, jadi tambah kangen aku karo putuku aku mba.” katanya bercerita. Ditunjukannya foto cucu lelakinya yang tengah tersenyum di layar handphone¬†miliknya. Senyumnya juga manis dan menggemaskan.

“Putuku ki ya podo gendute karo arek iki.” ungkapnya lagi, sambil lagi-lagi mencubit pipi baby Ranu.

Dan karena kerinduannya pada cucu, tak heran jika ia nampak sangat bahagia saat bercanda dengan baby Ranu. Terlebih saat baby Ranu memamerkan senyumnya yang lucu, ia jadi semakin bersemangat untuk mengajak baby Ranu tersenyum dan tertawa lagi.

Melihatnya begitu, aku jadi ingat ibuku yang juga begitu bahagia setiap kali menggendong cucunya. Cucu yang menjadi pelampiasan naluri keibuannya. Sebuah pelampiasan setelah rasa kehilangan sosok kanak-kanak yang telah tumbuh dewasa dan tak bisa lagi ditimang atau dinyanyikan lagu sayang.

Sekarang aku mulai belajar memahami apa itu sepi. Memahami nyanyian rindu seorang ibu dalam sebait lagu cinta untuk sang cucu.

Yes, I am Blessed For What I Have!

sleeping ranu

Sejak dari Jakarta, si Kurus sudah mulai mengeluhkan kondisi badannya yang kurang fit. Aku tidak terlalu menanggapi. Entah lah, aku agak sulit jika harus menerima kenyataan bahwa dia sakit. Karena kalau dia sakit, siapa yang akan memanjakanku dan anak-anak?

Dini hari setelah kami check-in di The Square apartemen, dia langsung mendaratkan tubuh kurusnya di kasur.

“Gue tidur duluan, ya. Badan ngga enak banget!” keluhnya. “Sori. Ngga bisa bantu jaga dede. Mau flu, nih! Takut nularin ntar malah repot.” ujarnya lagi. Aku tetap diam, tanpa berkomentar apapun pada apa yang ia katakan.

Aku kesal. Pokoknya aku ngga mau dia sakit. Biar saja dikata egois. Aku menggerutu dalam hati.

Untung saja dia pria yang sabar. Jadi, meski kurang sehat sekali pun, dia tak pernah merepotkanku selagi masih bisa mengurus dirinya sendiri. Lagian aku juga sudah repot sama bayi. Kecuali jika sudah benar-benar tak kuat, baru dia akan meminta tolong. Seperti minta diambilkan air minum atau makanan.

Malam itu, setelah semua lelaki tertidur, aku masih belum bisa membaringkan badan. Padahal penat sudah melanda. Tetapi masih ada yang harus kukerjakan. Aku masih harus membersihkan diri dan berganti pakaian agar baby Ranu tetap nyaman tidur dan saat menyusu padaku. Kasihan kan kalau ia harus makan dari badan yang lengket dan bau karena berpeluh.

Esok paginya, Si Kurus masih belum membaik. Ia masih mengeluh pusing ditambah bersin-bersin. Dan barangkali deritanya semakin lengkap ketika aku terus cemberut saat kami sarapan di Poolside Cafe.

“Abi mah gitu orangnya. Cuek aja makan. Kenapa, sih, ngga bisa banget nyuruh aku dulu yang makan? Aku kan busui!” aku menggerutu. Egoku tetap minta didahulukan, padahal aku tau ia sedang tak enak badan.

Si Kurus yang tengah menyantap nasi goreng tampak tak peduli. Ia tetap makan dengan santainya. Mungkin karena sudah sangat terbiasa menghadapiku yang temperamen.¬†Daffa’ & Abyan duduk di kanan dan kiri abinya juga cuek saja. Mereka khusu’ menikmati semangkuk bubur ayam. Sedangkan aku tak bisa duduk dengan jenak karena baby Ranu rewel. Badannya pasti capek setelah perjalanan panjang dari Serang ke Surabaya.

Walhasil, demi menenangkannya agar tidak menangis, aku rela berdiri untuk menggendongnya, sambil berjoget a la ondel-ondel Jakarta yang hanya bisa memutar badan ke kanan dan ke kiri.

Dan setelah lelaki kurusku itu selesai menandaskan sepiring nasi gorengnya, ia mengambil alih tugasku. Digendongnya baby Ranu lalu diajak jalan-jalan ke sisi kolam renang. Baru lah aku bisa duduk dengan jenak dan makan dengan tenang.

“Gih, kalo mau makan lagi!” pintaku pada Si Kurus setelah aku selesai makan.

“Ngga, ah! Udah kenyang.” ia menjawab datar. Matanya bahkan tak mencoba menangkapku. Mungkin ia kesal karena punya istri yang lebih banyak cemberutnya dibanding senyum.

Setelah kembali ke kamar, ia langsung berbaring lagi di ranjang.

“Gue istirahat dulu. Mau tidur lagi. Dari pada ntar sakit.” katanya sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh kurusnya.

Aku menarik nafas panjang. “Jalan-Jalan…malah sakit!” gumanku. Sambil memandangi wajah baby Ranu yang sudah tertidur dan kubaringkan di ranjang, aku jadi membayangkan nasib libura ku selama di Surabaya. Tidur saja di hotel? Yang benar saja!

Sementara itu Daffa’ & Abyan tampak lesu karena kecewa. Keinginannya untuk bisa berenang harus ditunda karena abinya tak bisa menemaninya main air di kolam renang The Square.

“Yaah, ngga jadi berenang.” ujar Abyan dengan suara cadelnya. Andai saja ada kolam khusus anak, mereka tak perlu bete begitu.

“Sabar, ya! Habis ini kita pindah hotel yang ada kolam renang buat anak-anak. Sekarang nonton TV aja dulu. Tuh ada film kartun!” aku mencoba menghibur mereka. Memberi harapan baru agar tidak merasa kecewa terlalu lama. Dan menawarkan solusi serta alternatif lain untuk tetap menjaga mood bahagia agar tak pergi.

Bukankah begitu seharusnya seorang ibu? Memberi bahagia dan menghapus kesedihan di hati anak-anaknya.

Tak lama kemudian, tercipta harmoni baru dalam kamar yang hanya kami singgahi selama 10 jam. Daffa’ & Abyan yang tertawa-tawa karena menonton film kartun yang lucu. Baby Ranu yang sesekali menggeliat dan tersenyum dalam tidurnya. Dan suara tarikan nafas lelaki kurus yang tampak sangat lelah.

Tiba-tiba aku menyadari, how blessed I am for what I have. Jika bukan Daffa’ & Abyan yang menjadi anakku, yang manis dan penurut itu, entah apa dan bagaimana. Mungkin aku harus pusing karena anak-anak yang tantrum, yang mengamuk dan harus segera dituruti jika meminta sesuatu.

Entah bagimana juga jadinya, jika yang menjadi suamiku bukan si kurus Ojrahar, yang penyabar dan pandai mengantongi ego itu. Yang bisa asik seperti teman dan sahabat, namun tetap tau kapan harus menempatkan diri sebagai seorang suami. Ya, jika bukan dia, mungkin hari-hari dalam kehidupan pernikahanku akan banyak didominasi oleh perang urat syaraf.

Dan hadirnya baby Ranu di tengah keluarga kami, menambah panjang daftar alasanku untuk tetap bersyukur, bersemangat dalam hidup, dan selalu menjalani hari dengan berbahagia.

Alhamdulillah…