Singapore, Traveling

Singapura dan Kenangan

Abyan mulai memunguti kenangannya sejak iringan langkah kaki kami memasuki gedung bandara Changi yang megah. Berkali-kali aku tersenyum menanggapi celotehnya. Tentang Tante Pungky, seorang sahabat blogger yang beberapa bulan lalu mengajaknya keliling Singapura serta ke Legoland di Johor Baru. Tentang jalan-jalan mana yang ia lewati, tentang kenangan.

Skytrain Bandara Changi Singapura

Sambil kugandeng tangan kecil Abyan, kami berjalan mengikuti arus menuju loket imigrasi kedatangan di negeri singa. Kusaksikan lagi interior mewah bandara Changi, sign board, eskalator-eskalator, lantai-lantai berkarpet tebal, indoor thematic garden, kursi pijat dan bangku-bangku, serta banyak elemen lain yang berhasil membawaku pada kenangan 2 tahun lalu.

Kunikmati lagi perasaan haru saat pertama aku mengajak Daffa’ & Abyan backpacking ke tempat ini. Saat itu warnaku masih ungu. Maka bukan hal yang salah jika sempat kuletakkan beberapa udang di balik batu dalam perjalanan bertajuk backpacking with children itu.

Sebuah kenangan yang kini terdengar konyol. Aku berharap bertemu cinta yang baru, waktu itu.

Sambil menunggu giliran untuk mendapat ijin masuk ke Singapura di salah satu antrian imigrasi, kutolehkan pandangan di barisan antrian yang lain. Ada si kurus dan Daffa’ di sana. Ya, segalanya sudah berbeda sekarang. Aku sudah menemukan yang kucari. Seorang pendamping hidup dengan penerimaan yang sempurna.

Dan perjalanan yang bisa disebut family trip kali ini, kuharap mampu mengukir kenangan indah yang baru.

Namun rupanya potongan-potongan kenangan lama senang sekali menyapaku. Di setiap langkah yang kuayun, menapaki lagi jalan-jalan yang pernah kususuri, ia hadir. Aku disuguhi adegan demi adegan yang menghidupkan aneka rupa rasa.

Aku tertawa mengingat kekonyolan saat berharap seseorang menepati janjinya menjemputku ke bandara, sedih dan kesal teringat kejadian kehilangan handphone di Sentosa Island, haru teringat ketabahan Daffa’ & Abyan selama backpacking dengan itinerary yang padat, sampai soal sesosok lelaki peranakan India yang akhirnya membawaku pada kisah cinta lokasi.

Yang terakhir itu memang agak sulit dilupakan. Berawal dari pertemuan kami di sebuah perempatan jalan tak jauh dari stasiun MRT Lavender. Ceritanya seperti sebuah skenario dalam film-film FTV. Dia datang bak pahlawan yang tidak hanya membawa cerita heroik, tetapi juga dengan aura yang menawan hati.

Hari itu menjelang magrib waktu Singapura. Aku, Daffa’ & Abyan sudah sangat kelelahan dan sedang kebingungan. Sudah berjam-jam berjalan kesana kemari, bertanya pada siapa pun yang kutemui, mencari dimana aku bisa naik bus ke Johor dari sekitaran kawasan Lavender.

Aku yakin sekali aku bisa naik bus dari sekitaran Lavender. Ini berdasar informasi yang kudapat dari banyak backpacker yang sudah pernah ke Singapura. Yang tidak kumengerti, mengapa semua orang yang kutemui di Lavender ketika itu tidak ada yang mengetahui tentang bus yang menuju Johor-Malaysia dari Lavender?

Semua memberi informasi bahwa aku harus pergi ke Woodland terlebih dahulu, dan naik bus dari bus station yang terintegrasi dengan stasiun MRT di Woodland sana.

Belakangan, setelah kembali lagi ke Indonesia, aku baru tahu, ternyata stasiun bus ada di seberang stasiun MRT Lavender. Disana bisa naik bus ke Woodland, lalu lanjut ke Johor-Malaysia.

Akhirnya aku menyerah setelah lelah bertanya dan mencari. Kepalaku pusing dan dipenuhi kata Woodland. Kaki-kakiku pegal. Raut wajah Daffa’ & Abyan pun sudah terlihat sangat kelelahan. Kuputuskan beristirahat sejenak di trotoar, tak jauh dari stasiun MRT Lavender.

Dari seberang jalan tampak seorang lelaki hendak menyeberang. Aku terfikir, jika dia berjalan melewati aku, akan kusapa dan bertanya sekali lagi padanya. Biar, ini yang terakhir. Jika jawabannya masih sama, kuputuskan untuk ke Woodland dengan MRT dan naik bus dari sana saja. Dan ternyata, lelaki itu juga memberi jawaban yang sama.

“You have to go to woodland, then you can find bus to Johor,” katanya dengan bahasa inggris logat India yang khas. Saat berbicara, kepalanya bergoyang-goyang. Persis seperti orang-orang yang sering kulihat di film-film india. Acha…acha!

Aku sedikit terhibur dengan kehadiran Satya. Iya, namanya Satya. Dia tidak hanya menghibur melalui gerakan kepalanya dan tangannya setiap kali berbicara, tetapi juga melalui kesediaannya mengantarku sampai terminal Larkin, di Johor-Malaysia.

Entah kenapa aku percaya padanya. Aku mengikuti setiap langkahnya. Tak kuperhatikan lagi peta seperti sebelumnya setiap kali hendak naik MRT supaya tidak kesasar. Rasa kuatir itu ada, namun hati kecilku ingin tetap percaya, bahwa Satya tidak akan berniat jahat padaku. Sampai-sampai, yang kuingat memang hanya Satya setiap kali teman seperjalananku kali ini bertanya tentang rute kepadaku.

“Mba, di Woodland nanti, kita naik bus nomor berapa untuk ke Larkin?” Tanya Ihwan saat kami sedang dalam MRT menuju Woodland.

“Eum, gue lupa.” Jawabku singkat sambil nyengir.

“Hoo, waktu itu cuma ngikut-ngikut doang ya? Ada yang nganterin sih.” Ihwan yang sudah mengetahui ceritaku tentang Satya mulai mengerti dan meledek.


Backpacking Singapura

Sulit dipungkiri, Satya memang meninggalkan kesan tersendiri. Kebersamaan kami memang singkat, hanya dalam perjalanan dari Lavender sampai ke Johor. Tapi dalam rentang waktu yang sesingkat itu, kami banyak mengobrol. Dari obrolan itulah aku mengetahui bahwa ia berstatus duda, seorang warga negara Malaysia yang berasal dari Penang. Ia bekerja di Singapura sebagai staff di perusahaan expedisi.

Sekembalinya aku dari perjalanan backpacking selama 5 hari di Singapura dan Malaysia, Satya rajin menghubungiku. Sedikitnya, 3 kali dalam sehari aku menerima sms, dan satu kali telepon darinya. Dia perhatian. Bahkan ia sempat menyampaikan rasa cintanya beberapa minggu setelah pertemuan kami. Agak aneh memang. Secepat itu?

Akan tetapi Tuhan memang punya banyak cara untuk menghadirkan cinta di antara dua hati. Ah, kalimat itu terdengar seperti syair lagunya Fathin, ya!

Sebenarnya, aku juga bisa merasakan kalau kehadirannya telah mewarnai hariku. Ada senyum setiap kali kuterima pesan singkat darinya. Meski isinya seragam dan serupa alarm pengingat saat jam makan dan istirahat. Sayangnya, agama kami berbeda, jadi aku memilih untuk menyudahi hubungan kami. Lagi pula, tak elok untuk terus memelihara rasa suka pada Satya, sementara aku sedang mencoba untuk mengenal si lelaki kurus saat itu.

Dan sekarang, disinilah aku. Menjejaki kembali jalan-jalan yang pernah kulewati dulu, dari Singapura ke Malaysia, bersama lelaki kurus yang kini menjadi sosok ayah bagi Daffa’ & Abyan. Kami berjalan bersama, diantara potongan-potongan kisah lalu yang mungkin hanya bisa terhapus dengan cerita baru yang lebih indah yang sedang kami lukiskan bersama.

35 thoughts on “Singapura dan Kenangan

  1. Aaaah…. Pengalaman tak terlupa yang membuat perjalanan kali ini berbeda ya noe… I know you’ll have better and lovelier stories in the nearest future dengan keluarga kecilmu. Happy traveling.. Always..

  2. Isssshh dalem bener ceritanya 🙂 Aku yakin deh, cerita2 didepanmu jauh lebih membekas dihati… Percayalah *soktauaje
    Singapore emang selalu ngangenin yaa.. udah kesana eh pengen kesana lagi, begitu seterusnya 🙂

  3. Mak Noe… membaca ini, aku malah fokus ke cerita Satya dan lelaki “kurus” nya. Aaah jadi merasa gimana yaa…. Tapi aku salut sama dirimu mak. Aku belum punya mental seberani itu untuk jalan2 ke LN bareng anak2 tanpa pendamping. Semoga selalu sehat ya, mak

    1. Iyoo dikau mah jln sekeluarga aja maak, lbh seru kok. Sehat2 jg ya makpon n keluarga… Aamiin n makasiii

  4. Hihihi. . .
    Deg2 seer bgtt iki mestiiii. Nyong pernah merasakan, pas di MRT Singa, Mbak. Cwok sana yg saya jumpai emang baik2, sih, ya. Jadi yaaa…wajar bkin meleleh. 😀

    Btw, langgeng dan bahagia terus sekeluarga ya, Mbak.

    1. Wekekeke… Deg serr klo liat cowo ganteng mah ya..

      Makasii doanya, kamu jg moga langgeng sm suami….

  5. Ceritanya dalam banget Mbak Noe. Yah akhirnya dirimu menemukan pelabuhan. Semogo kelurga selalu jadi keluarga samara ya 🙂

    1. Muehehe… Klo org share foto dibuang sayang, maka yg ini adalah cerita yg sayang jg klo dibuang. 😀 makasih doanya bubda, sehat dan bahagia selalu ya dirimuuu… Muach

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.