Bali

Sebentar saja di Pantai Kute

Sebagai penggila pantai, aku merasa agak kecewa ketika baru saja tiba di Pantai Kute. Sebuah pantai yang namanya begitu terkenal dan disebut-sebut sebagai tujuan wisata wajib dikunjungi jika datang ke Bali. Gaungnya itu membuatku penasaran juga, akhirnya, kuputuskan juga untuk mengunjungi Pantai Kute setelah puas main-main dengan monyet di Monkey Forest, Ubud.

Kute memiliki garis pantai yang panjang, di atas pasir inilah banyak turis mancanegara berjemur di bawah matahari. Maklum saja, di negara asli mereka, jarang bertemu matahari. 😉 Ombak yang cukup besar di pantai ini menjadikannya sebagai tempat favorit untuk surfing. Secara keseluruhan, pantai ini tak jauh beda dengan pantai-pantai di Anyer.

Padahal ekspektasiku, aku akan menemukan sebuah pantai yang cantik dengan pasirnya yang putih dan lembut. Warna air lautnya yang tosca dan membiru. Oh, aku ngimpi! Itu mah Cuma ada di pantai-pantai yang masih perawan. 😆

Lalu, apa yang membuatnya menarik wisatawan selain untuk berjemur dan surfing? Oh, rupanya kehidupan malam yang gemerlap! Ada banyak café dan night club di sekitar pantai. Pastinya tempat-tempat tersebut merupakan tempat menyenangkan untuk menghabiskan malam dengan party.

Satu hal yang membuatku menilai Pantai Kute memiliki nilai plus lebih tinggi dari Anyer adalah, pengunjung tidak dipungut biaya untuk masuk ke area pantai. Gratis! Cukup membayar biaya parkir, dan itu hanya Rp 2.000,- saja untuk kendaraan roda dua. Nggak tau juga kalo rodanya ada 4 atau lebih. Hihi.. 😀

Lalu, kenapa pantai Anyer tidak seramai dan sepopuler Pantai Kute di kalangan wisatawan asing? Mungkin karena Bali memiliki toleransi yang besar terhadap segala perbedaan. Tak ada yang mempermasalahkan jika ada turis yang berjemur di pantai dan hanya memakai selembar kain untuk menutupi bagian intimnya saja. Bayangkan jika itu terjadi di Anyer? Oh! Tempat karaoke berlabel karaoke keluarga saja di demo. Tapi, itulah hidup. Jika tak ada masalah, tidak akan berwarna, kan?

Hari masih diwarnai hujan gerimis saat aku tiba di Kute setelah perjalanan panjang dari Ubud. Maka aku tak berlama-lama singgah disini. Hanya sebentar saja, lalu memutuskan untuk pulang ke rumah Mba Wayan di Batubulan. Meski sebenarnya, aku ingin juga melihat sunset di Pantai Kute. Kabarnya, sunset di Pantai Kute sangat cantik!

Oya, aku sempat membeli satu kain pantai di sini. Aku hanya membayar Rp20.000,- untuk satu kain pantai, yang semula ditawarkan dengan harga Rp 45.000,-. Yup, harga dua puluh ribu yang kemudian aku sesali karena esoknya aku menemukan harga yang lebih murah dari itu. 😆

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.