Kenangan

Sepenggal kisah masa kecilku

IMG_20131122_1

Membaca kisah sukses orang lain
akan menjadi penyemangat hidup kita.
Di dalam kesuksesan hidup orang lain,
terbentang pahit-getir,
suka-duka, dan perjalanan panjang,
bagaimana seseorang jatuh-bangun
ketika meraih kesuksesan.
Kunci utama sukses adalah belajar dari kesuksesan orang lain.

(Dikutip dari buku; Aku Anak Matahari – Gol A Gong)

Hari ini, untuk mengusir rasa bosan karena jaringan telepon dan internet di kantor mati, aku membaca buku. Kebetulan, buku Aku Anak Matahari yang aku beli beberapa bulan lalu dan belum sempat kubaca, masih tersimpan rapi di laci meja kerja. Dan ketika aku baru membaca beberapa lembar halaman awal, emosiku bergejolak. Segala macam perasaan seperti diaduk-aduk dalam dadaku.

Aku sedang membaca memoar seorang Gol A Gong kecil. Tentang bagaimana masa kanak-kanaknya yang penuh warna. Tentang cinta kasih ayah dan bundanya yang begitu besar. Di saat yang sama justru ingatanku melayang pada masa-masa kecilku. Sekaligus teringat pada dua buah hatiku, Daffa’ & Abyan.

Kisahku, kisah anak-anakku, memang berbeda dengan kisah Gol A Gong. Sebagai seorang yang hanya berlengan satu, lalu tumbuh sebagai pribadi yang penuh percaya diri dan terus berjuang meraih mimpi-mimpi. Keberhasilan ini tentu atas jasa besar kedua orang tuanya.

Bunyi yang paling nyaring dari semua kenangan dalam hidupku, adalah ketika aku, bahkan juga anak-anakku, harus menjadi bagian dari sebuah kisah bernama perceraian orang tua. Banyak cerita yang bisa aku kisahkan. Pahit dan getir, suka juga duka. Sebuah perjalanan panjang bagaimana aku menapaki kehidupan dan berjuang melawan kerasnya dunia.

Satu dari sekian banyak hal yang aku syukuri adalah karena aku memiliki kakek yang mendidiku untuk mandiri. Kakekku adalah orang asli Ponorogo. Tugas sebagai Tentara Keamanan Rakyat membawanya ke tanah Lampung. Sementara nenekku, pindah ke Lampung mengikuti orang tuanya yang bertransmigrasi dari Kebumen. Di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai ini mereka bertemu, menikah, lalu beranak pinak. Hingga sekarang sudah sampai generasi ke-4

Sejak usiaku masih dalam bilangan bulan. Bapak dan ibuku bercerai. Aku sudah berulang kali mendengar kabar, katanya, sejak pertama kali memutuskan untuk menikah, mereka tidak mendapat restu dari para orang tua. Dan itu menimbulkan konflik yang terus bergulir dari kedua keluarga sehingga akhirnya berpisah.

Setelah bapak dan ibu bercerai, aku diselamatkan oleh kakek. Kakekku tak mau kejadian buruk terulang. Karena sebelum aku, ibuku sempat melahirkan seorang bayi perempuan. Ia adalah kakak perempuanku yang meninggal bahkan sebelum aku dilahirkan. Evi namanya. Ia meninggal di usia tujuh bulan. Katanya, ia demam tinggi. Penyebabnya karena saat itu bapak dan ibu sempat berpisah. Lalu, para orang tua saling berebut hak asuh. Mungkin, mba’ Evi lelah karena diperebutkan kesana dan kemari.

Bapak dan ibu rujuk kembali tak lama setelah mba Evi meninggal. Lalu buah cinta bapak dan ibu yang kedua pun lahir. Anak itu adalah aku. Dan di usiaku yang baru 9 bulan, bapak dan ibu kembali bercerai. Saat perceraian itu terjadi, kakek mengambil dan melarikanku. Mereka tak ingin lagi kehilangan cucu. Maka, sejak itu, jadilah aku anak bungsu dari kakek dan nenekku.

Sebagai pensiunan tentara, sangat wajar jika kakek mendidikku secara militerisme. Kakek tidak banyak bicara. Perintahnya cukup sekali. Jika aku tidak displin, aku pasti mendapat hukuman. Aku pernah mendapat pukulan di kaki saat aku sudah keterlaluan nakalnya. Namun hukuman yang paling sering aku terima adalah pekerjaan fisik seperti membabat pagar hidup yang ditanam mengelilingi rumah, atau mengumpulkan pelepah pohon kelapa sawit untuk kayu bakar di dapur.

Perkebunan kelapa sawit milik pemerintah tempat aku mencari kayu bakar ini lokasinya berada 6 kilometer dari rumah. Dan di areal perkebunan inilah aku justru menikmati petualangan-petualangan yang luar biasa. Di dalam areal perkebunan kelapa sawit di Lampung Tengah yang luasnya entah berapa hektar itu, terdapat sungai dan bukit. Sebelum pulang setelah mencari kayu bakar, aku biasa mandi dan bermain air di sungai itu. Atau naik ke atas bukit dan menikmati hinggap dari pohon ke pohon untuk menjarah buah rambutan atau jambu yang entah milik siapa.

Aku tentu berbeda dengan anak-anak lain di kampungku. Mereka yang menikmati hari-hari dengan bermain dengan teman sebaya. Berkelimpahan dan di cukupi oleh orang tua dengan berbagai mainan yang ‘wah’ di masa itu. Game tetris, tamagochi, sampai sepatu roda dan sepatu yang ada lampunya berkelip warna warni. Sementara aku, mainanku adalah rumput-rumput di kebun jagung untuk dicabuti. Sore hari saat aku pulang dari ladang, aku selalu iri melihat teman-teman sebayaku yang sedang asik bermain bola voli atau sekedar nongkrong di lapangan.

Aku harus melakukan semua pekerjaan itu. Karena jika tidak, aku tidak akan mendapatkan buku atau pulpen untuk keperluan sekolah. Bahkan jika sepatu atau tasku sudah rusak, aku harus bekerja extra sebagai syarat untuk mendapatkan yang baru.

Tak jarang, aku juga diajak nenek untuk bekerja upahan. Memipil jagung, atau mengupas singkong untuk dijadikan gaplek. Hasil pekerjaan kami akan ditimbang, dan mendapat upah Rp 500,- per 100kg. Uang hasil bekerja itu, biasanya digunakan nenek untuk membeli beras dan sayuran. Ah, masa kecilku!

Sekarang aku baru faham. Kakek ingin mendidikku menjadi pribadi yang mandiri. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu, dibutuhkan perjuangan. Beliau tidak ingin aku tumbuh sebagai anak manja yang cuma bisa meminta. Lalu seperti sulap, dengan megucap sim salabim, maka apa yang dimau seketika ada.

Sekarang, aku sangat merasakan manfaatnya. Hidup adalah perjuangan. Hanya mereka yang tangguh yang mampu bertahan dalam berjuang menjalani kehidupan. Ditengah hantaman persoalan yang rumit, tak jarang juga himpitan ekonomi, tak ada kata menyerah.

Selain kakek, nenek adalah pahlawan kedua dalam hidupku. Ia yang paling memahami betapa dulu aku mengutuki hidupku. Aku benci karena aku berbeda. Mengapa tidak seperti teman-temanku yang lain yang tinggal dan cukup kasih sayang bapak dan ibu kandung? Mengapa aku miskin dan mereka kaya? Aku minder. Aku tak punya teman. Dan apakah hanya mereka yang kaya yang boleh memiliki banyak teman?

“Tugasmu sekarang, belajar yang rajin. Kamu harus jadi anak pinter. Nanti kalau sudah lulus sekolah, kamu bekerja. Kalau sudah jadi perempuan mandiri, nggak perlu kuatir nggak punya teman atau susah jodoh. Masih banyak orang yang tulus di dunia ini.”

Aku tak pernah bisa lupa pada nasehat nenek itu. Nasehat yang selalu diucapkan setiap kali nenek mendapati aku menangis di sudut kamar. Setelah kupikir lagi sekarang, benar apa kata nenek. Tak ada guna tenggelam dalam keterpurukan. Menyadari kekurangan diri semestinya tidak menjadikan kita menghujat tuhan. Hal terpenting adalah menggali potensi untuk menutupi kekurangan yang ada.

Jadi, sekarang, sudah sejauh ini aku berjalan. Aku tak tau masih seberapa panjang sisa usiaku untuk hidup di dunia ini. Harapanku, semoga aku bisa terus dan terus bersabar dalam berjuang. Dan tantangan terbesarku saat ini adalah mendidik anak-anakku, agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan penuh percaya diri.

1 thought on “Sepenggal kisah masa kecilku

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.