Jawa Barat

Susah Senang Perjalanan ke Bandung

Bandung punya kenangan tersendiri bagiku. Kota yang pernah menjadi pelarian saat putus asa soal cinta, karena seseorang yang kuharapkan tak kunjung melamar. Kota yang menjadi saksi besarnya kasih ibu, ketika aku dan MasKa tersesat di pasar pagi di daerah Jatinangor. Kurela menahan lapar tanpa sarapan, karena budget terpakai untuk menuruti keinginan anak-anak naik kuda. Kota yang akhirnya kudatangi lagi dan lagi, sebagai destinasi berlibur menyenangkan dengan orang-orang kesayangan yang telah membawaku jauh meninggalkan masa kelam.

Seperti akhir November lalu, di sisa masa cuti melahirkan yang tinggal sedikit, aku kembali ke Bandung untuk satu alasan yang sama, liburan. Meski begitu, ada yang berbeda dalam liburan kali ini. Aku tidak pergi sendirian, tetapi tidak juga bersama keluarga lengkap. Aku hanya mengajak Baby K untuk liburan hore-hore bersama Pungky si blogger ngehek dari Purwokerto, beserta adik laki-lakinya yang kuliah di Bandung, juga Jose si tekno blogger asal Bekasi. Dan tempat yang menjadi destinasi liburan kamuli bersama adalah sebuah hotel di daerah Lembang. Sandalwood Hotel namanya.

Beberapa hari sebelum berangkat ke Bandung, Pungky & Jose sempat mempengaruhiku untuk naik kereta saja dari Jakarta. Supaya bebas macet, katanya. Tapi membayangkan ribetnya naik transportasi umum dari Serang ke stasiun kereta di Jakarta, aku jadi malas. Aku sudah mantap memilih bus jurusan Merak – Bandung yang beroperasi 24 jam.

Tetapi rupanya bus-bus jurusan Bandung hari itu tak berpihak kepadaku. Di dekat pintu tol Serang Timur, aku nyaris menangis karena tak menemukan satu pun bus jurusan Bandung selama hampir 3 jam. Punggung terasa sangat pegal menunggu selama itu, sementara aku harus menggendong bayi di depan dan ransel di belakang. Bayangkan!

Belum lagi perjalanan yang harus kutempuh setelah akhirnya bus yang kutunggu datang. Sesuai yang dikatakan Jose, jalanan macet. Terutama saat mulai memasuki tol arah Bekasi. Untungnya baby K terlahir sebagai anak baik. Tidak ada tangis rewel sama sekali. Bahkan dia tidur hampir sepanjang jalan. Sesekali ia terbangun untuk menyusu, lalu tidur lagi.

Kesulitan yang sesungguhnya kualami saat bus mulai memasuki terminal Lewi Panjang. Aku kebelet pipis!Ā Bagaimana caranya aku pipis di toilet umum nanti? Kepada siapa aku percayakan Baby K sementara aku masuk kamar kecil?

Ah, tapi dari pada itu, aku lebih bingung dimana harus mengganti diapers Baby K yang baru saja poop. Karena seingatku di terminal Lewi Panjang tak ada nursing room. Namun akhirnya aku dapat ide. Setelah bus berhenti dan semua penumpang turun, aku meminta waktu kepada pak sopir untuk mengganti diapers di dalam bus.

Sayangnya, rasa kebeletku semakin menjadi setelah urusan diapers selesai. Rasanya tak mungkin menahannya sampai ke Lembang, mengingat perjalanan ke sana pun sudah pasti macet. Akhirnya dengan amat sangat terpaksa, aku membawa Baby K ke dalam kamar kecil. Jangan dibayangkan bagaimana ribetnya aku harus jongkok di bilik toilet umum yang sempit sambil menggendong bayi.

Menceritakan bagaiman perjuangan yang kulewati selama perjalanan itu, kufikir ceritaku sudah yang paling epic. Tetapi aku salah. Cerita Pungky lebih mendebarkan. Aku sendiri tak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada di dalam kereta yang berjalan pelan-pelan, di atas jalur rel yang melintasi tebing dan jurang, dengan kondisi tanah yang sedang longsor.

Aku harap Pungky mau menceritakan detilnya juga pada kalian melalui tulisan di blognya. Tentang riuh rendah suara takbir dan seruan nama tuhan karena merasa sedang berhadapan dengan maut. Atau paling tidak, tentang apa yang ia rasakan ketika itu. Karena tak seseru caranya bercerita jika aku yang menuliskannya disini.

Begitu juga Jose, dalam perjalanannya yang terkesan lancar-lancar saja, ada hal unik dan menarik untuk dikisahkan kembali. Sebab sempat aku tertawa terbahak-bahak atas kekonyolannya saat mencari bus trans Bandung jurusan Ledeng. Atau ketika ia hanya manggut-manggut saja saat PR hotel yang menyanbutnya memanggilnya dengan nama Albert, padahal itu kan bukan namanya.

Dan barangkali, itu salah satu alasan mengapa aku menyukai perjalanan. Tak pernah datar. Tak pernah hambar. Selalu ada cerita untuk dibagi.

Dan cerita selanjutnya yang ingin kutulis adalah pengalaman menginap di Sandalwood Hotel. Baca ya!

6 thoughts on “Susah Senang Perjalanan ke Bandung

  1. Ya ampun mbak, perjuangan banget tuh ya bawa anak sendiri dan kebelet pipis hingga sampai dibawa anaknya ke dalam. Hehehe. Keren deh mbak, pasti ga bakal di lupa ceritanya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.