Sulawesi Selatan

Sayonara Takabonerate

Melangkah untuk pulang dan meninggalkan tempat yang baru saja aku jadikan sebagai rumah selama backpacking, adalah bagian tersulit sekaligus menyenangkan bagiku. Sulit karena harus berpisah dengan keindahan yang ada, dan bahagia karena setumpuk rindu pada mereka yang yang menungguku di rumah bisa segera berlabuh pada sebuah pelukan.

SAM_1204
Going home

Selama beberapa hari di Taka Bonerate aku tak banyak menjelajah. Hanya menikmati setiap sudut sisi Pulau Tinabo, dan melihat lebih dekat kehidupan suku Bajoe di Pulau Rajuni. Aku bahkan tidak mencicipi keindahan bawah lautnya yang banyak dielu-elukan dan menjadikan Taka Bonerate sebagai salah satu tujuan wisata bahari terbaik di Indonesia. Tetapi aku mencoba memahami apa arti perjalanan yang sesungguhnya.

Bagiku perjalanan bukan soal apa atau seberapa banyak yang dilihat, melainkan seberapa banyak pelajaran hidup yang didapat dan berhasil dibawa pulang. Dan untuk tujuan itu yang dibutuhkan bukan hanya sekedar membuka mata dan telinga, tatapi juga hati.

Kadang, perjalanan bagiku adalah saat terbaik untuk mengukir kenangan manis dalam hidup bersama orang-orang terkasih.

IMG-20141011-WA0011
Menikmati suasana pantai di Pulau Tinabo

Tidak bisa dipungkiri bahwa aku hanya manusia biasa dengan segala kekurangan. Entah sadar atau tidak, pastinya banyak dari sikapku yang bisa melukai perasaan suami, atau anak-anak. Aku berharap, kenangan manis selama perjalanan bisa menggantikan rasa sakit yang mungkin pernah kutorehkan.

Di Taka Bonerate, aku bahkan mendapat lebih dari itu. Bukan hanya pelajaran dari kesederhanaan dan kearifan hidup suku Bajoe, cita dan impian naak-anak matahari, serta kenangan indah bersama suami.

Aku juga mendapat pertemanan baru, keluarga baru. Sama seperti perjalanan ke tempat-tempat lain. Selalu ada teman baru, selalu menemukan keluarga dan rumah baru, untuk suatu saat kembali dan singgah lagi.

image
Bersama petugas java wana TN. Takabonerate

Siang itu, 3 September 2014. Sebelum mengangkat ransel dan menampakkan punggung untuk pergi, aku berpamitan dan berfoto bersama para petugas jaga wana TN. Taka Bonerate yang begitu baik dan ramah selama aku berada disana. Saat waktu luang, kami sering mengobrol dan bertukar pikiran tentang potensi wisata dan lingkungan. Aku harus ‘mengangkat topi’ berkali-kali setiap kali mendengar kisah mereka dalam menjalankan tugas sebagai jaga wana.

Berminggu-minggu bahkan hitungan bulan, tinggal di pulau kecil tanpa air tawar untuk MCK. Jauh dari keluarga dan bergelung dengan tugas untuk menjaga kelestarian bahari. Tak bosan memberi edukasi kepada nelayan untuk tidak merusak terumbu. Tak jemu menyambut, mengawal, dan mengingatkan wisatawan untuk menjadi traveler yang ramah lingkungan.

Belum lagi cerita tentang ekosistem dunia bawah laut. Mengapa hiu harus dilindungi, mengapa terumbu tak boleh disentuh apa lagi terinjak hingga rusak saat snorkeling. Mengapa penyu dan kima harus dilestarikan. Dan bahwa sekecil apapun biota yang hidup di laut saling berhubungan satu sama lain membentuk sebuah ekosistem. Satu saja punah maka akan terjadi ketidak seimbangan yang dampaknya bisa saja sangat buruk.

Kima (Kerang Raksasa) doc.pribadi
Kima (Kerang Raksasa) di sekitaran dermaga Pulau Tinabo

Apa jadinya jika hiu punah? Akan terjadi kepunahan ikan-ikan kecil karena habis dimakan oleh ikan-ikan besar. Pertumbuhan ikan esaryang tidak terkontrol karena hiu yang seharusnya menjadi pemangsa tertinggi dalam rantai makanan di lautan, ternyata malah dimangsa oleh manusia.

Lalu apa jadinya jika kima punah? Terumbu karang tak akan sehat, begitupun dengan ikan-ikan yang hidup di sekitarnya. Karena kima si kerang raksasa memiliki filter dalam tubuhnya yang luar biasa menakjubkan. Dalam sehari ia bisa membersihkan air laut hingga puluhan ton. Belum lagi jutaan ekor sel telur yang bisa dihasilkan oleh kima menjadikannya dijuluki pabrik makanan gratis bagi ikan-ikan. Ya, kima adalah penolong bagi kehidupan laut.

Masihkah tega mengekploitasi hiu dan kima karena sirip dan atau dagingnya yang konon katanya bisa enambah stamina untuk manusia?

SAM_1160
Cinta, anak tukik yang kulepaskan ke lautan

Pada akhirnya sebuah perjalanan bukan hanya sekedar untuk bersenang-senang atau melepas penat. Lebih dari itu, adalah untuk melihat dunia. Baik keindahannya, maupun keburukan yang mungkin sudsh, sedang, atau akan terjadi. Dan mengambil pelajaran darinya adalah sebuah keharusan. Itu sebab Tuhan menciptakan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hati untuk merasa dan otak untuk berfikir.

Sayonara Pulau Tinabo, Sayonara Takabonerate, Sayonara Petugas Jaga Wana, Sayonara pohon yang kutanam, terumbu karang, penyu, ikan, kima, plakton, lumba-lumba… Sayonara Takabonerate…

1 thought on “Sayonara Takabonerate

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.