Air Asia Blog Contest

Supir Yang Gagal Irit

Mungkin terdengar terlalu mainstream jika aku katakan bahwa Air Asia telah mengubah kehidupanku, dari yang semula emak-emak biasa, menjadi emak-emak traveler. Sekarang biar aku mencoba membuatnya menjadi lebih unik. Air Asia telah mengubahku menjadi seorang supir! Supir?

Air Asia 3

Supir, alias suka mampir

Minggu, 24 Agustus 2014. Tepat pada hari ketika aku berikrar untuk stop membeli tiket promo sementara waktu, karena sedang ingin merencanakan kehamilan anak ketiga, Air Asia justru kembali membagi-bagikan free seat untuk member Air Asia BIG. Dan untuk kesekian kalinya, aku kalah! Tiket rute CGK – SIN, dan KUL – BTJ untuk terbang Maret 2015 pun masuk kantong dengan menukarkan 0 BIG point Air Asia. Dan saat ini aku sedang sangat excited, sehingga dalam hati aku terus berseru; “Sabang, tunggu aku ya!”

Jika melihat lagi bagaimana aku merencanakan perjalananku ke Sabang, aku kembali teringat beberapa perjalananku bersama Air Asia yang sudah terlewati. Untuk mencapai satu tujuan utama, aku bisa singgah terlebih dahulu ke beberapa tempat lain. Dan karena kebiasaan ini, salah seorang teman sampai menjuluki aku sebagai supir, alias suka mampir. Tapi bagiku, ini pilihan cerdas.

Pada prinsipnya, aku hanya memilih cara paling murah untuk mencapai tujuan. Karena kadang rute yang kita inginkan tidak termasuk dalam rute promo Air Asia. Misal, ingin pergi ke Bali namun tidak ada promo free seat untuk rute Jakarta – Bali. Maka, mau tidak mau aku harus mencari rute lain yang paling mungkin selain dari Jakarta, asalkan tetap murah.

Mampir di Jogja setelah dari Bali

Mungkin ini terlihat tidak efektif. Bayangkan, untuk pergi ke Bali dari Jakarta, harus menuju Bandung terlebih dahulu baru terbang ke Bali. Dan sebelum meninggalkan Bali, singgah dulu ke Jogjakarta, baru kemudian pulang ke Jakarta. Apakah itu cara termurah? Jawabanku, ya! Berikut adalah rincian rute dan biayanya;

  • Jakarta – Bandung, 10 Desember 2013: IDR60.000,- (Bus)
  • Bandung – Bali, 10 Desember 2013: IDR45.000,- (Air Asia)
  • Bali – Jogjakarta, 13 Desember 2013: IDR160.000,- (Air Asia)
  • Jogja – Jakarta,14 Desember 2013: IDR55.000,- (Kereta Api)

Ini berarti biaya transportasi pergi pulang Jakarta – Bali hanya berkisar di angka 300 ribuan. Murah sekali bukan? Atau, bagaimana dengan biaya transportasi yang harus aku keluarkan untuk bisa sampai ke Aceh dengan promo free seat Air Asia kali ini? Let’s check it out!

  • Jakarta – Singapura, 28 Maret 2015: IDR117.000,- (Air Asia)
  • Singapura – Johor Baru, 29 Maret 2015: SGD2 / sekitar IDR20.000 (Bus)
  • Johor Baru – Kuala Lumpur, 29 Maret 2015: MYR35 / sekitar IDR129.500 (Bus)
  • Kuala Lumpur – Banda Aceh, 31 Maret 2015: MYR60 / sekitar IDR222.000 (Air Asia)

Jadi, total biaya yang harus dikeluarkan untuk Jakarta – Banda Aceh (one way) tidak sampai 500 ribu rupiah. Angka itu tentu jauh lebih murah dibandingkan direct flight dari Jakarta ke Banda Aceh. Sudah murah, mampir-mampir lagi. Jadi ingat peribahasa dari jaman sekolah dulu, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Gagal Irit

Kadang terdengar menggelikan. Untuk traveling ke Banda Aceh yang masih di wilayah Indonesia, aku harus menempuh rute fantastis. Yaitu harus mampir ke dua negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Meskipun ongkosnya murah, namun rute ini tentu membutuhkan biaya tambahan seperti akomodasi dan biaya makan selama transit. Belum lagi ditambah dengan biaya tiket masuk wisata jika mampirnya bukan hanya sekedar melihat patung Merlion di Singapura. Melainkan sekalian nonton film di Universal Studio.

Bicara soal gagal irit ini mengingatkan aku pada perjalanan road trip Asean bulan April 2014 lalu. Selama 9 hari aku mengunjungi beberapa kota di 4 negara, yaitu Malaysia, Thailand, Kamboja dan Vietnam. Untuk menghemat waktu, aku menggunakan pesawat untuk berpindah dari satu negara ke negara lainnya. Dan semua tiket yang aku gunakan itu aku beli dari Air Asia pada saat promo free seat tahun 2013.

Meskipun tiketnya seharga 0 rupiah, dan aku hanya mengeluarkan uang untuk membayar air port tax, namun tetap saja aku menghabiskan uang dalam jumlah yang tidak sedikit untuk biaya makan, hotel, dan tiket-tiket masuk wisata. Ini yang aku sebut gagal irit.

Tetapi menurutku ini hanya soal pilihan. Jika tak ingin mengeluarkan uang, ya berdiam diri saja di rumah. Namun jika ingin melangkah dan melihat dunia, tentu kita harus tau konsekwensinya. Itulah mengapa perencanaan itu penting.

Dan sebenarnya, promo Air Asia memberi lebih dari sekedar tiket murah. Periode terbang tiket promo yang biasanya untuk digunakan setahun kedepan, memberi kita jeda waktu yang cukup panjang untuk mengumpulkan informasi, membuat perencanaan, menyusun itinerary, budgeting, dan yang paling penting, menabung!

By the way, aku belum beli tiket untuk pulang dari Banda Aceh ke Jakarta. Berharap ada next promo dari Air Asia untuk rute Medan – Jakarta. Nah, dari Aceh mampir lagi deh ke Medan. Ada yang ikut mampir-mampir bareng aku? Yuk ah, beli tiketnya! Mumpung Air Asia masih promo tuh.

2 thoughts on “Supir Yang Gagal Irit

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.