World of NOE

Social Shopping & Berbagai Problematikanya

Sawah di Batubulan, Bali

Sudah jadi kebiasaan kalau mau traveling pasti ada yang harus dibeli. Perasaan kok ada aja traveling essential yang kurang. Entah tiba-tiba sadar kalau ransel rusak lah. Butuh tripod untuk kamera lah. Atau butuh beli sepatu dan sendal baru buat anak-anak yang kakinya cepet banget membesar.

Terlebih setelah ada bayi. Ada aja yang harus dibeli. Mulai dari baby carrier yang nyaman, sampai printilan kayak minyak telon dan sabun-sabun bayi ukuran mini.

Dan sebelnya, semua hal yang kurang-kurang itu baru aku sadari kalau waktunya udah mepet. Lalu merasa sok sibuk dan malas pergi ke toko atau ke mal untuk cari barang diperlukan. Di saat-saat seperti itu aku langsung kepikiran belanja online aja.

Sejauh ini tempat belanja online paling favorit adalah e-commerce. Tempat yang menurutku paling aman untuk transaksi. Ada jaminan kemanan pembayaran dari platform-nya, pilihan penjual ada banyak, dan cara pembayarannya pun ada banyak. Bisa lewat ATM, indomaret atau alfamart, SMS atau internet banking, juga dengan kartu kredit.

Berbagai kemudahan itulah yang jadi alasan mengapa aku lebih milih belanja online di e-commerce dibanding di instagram. Padahal kadang suka kegoda juga belanja di IG karena barangnya unik-unik. Terutama kalau liat baju-baju bayi.

Malesnya belanja di IG tuh harus transfer ke ATM itu lho. Trus kalo udah transfer mesti repot nanyain apakah transferan udah dicek atau belum, udah masuk atau belum. Habis itu meati deg-degan kapan barsng dikirim. Lalu mau ngga mau sebagai konsumen yang takut ditipu, aku jadi orang nyebelin karena nanya-nanya terus.

By the way, dulu aku juga pernah jualan online di BBM. Dulu, jaman blackberry masih jadi primadona. Aku juga merasakan hal-hal yang tadi aku ceritakan. Ribet ngecek mutasi rekening satu per satu. Makan waktu. Kalau lagi laris, jadi tambah pusing karena yang tanya-tanya transferan udah masuk apa belum ngga cuma satu dua orang. Pusing.

talk-show-social-shopping

Hal serupa juga diungkapkan oleh mba Oline dalam talkshow bersama Uangku tentang Social Shopping. Mba oline adalah pemilik olshop Aura Batik. Dia mengaku suka pusing harus cek mutasi rekening, ditambah pertanyaan-pertanyaan dari pembeli yang sebenarnya sudah tertera jelas di keterangan produk. Namanya juga dunia social shopping ya, di mana “pembeli adalah raja” tetap berlaku. Sebagai penjual kita memang harus sabar dan tetap ramah. Been there, mba. Bedanya aku berenti di tengah jalan dan dikau maju terus pantang mundur. Salut.

By the way, social shopping itu apa sih?

Selama ini kita mengenal belanja online sebagai solusi praktis supaya ngga usah lagi repot keluar rumah dan menghabiskan banyak waktu atau tenaga untuk belanja di pasar/supermarket/toko.

Tanpa kita sadari, sebenarnya kegiatan belanja online yang biasa kita lakukan itu bisa jadi adalah social shopping.

social-shopping

Pernah belanja online lewat instagram? Atau BBM? Atau facebook? Kalau jawabannya pernah atau bahkan sering, berarti kalian adalah pelaku social shopping.

Tetapi, kalau kalian lebih suka belanja di e-commerce seperti tokopedia, bukalapak, lazada atau mataharimall, berarti sama kayak aku. Aku lebih suka belanja di e-commerce karena ada jaminan uang kembali kalau seller ngga kirim barang.

Nah, kalau beli lewat olshop di instagram, siapa yang jamin barangnya akan dikirim setelah kita transfer uang?

What No One Tells You About Social Shopping

Ceritanya, pada Sabtu 29 Oktober lalu, aku mengikuti blogger gathering yang diadakan oleh Uang dan Blogger Perempuan. Ada talk show tentang social shopping, sekaligus soft launching Uangku. Uangku adalah e-money pendatang baru yang menawarkan solusi untuk kemudahan dalam berbagai transaksi social shopping.

Sebelum talkshow dimulai, ada presentasi tentang apa itu Social Shopping dan banyak hal yang tidak kita ketahui seputar shopping.

fanny_uangku
Fanny Verona, Marketing Director Global Pay Indonesia

Presentasi disampaikan oleh Fanny Verona. Fanny adalah Marketing Director dari Global Pay Indonesia.

Saat ini, ada 2,7 juta transaksi terjadi setiap harinya melalui social shopping.

Angka yang cukup fantastik jika mengingat resiko yang tinggi. Seller di e-commerce saja ada yang coba-coba nakal kirim batu bata ke pelanggan yang beli hape. Inget ngga kejadian yang sempet viral itu? Untungnya di e-commerce kan, pembeli bisa komplain dan masalah bisa diselesaikan. Karena kan, pihak e-commerce baru akan meneruskan uang pembayaran kepada seller kalau barang sudah benar-benar diterima oleh pembeli.

Jadi itu yang bikin nyaman belanja di e-commerce tuh gitu tuh. Berbeda dengan proses transaksi social shopping yang beresiko seperti pada gambar berikut:

flow-social-shopping resiko-social-shopping

Tetapi, dengan resiko yang tinggi pun social shopping tetap ramai ya. Padahal, ngga ada satu pun undang-undang di Indonesia yang bisa menjadi payung hukum kalau terjadi penipuan pada transaksi social shopping. Baik penipuan itu dilakukan oleh seller maupun oleh buyer.

Emang buyer bisa nipu?

Bisa banget. Ada loh yang bikin bukti transfer palsu pake Photoshop. Niat banget ya! Huhuu.

Lalu, adakah solusinya?

Ada. Dan karena itu lah Uangku hadir. E-money yang menjadi solusi untuk banyak jenis transaksi pembayaran online. Selengkapnya tentang Uangku nanti aku tulis terpisah. Sekarang mau cari barang dulu di olshop karena weekend ini perlu hadir di event blogger lintas negara, dan aku ngga punya baju untuk gala dinner yang pake dress code.

16 thoughts on “Social Shopping & Berbagai Problematikanya

  1. waduh saya juga pelaku social shopping nih, baru-baru ini mulau jualan pake sistem pre order gitu tapi insyaallah saya amanah. Tapi serius beneran pegel and capek melayani calon pembeli yang nanya ini itu pengennya udah diinput semua barang dan speknya di tokopedia atau bukalapak jadi semuanya bisa dilihat disana, ga harus dijawabn satu-satu.

    Makasih kakak besok bs ni pakai Uangku

  2. Kalo aku belum pernah belanja lewat IG, Bbm, atau FB langsung, takut resiko juga sih. Kecuali memang sudah kenal betul buyernya, biasanya kontak langsung tapi nggak lewat socmed. Pernah belanja lewat IG tapi lewat temen (menghindari resiko juga), jadi dia yang menjadi perantaranya šŸ˜€ Lebih sering belanja di e-commerce, insha Alloh aman dan nggak pake ongkir tambahan. Hahahaha #inibagianyangpentingnya

    1. Hihi… aku pernah belanja via BBM pun FB. Ig yg blm pernah. Berani via bbm pun krn kenal baik sm penjualnya šŸ˜€

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.