Supir Taxi Itu Ternyata Seorang…

Driving a car

Terminal 2 bandara Juanda – Surabaya.
Kamis, pukul 00.17 WIB

“Taxi kami lagi fully booked, Mbak,” kata petugas taxi blue bird saat aku memesan taxi. “Kalau Mba buru-buru, naik taxi yang lain saja,” ujarnya lagi sambil tersenyum ramah.

Naik taxi lain selain blue bird? Duh! Kok aku jadi parno, ya! Masalahnya aku pernah beberapa kali dikerjain supir taxi. Ada yang sengaja ambil jalan memutar sehingga lebih jauh, atau ambil jalur macet supaya angka di argonya bisa lebih besar.

Pernah juga ada pengalaman unik ketika di Bandung. Akhir tahun 2013, di terminal Lewi Panjang. Ketika itu aku sedang dikejar waktu menuju bandara Husein Sastranegara. Mau naik angkot, takut ngga sempat. Akhirnya aku memilih taxi. Kebetulan, di dalam kawasan terminal itu banyak taxi yang sedang mangkal. Warna taxinya kombinasi kuning dan hijau. Entah merk apa.

Sebelum naik, aku mencoba menanyakan tarif. Apakah pakai argo, atau tembak tarif. Supirnya langsung menyebutkan angka. “Tujuh puluh ribu,” katanya. Aku mencoba meminta agar pakai argo saja, tetapi ditolak. Mungkin karena jaraknya terlalu dekat. Jadi, OK, lah. Aku setuju saja, dari pada terlambat dan tertinggal pesawat ke Bali.

Dan yang membuat kesal adalah ketika kami sudah tiba di bandara. Supirnya minta ongkos dua kali lipat. Dia bilang, 70 ribu itu adalah ongkos per orang. What! Ini taxi atau angkot sih?

Aku dan si kurus sempat ngeyel. Tak mau membayar dua kali lipat seperti yang diminta. Supir taxi itu pun bersi kukuh. Kami jadi terlibat adu mulut. Setelah beberapa menit berlalu, dan tak ada tanda supir taxi itu mau mengalah, akhirnya si kurus mencoba membuat win-win solution.

“Gini aja deh, Pak. Ini saya kasih seratus ribu. Udah, ya, saya buru-buru.” ujar suamiku. Ia lalu menarik lenganku, mengajak berjalan cepat meninggalkan supir taxi yang masih tampak kesal. Mungkin sama kesalnya denganku yang merasa ditipu dan dikerjai.

Pengalaman buruk dengan supir taxi itu lah yang membuatku enggan untuk naik taxi jika bukan taxi kenamaan yang sudah terpercaya. Tetapi menunggu terlalu lama di bandara Juanda, sampai datang armada taxi blue bird pun bukan ide bagus.

Apalagi pundakku rasanya sudah pegal-pegal karena kelamaan menggendong baby Ranu. Juga setelah drama baby Ranu rewel selama di pesawat tadi. Dan lagi, hari sudah larut. Aku ngantuk. Mamas & Kakak juga. Aku butuh cepat-cepat sampai ke kamar hotel yang sudah kupesan via agoda, last minute sebelum terbang dari Soeta ke Juanda.

Malam itu, suasana bandara Juanda tetap ramai meski sudah dini hari. Di area kedatangan, supir-supir taxi masih bersemangat menawarkan jasanya. Mereka menghampiri setiap penumpang yang baru saja tiba. Dan aku beserta keluarga adalah salah satu yang menjadi sasaran mereka.

“Taxi, Bu, Pak!” salah seorang supir taxi menghampiri kami di depan stand taxi blue bird.

“Pakai Argo?” tanyaku menyelidik.

“Saya taxi Avanza, Bu. Ibu mau kemana?”

“The Square. Berapa?”

Aku menyodorkan smartphone, menunjukkan alamat yang ingin kutuju. Lelaki yang usianya tampak 40-an itu mengernyitkan dahi saat melihat ke layar handphone. Tak lama, ia mengangguk dan menggumam sendiri.

“Ho…iya, saya tau ini. Jalan Siwalankerto,” katanya. “Seratus lima puluh, Bu.” jawab supir taxi membuka harga. Aku tidak langsung setuju.

Saat masih di Soeta, aku sempat menelepon reception The Square Hotel. Aku bertanya berapa biasanya ongkos taxi dari bandara ke The Square. Kata receptionist, ongkosnya sekitar tujuh puluh ribu. Tetapi saat kucoba menawar di angka tersebut, supir taxi menolak. Terjadilah proses tawar menawar, dan akhirnya kami deal harga sebesar seratus ribu rupiah.

Tanpa menunggu lama lagi, kami langsung menuju hotel dengan Avanza yang sebenarnya adalah mobil keluarga dan dijadikan taxi gelap. Kukatakan demikian karena plat nomor mobilnya berwarna hitam.

Jujur saja, aku agak ngeri. Teringat berita-berita kriminal tentang taxi gelap dari TV. Aku juga teringat pengalaman buruk dikerjai taxi gelap di terminal Bungur Asih – Surabaya setahun lalu. Saat itu aku sedang mencari bus damri untuk menuju bandara Juanda. Seorang lelaki yang kutanya dimana lokasi bus damri mangkal, memintaku mengikutinya.

“Ayo, Bu! Saya antar saja. Damri-nya ada di sebelah sana.” katanya sambil menunjuk ke salah satu arah.

Entah kenapa aku nurut saja waktu itu. Sampai akhirnya lelaki yang kubuntuti berhenti di parkiran mobil. Aku mulai curiga.

“Lho, damrinya mana?” tanyaku.

“Jam segini damri sudah habis, Bu. Saya anter aja pakai Avanza.” jawabnya berkilah.

Aku merasa ditipu. Aku marah dan mengomel. Mana mungkin bus damri sudah tidak ada saat hari masih siang menjelang sore. Matahari saja masih jumawa, kok. Biasanya juga damri beroperasi sampai malam. Setidaknya sampai magrib lah.

Aku lalu berniat untuk ambil angkah seribu, tetapi gagal. Gara-gara lelaki yang ternyata supir taxi gelap itu memelas padaku.

“Tolong, Bu. Saya butuh uang buat lebaran,” katanya. Mendengar ia memohon, hatiku luluh. “Ongkosnya samain aja deh sama damri,” imbuhnya lagi.

Dan akhirnya aku naik juga ke mobilnya. Meski dengan perasaan kesal yang sulit kuhilangkan. Aku cemberut sepanjang perjalanan menuju bandara Juanda. Apa lagi saat kami sampai di bandara dan sopir itu bilang tak punya uang kembalian. Ah, modus basi! Fikirku.

Dan sekarang aku takut jika kejadian menyebalkan akan terulang lagi dengan taxi yang sedang kutumpangi. Tetapi kemudian rasa khawatir itu hilang saat aku mengetahui sebuah fakta yang cukup mengejutkan.

Ternyata sopir taxi yang sedang mengantarku menuju The Square Hotel itu adalah anggota TNI AD.

Berawal dari obrolan basa basi untuk mencairkan suasana. Sopir taxi itu bertanya aku naik pesawat apa. Tujuanku di Surabaya untuk apa. Ia juga menanyakan dari mana asalku. Saat mengetahui bahwa aku berasal dari Banten, ia langsung teringat pada acara HUT TNI bulan lalu, yang digelar di dermaga Indah Kiat Cilegon. Ia lalu bercerita bahwa kantor tempat ia bekerjaa juga mengirimkan beberapa regu untuk mengikuti perayaan HUT TNI waktu itu.

“Lho! Bapak ini TNI, tho?” tanyaku dengan nada terkejut. Ia lalu menyalakan lampu di dalam mobil dan menunjukkan identitasnya. Seketika itu aku merasa aman. Tak ada lagi rasa khawatir akan dikerjai sopir taxi, seperti yang sudah-sudah.

“Gajinya masih kurang tho, Pak?” aku berseloroh agak lancang.

“Lumayan lah, Bu, buat tambah-tambah. Anak saya kan ada dua,  dan lagi kuliah smua. Butuhe akeh.” ungkapnya tampak jujur.

Salut. Ternyata masih ada sosok TNI pekerja keras dan membumi. Siang menjadi abdi negara, dan malam berubah menjadi rakyat biasa. Menanggalkan segala atributnya sebagai aparat TNI, untuk mencari tambahan penghasilan sebagai sopir taxi. Sosok yang jujur dan tidak menutupi jati diri, tanpa ada sedikit pun gengsi. Dan dengan begitu – sekali lagi – aku merasa aman.

Mungkin seperti itulah seharusnya TNI, hidup berdampingan dan dekat dengan rakyat.

52 thoughts on “Supir Taxi Itu Ternyata Seorang…”

    1. Terima antar jemput bandara atau terminal, stasiun dan jasa antar kota hub:082132743133 atas nama mohammad harga di jamin murah

  1. Boleh tanya mbak. Taksi resmi dari terminal bunguarsih ke bandara berapa ya?… Hehe,,, maklum baru pertama kali ke surabaya. Soalnya pesawat kami berangkat jam 07.15. 1 jam sebelumnya damri belum ada.

  2. Saya baru saja jadi TG (Taksi Gelap) dibandara juanda.. Jika ada yg butuh jasa antar jemput di/ ke badara juanda bisa hubungi saya di no hp : 081335544868
    Tanya2 seputar tarif silahkan..
    Nanti saya kasih murah
    Terima kasih…

  3. kalau di Bandung, saya gak berani naik taxi. Ya gitu deh, taxinya banyak yang nakal udah gitu banyak yang butut. Beruntunglah sekarang di Bandung udah ada Blue Bird. Walopun belum pernah juga saya naik Blue Bird di Bandung. Tapi setidaknya kalau suatu saat butuh taxi mending Blue Bird aja, deh

    Itu TNInya bikin salut. ya 🙂

      1. TNI nya standar ganda, malam jadi supir, melepas atribut, kalau pas ada masalah, eh TNI nya kebawa-bawa. Seharusnya kalau bukan jam dinas itu menjadi tanggung jawab pribadi bukan institusi lagi, kalau ada masalahpun jangan bawa-bawa kesatuan, itu namanya standar ganda dan tidak fair.

  4. Noe aku gak berani ambil resiko dengan taxi yang tidak punya nama (gak tahu klo case nya seperti Noe, buru-buru dan tidak punya pilihan lain).

    Semoga kita semua selalu dilindungi-Nya ya, semoga orang yang suka menipu dengan bermodalkan kendaraan dan menaikan tarif sesukanya tidak ada. Duh wise banget subuh begini komentar.

    Salam buat baby Ranu

  5. Mirip2 sopir taksi di SUly, Mbak. Di sini sih emang taksi beneran, legal. Dan rata2 yg jadi sopirnya itu bukan pure nyopir. Ada yg guru, jd klo jam ngajar selesai dia naksi. Ada yg tentara juga, soale tentara di sini ga ada kerjaan katanya hahhaa, jd biar tetep ga nganggur ya sambil naksi. Ada lagi yang ternyata temen kantor suamiku. Ya ampuuun, nggak malu loh. Malah pas di kantor nyapa suamiku duluan. Padahal ya jam kerjanya sampe sore, tp masih mau naksi malemnya. Salut. :)))

    1. Lain ladang lain belalang ya… Sukaa dsh baca ceritamu soal budaya di Sulaymanah ttg sopir taxi, tentang kembalian yg oper2an, dll 🙂

  6. ah, trnyata ending ceritanya menyentuh yaa :).. Aku yg tdnya udh mw nulis yg jelek2 soal taxi selain bluebird, jd ga tega :D.. tp jujur aja, aku ampe skr blm berani mba naik taxi2 gelap bgitu… kecuali kalo ditemenin suami kali ya… kalo sndiri, ga deh… mnding mnta jemput kalo bluebird trnyata fully booked ;p

  7. Banyak dikecewakan oleh taksi ya, Mbak. Ceritanya pada bikin ngernyitin kening. Kalau aku bs bete bgt itu. 😀
    Anyway, salut utk Bapak supir taksinya yg tdk gengsi demi anak2nya.

  8. Baru juga kemarin saya kena dikerjain supir taksi. Dibawa puter2, pdhl lokasinya cuma 10 menit dari stasiun, hadeuuuh… Kalo buka taksi BB, emang harus hati2 sih. Bukan cuma sekali, tp udah sering mereka pura2 ga tau tempat lalu muter2 biar argonya banyak.

  9. Di juanda, dikuasai taksi prima, koperasi taksi juanda, taksi merk lain ga boleh masuk.. Tapi banyak juga kok taksi avanza gitu.. Aman kok 😀

  10. Wah, salut sama bapaknya. Nggak gengsi cari tambahan halal meski anggota TNI. Kalau di Surabaya sudah ada Uber mungkin dia bisa join tuh. Btw kalau nggak dapet Blue Bird di Juanda bisa pesen taksi bandara, mbak. Ada counter khususnya. Bayar langsung di loket. Ya lebih mahal dari pake Argo sih biasanya dan armadanya juga mobil lama tapi setidaknya mungkin lebih aman.

  11. Salut pak TNI mau cari cara halal bt tambahan.
    Aduuh jujur bacanya aku deg degan mbak. Dg beberapa pengalaman buruk seputar taxi sblmnya aku udah suudzon aja klo kali ini bakal dikerjain juga.
    Alhamdulillah legaa…happy ending

Leave a Reply to Haya Aliya Zaki Cancel reply