Kenangan

Selamat Jalan Kartiniku

Kadang, pilihan terbaik pun tetap menawarkan rasa sakit. Semisal merelakan seseorang kembali pada Rabb-nya agar terbebas dari derita karena usia yang terlampau senja. Percaya bahwa Allah menyayanginya, dan kembali adalah jalan terbaik. Tetapi, siapa yang tak merasa sakit karena kehilangan?

Digital StillCamera

Dia perempuan tercantik, yang tak ada satu hari pun ia lewati tanpa bau ompol selagi aku bayi. Sebakul penuh cucian kotor setiap hari. Terbangun tengah malam berkali-kali untuk membuat susu, karena aku bayi yang menangis karena lapar.

Dia adalah bidadari yang mampu terjaga hampir 24 jam ketika aku sakit dan masih kolokan sehingga selalu ingin digendong. Bidadari yang seyuman dan usapan lembutnya sangat menenangkan dan menyenangkan.

Dia adalah pendongeng yang andal, yang tak ada satu malampun bersamanya tanpa cerita tentang masa perjuangannya dulu di jaman penjajahan. Tentang mongso ketigo, ketika kemarau panjang yang membuat hampir seluruh pohon mati dan tak tersedia bahan makanan, sehingga pangkal batang pisang pun harus ia makan demi bertahan hidup.

Dia, yang setiap pagi membuatkan sarapan agar aku punya energi untuk bersepeda berkilo-kilo meter menuju sekolah, namun sering aku abaikan karena takut kesiangan. Dia, yang akhirnya mencuci dan menyetrika karena tak sabar melihat pakaian kotorku hanya ditumpuk, bukannya segera dicuci padahal aku sudah cukup besar dan bisa melakukannya.

IMG-20150421-WA0020

Dia… Adalah pahlawan yang menyelamatkanku ketika dimasa remaja aku tak bisa menghindar dari rasa resah, mengapa tak ada yang suka padaku? Dia… Yang selalu yakin, bahwa aku cantik dan layak mendapat yang terbaik kelak.

Dia… Yang selalu menungguku pulang setiap lebaran tiba, saat masa dewasa harus membawaku terbang ke tempat yang jauh darinya. Yang selalu menyimpan semangkuk rendang dan ketupat, khusus untukku agar tak kehabisan.

Dia… Terlalu banyak kisah tentang dia. Terlampau banyak menangan indah dan segala jasa yang belum sempat ku syukuro dengan cara mengucapkan kata terima kasih. Terlalu banyak pula salah yang belum kumintakan permohonan maaf darinya.

Dia… Ibu yang pertama kukenal meski dia bukanlah seorang yang melahirkanku. Dia… Ibu dari ibuku. Dia… Yang merawatku sejak aku lahir hingga dewasa.

Dia… Sudah kembali, tepat di hari kartini, hari ini, jam 4 sore.

Selamat jalan kartiniku. Segenap doa, kupanjatkan untukmu.

10 thoughts on “Selamat Jalan Kartiniku

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.