Sunset, Keindahan di Antara Kemacetan Jakarta


Jalan-jalan di sekitaran Thamrin dan Sudirman, hari Jum’at lalu, 22 Mei 2015, memberiku kenikmatan tersendiri, meskipun capek jalan kaki. Kenikmatan itu adalah indahnya matahari yang mulai merah menjelang terbenam di langit bagian barat.

Sunset Jakarta

Petualanganku bersama Daffa’, Abyan, dan lelaki kurus, dimulai ketika kami sudah selesai dengan urusan pengambilam hadiah di MNC Tower. Dari MNC Tower, sekitar jam 2 siang, kami jalan kaki ke Monas. Ingin hati bisa naik ke puncak Monumen Nasional, tapi sudah kesorean. Ketika kami sampai di Monas, jarum pendek di tanganku sudah menunjuk angka 3. Loket masuk ke tugu Monas kan tutup jam 3 sore. Next, mesti balik lagi.

Dari Monas, kami baik bis tingkat (Free Shuttle Bus) ke Bundaran Hotel Indonesia. Kami menghabiskan waktu cukup lama di jembatan penyebrangan. Hari sudah menjelang sore, jamnya para karyawan kantoran pada pulang. Nggak heran sih kalo jalanan terlihat macet. Selain memperhatikan jalanan, kami juga asyik mengambil foto patung selamat datang di bundaran HI. Ini untuk pertama kalinya aku mbolang di HI. Merasa get amazed juga! Secara selama ini cuma liat di TV, atau cuma lewat doang kalo pas naik busway.

Ketika hari sudah mulai menuju senja, kami memutuskan untuk pulang ke Jati Bening, Bekasi. Dan kami enggan naik busway, karena harus beli kartu busway seharga 40 ribu itu, maka kami mulai menjalankan sebuah ide gila. Kami memutuskan jalan kaki dari Bundaran HI sejauh kurang lebih 2 kilometer sampai ke Under Pass Kuningan. Sebuah perempatan besar yang menjadi tempat bertemunya Jalan Jend. Sudirman, dengan Jl. Prof. DR. Satrio & Jl. K. H. Mas Mansyur. Terbayang betapa capeknya ibu hamil ini?

Backpacking Jakarta

Dari perempatan inilah kemudian kami naik APTB ke Jati Bening. Alhamdulillah, akhirnya bisa bobok cantik di dalam bis berpendingin udara. Tetapi selama jalan kaki, kami banyak berhenti untuk mengambil foto, atau istirahat sambil jajan dan minum. Getuk lindri adalah salah satu jajanan yang mbikin inget masa kecil di kampung. πŸ˜€

Getuk Lindri

Dan seberapapun capeknya, hati ini rasanya puas karena sepanjang jalan kami mendapat panorama sunset yang manis. Matahari merah dan bulat itu berulang kali menyita perhatian kami. Ia seolah mengajak main petak umpet di antara gedung-gedung pencakar langit yang tersebar di tengah ibu kota. Kadang matahari merah dan bulat itu bersembunyi di balik gedung, kadang ia menampakkan diri di sela-selanya.

Hmm… Ternyata, sunset kece itu ngga cuma kalo pas lagi di pantai aja ya. Nah, kamu yang tinggal di Jakarta, pernah iseng hunting sunset di tengah kota ngga?

22 thoughts on “Sunset, Keindahan di Antara Kemacetan Jakarta”

  1. Mau getuk lindrinya~~ πŸ˜€ Namanya juga jakarta, kalau enggak macet ya bukan jakarta. Tapi memang bener, kalau jakarta itu sunsetnya kadang bisa cakep πŸ™‚

    1. Ambil aja getuknyaaa.. Hehe, yoi, jakarta dg kemacetannya, tetapi jg lengkap dg segala pesona dan daya tariknya πŸ˜€

  2. Mbak Noeeee, tau gitu kemarin balik dari MNC akuh ikut ngintilin yaaaah sebelum ngampus hihihi.
    Salam buat kucril kucril itu yah dua jagoaaan hihihi.
    Salam dari kakak Tari πŸ™‚

  3. iya mbaaak, sunset itu bisa pake banget dinikmati di jalan sepulang kantor…klik keludian uplit deh IG unt berbagi keindahan sunset. duh damainya hidup ini yak πŸ™‚
    btw lg hamil menikmati oemandangan kira2 capeknya brasa gk sih mbak? hehehe

    foto2 sunsetnya baguuussss

  4. wow..keren bangett sunsetnya…jalan 2 km??gmn raanya mak??xixixixi..tapi salut sama anak2 ya,enjoy bangettt..nurut tuh jiwa petualangnya hahaha

Leave a Reply