Jawa Timur, Traveling

Sebuah renungan dari kamar tidur

Kamar yang kami dapat tidak terlalu luas, tapi cukup nyaman untuk persinggahan kami selama satu malam di Kota Surabaya. Dengan konsep modern minimalis bernuansa putih, aku merasa ruangan kamar ini terasa lebih lega dari ukuran sebenarnya.

Dan mungkin seperti itulah sikap kita seharusnya dalam hidup. Karena akan selalu ada banyak hal yang mungkin mengecewakan dan berjalan tidak sesuai keinginan. Yang perlu kita lakukan adalah memikirkan cara lain untuk membuat hati tetap damai dan bahagia.

Saat pertama kali memasuki kamar hotel ini, Daffa’ dan Abyan langsung menghambur ke atas tempat tidur ukuran double yang diselimuti bed cover putih. Di kanan dan kirinya terdapat meja kaca. Di atas salah satu meja terdapat 2 botol air mineral ukuran 600ml, dan sebuah remote control. Klik! Dengan cepat Daffa’ meraih remot dan menyalakan TV LCD 32” yang terpasang di dinding.

“Bu, bikin rumah yang kamarnya kayak gini sih!”, Abyan mulai berkomentar dengan suara cadelnya yang khas. Aku tersenyum mendengarnya.

“Iya, Bu. Pasti enak!”, Daffa’ ikut menimpali.

“Eh, tapi kok ada kamar mandinya ya di dalem kamar?”

“Iya, kok boleh ya, Bu? Kan biasanya kamar mandi di luar”

“Nanti beli TV taro di kamar ya, Bu”

Daffa’ dan Abyan terus saling sahut, berkomentar soal kamar hotel yang menurut mereka terlalu mewah, tapi aneh. Sambil membongkar isi ransel aku malah teringat saat mengajak mereka backpacking ke Singapura tahun lalu. Kami menginap di hostel murah di sebuah komplek ruko yang lokasinya hanya 100 meter dari stasiun MRT Kallang. Kamar yang kami sewa dengan harga 100 SGD itu sangat sempit, berisi dua bunk bed untuk 4 orang tamu, dan hanya menyisakan ruang kosong yang cukup untuk solat 1 orang saja. Fasilitas kamar mandi berada di luar kamar dan harus sharing dengan tamu lainnya.

Meski begitu, Daffa’ dan Abyan tetap bahagia. Malam hari saat aku sudah sangat letih karena seharian jalan-jalan, mereka malah tak henti-hentinya bercanda. Sesekali bergelantungan pada besi, menapaki anak tangga naik turun bunk bed, dan terus mengeluarkan suara tawa bahagia.

Kadang, setiap kali memperhatikan mereka, aku ingin kembali menjadi anak-anak. Suatu masa dimana kita bisa menikmati semua hal. Menikmati apa yang ada di depan mata. Tanpa ada beban fikiran, tanpa kekecewaan karena ekspektasi yang mungkin berlebihan, tanpa kekhawatiran dan rasa takut.

“Wah, ada meja kayak di pesawat!”, Daffa’ berseru lagi. Menyadarkanku dari sebuah renungan tentang kamar tidur.

“Kak, lihat nih! Bu, lihat!”, kali ini ia memanggil Abyan yang sedang asik memencet-mencet tombol brankas di bawah meja kaca, lalu mengguncang bahuku sambil menunjukkan meja kayu yang bisa dilipat dan menempel di dinding di sebelah spring bed.

Rasanya terlalu banyak hal baru yang mereka temukan di kamar ini dan itu membuat mereka begitu bersemangat untuk mengeluarkan energi berlebih dalam dirinya. Mereka begitu aktif bergerak untuk melihat dan menyentuh setiap benda yang dilihatnya. Berloncatan di atas spring bed, sampai berlama-lama saat mandi dengan shower yang suhu airnya bisa diatur menjadi dingin, hangat, atau bahkan panas.

Tidak mengherankan, selama aku mengajaknya jalan-jalan, Tune Hotel Surabaya yang beralamat di Jalan Arjuno ini memang akomodasi terbaik yang pernah mereka rasakan. Biasanya kami bisa tidur dimana saja karena alasan budget. Jika tidak ada rumah teman yang bisa disinggahi untuk menumpang tidur, biasanya kami akan mencari penginapan murah seperti guest house atau hostel. Bahkan kami pernah merasakan menginap di warung lesehan di kaki Gunung Gede. Tidur di lantai papan beralas karpet. Tanpa kasur dan diselimuti hawa dingin yang menusuk tulang. Kami seperti tiga anak kucing yang meringkuk berhimpitan agar bisa saling menghangatkan.

Sama seperti saat kami merasakan tidur di rumah panggung di pedalaman Baduy. Satu-satunya hal yang membuat mereka gelisah dalam tidurnya adalah karena kelelahan setelah berjalan berkilo-kilo meter, melewati bebukitan, sungai, dan lembah. Daffa’ dan Abyan sama sekali tidak mengeluhkan soal ketiadaan listrik beserta barang-barang elektronik yang biasa dinikmati di rumah. Begitu hari mulai gelap, mereka langsung terlelap dalam tidurnya karena kelelahan.

Berbeda sekali denganku yang harus melawan rasa sakit dan tak nyaman karena badan harus bersentuhan dengan lantai bambu yang keras. Ini membuatku sulit tidur. Ya, semenjak menjadi ibu yang telah melewati proses hamil dan melahirkan, aku merasa fisikku lebih cepat dimakan usia. Aku kepayahan jika harus berpisah dengan kasur.

Tetapi begitulah hidup. Kita tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Banyak hal mengecewakan dan berjalan tidak seperti yang kita harapkan. Satu hal yang harus selalu diyakini, bahwa badai pasti berlalu. Hujan akan berganti indah pelangi. Dan pasti ada pagi di ujung malam yang gelap.

Dan saat kebahagiaan itu datang, tak ada salahnya jika sesekali kita kembali menjadi anak-anak. Tertawa, menari, bernyanyi. Menikmati hidup!

2 thoughts on “Sebuah renungan dari kamar tidur

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.