Satu Hari di Pelabuhan Tanjung Priok #SeeingIsBelieving

seeing is believing Tanjung Priok

Tour satu hari di pelabuhan Tanjung Priok bersama IPC, mengingatkanku pada sepenggal cerita di Sabang. Jiwa nasionalismeku tiba-tiba meletup-letup ketika mendengar lagu dari Sabang sampai Merauke dinyanyikan. Apalagi lagu itu dinyanyikan oleh anak-anakku sendiri, di suatu tempat yang menjadi impian kami selama beberapa tahun terakhir, di Tugu Kilometer Nol. Seketika itu pula aku punya cita-cita baru, yaitu Merauke.

Pernah terlintas dalam fikiran untuk naik kapal laut dari Tanjung Priok ke bumi Papua. Keinginan ini dipicu oleh cerita suamiku yang pernah menempuh jalur laut dari Jakarta ke Makassar. Selama dua hari dua malam, jenuh dan bosannya terbunuh oleh panorama laut yang tak pernah habis untuk dikagumi. Hamparan laut biru, disapa sekawanan lumba-lumba, panorama matahari terbit hingga tenggelam, menjadi cerita menarik yang ia dongengkan untuk kami sekeluarga.

Pelabuhan Tanjung Priok yang bersih dan rapi
Pelabuhan Tanjung Priok yang bersih dan rapi

Suasana pelabuhan Tanjung Priok pun tak luput ia ceritakan. Tentang aktivitas pelabuhan yang 24 jam non stop. Tentang bulatnya matahari tenggelam di balik siluet crane dan tumpukan peti kemas. Tentang para penumpang yang hendak pulang dan pergi ke arah timur. Dan tentang gedung pelabuhan di terminal penumpang yang bersih dan rapi. “Seperti gedung bandara,” katanya.

Terminal Penumpang

Akhirnya, pada 31 Oktober lalu, aku bisa melihat sendiri bagaimana suasana pelabuhan Tanjung Priok yang jauh dari kesan kotor, kumuh, sumpek, dan atau semrawut. Terminal penumpang di Tanjung Priok memang benar seperti bandara. Di bagian luar, tampak bangku-bangku bundar melingkari tiang-tiang penyangga atap selasar gedung. Bunga dan tanaman hijau menjadi penghias yang menyejukkan di tengah panasnya suasana pelabuhan. Di sinilah ruang tunggu bagi penumpang yang belum atau tidak memiliki tiket kapal Pelni.

Ruang tunggu di luar gedung terminal penumpang
Ruang tunggu di luar gedung terminal penumpang
Masuk ke dalam ruang tunggu terminal penumpang
Masuk ke dalam ruang tunggu terminal penumpang

Masuk ke dalam gedung, aku langsung merasa seolah sedang memasuki gedung bandara yang full AC. Ada pagar besi setinggi pinggang. Pagar itu sambung menyambung dengan pintu dan mesin X-ray scanning barang bawaan penumpang. Kursi-kursi tunggu berjumlah ratusan tampak memenuhi ruangan yang luas. Di sudut ruangan, tersedia indoor play ground untuk anak-anak agar tidak bosan selama menunggu jadual pelayaran.

Bayangan dermaga dan pelabuhan penyebrangan pelabuhan Merak – Bakauheni lalu berkelebat dalam benakku. Juga pelabuhan lain yang pernah kujadikan titik tolak untuk menuju suatu tempat nun jauh di seberang. Pelabuhan Ajibata di Sumatra Utara, atau pelabuhan Uleu Lheu di Aceh. Sama-sama pelabuhan penumpang, tetapi suasananya sungguh berbeda.

Play ground di dalam ruang tunggu
Play ground di dalam ruang tunggu

Tentu saja, karena pelabuhan Tanjung Priok adalah pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia. Dan sekarang, PT. Pelabuhan Indonesia II – yang kini ingin dikenal dengan nama IPC – telah sukses membangun dan merapikan pelabuhan Tanjung Priok, sehingga memiliki citra baru yaitu pelabuhan yang bersih, aman, nyaman, dan menyenangkan.

Terminal-Terminal Peti Kemas

Dengan kapal boat, aku bersama para bloggers yang diajak tour mengelilingi pelabuhan Tanjung Priok, melihat-lihat dari sisi laut, bagaimana suasana dermaga dan terminal-terminal peti kemas yang sudah rapi dan bersih. Sebelumnya, kami sempat mengintip suasana dermaga dari lantai 7 gedung kantor IPC.

Mencoba stir kapal boat
Mencoba stir kapal boat

Selama berkeliling dengan boat, sejauh mata memandang, adalah lautan yang bertemu dengan dermaga. Di dermaga itu, tampak kapal-kapal kargo pembawa peti kemas tengah sandar. Crane-crane sibuk mengangkat dan memindahkan peti kemas dan atau muatan kapal lainnya. Ratusan container tertumpuk rapi di landasan, seperti balok mainan kayu warna-warni jika dilihat dari kejauhan.

Terminal dan dermaga-dermaga itu terlihat bersih dari sampah. Menurut pemandu kami, setiap hari ada kapal boat penarik sampah yang berkeliling untuk membersihkan seluruh area pelabuhan. Setiap terminal dan dermaga itu juga rapi. Tanpa ada kendaraan-kendaraan terparkir sembarangan, seperti angkot maupun truk container.

Kapal kargo sedang sandar di dermaga
Kapal kargo sedang sandar di dermaga
Tumpukan peti kemas di landasan dermaga
Tumpukan peti kemas di landasan dermaga
Pekerja sedang mengarahkan bandul crane di atas kapal kargo
Pekerja sedang mengarahkan bandul crane di atas kapal kargo
Pilot boat sedang melintas di sisi dermaga terminal penumpang
Crane di dermaga terminal penumpang, tampak sebuah pilot boat sedang melintas
Crane sebagai alat vital bongkar muat kapal kargo
Crane sebagai alat vital bongkar muat kapal kargo

Entah berapa banyak kapal kargo yang bisa ditampung di 3 terminal khusus container/peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok. Mengingat luas pelabuhan Tanjung Priok yang sampai 600 hektar dan panjang dermaganya rata-rata hampir mencapai 1 kilometer. Yang jelas sekarang sudah tidak ada lagi yang namanya kapal kargo harus antri berlabuh karena dermaga penuh.

By the way, dulu bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok membutuhkan waktu sampai dengan 3 hari untuk satu kapal kargo, sebelum menggunakan crane. Sekarang, setelah dermaga dilengkapi dengan crane, hanya butuh waktu 12 jam saja untuk proses bongkar muat peti kemas dari kapal kargo. Produktif sekali! Jadi, ada berapa banyak kapal dan peti kemas (container) yang dapat diakomodasi selama setahun? Coba lihat tabel di bawa ini, deh!

Tabel kapasitas produksi bongkar muat peti kemas
Tabel kapasitas produksi bongkar muat peti kemas

Planning & Control Division

Usai melihat-lihat suasana terminal dan dermaga menggunakan boat, kami diajak masuk ke ruang kerja Planning & Control Division (P&C), di lantai 5 gedung kantor IPC. Ruangan dengan dinding kaca itu dipenuhi layar monitor LCD. Di setiap meja kerja, bahkan di dinding. Mulai dari yang ukuran kecil, sedang, sampai yang super besar.

Pose di depan ruangan P & C Division
Pose di depan ruangan P & C Division
control room 1
Monitor kontrol pelabuhan Tanjung Priok
control room 2
Ruang kerja P & C Division

Dari ruangan inilah seluruh kegiatan di pelabuhan dapat dimonitor 24 jam non stop. Termasuk kondisi cuaca dan arah angin. Dan control yang dilakukan dari ruangan P&C ini tidak hanya untuk area pelabuhan Tanjung Priuk saja, tetapi juga pelabuhan-pelabuhan lain yang berada dalam cakupan layanan PT. Pelindo II, menggunakan teknologi CCTV.

Salah satu pelabuhan yang dapat dilihat secara real time dari layar monitor adalah pelabuhan Pontianak. Saat ini sedang dalam proses untuk bisa memantau kegiatan di pelabuhan Panjang Lampung, secara real time dari Tanjung Priok. Keren, ya!

View Tanjung Priok Dari Rooftop

Terakhir sebelum makan siang dan pulang, kami diajak naik ke rooftop untuk melihat panorama pelabuhan Tanjung Priuk dari ketinggian.

View dari rooftop
View dari rooftop
port of Tanjung Priok
Gateway terminal 2
gedung lama
Gedung pertama PT. PELINDO II sejak tahun 1870

Tentang IPC

IPC adalah branding baru dari perusahaan jasa pelabuhan dan logistik, yang semula dikenal dengan nama PT. Pelabuhan Indonesia (PELINDO) II. Branding baru IPC ini bertujuan untuk mempresentasikan semangat perubahan dan harapan untuk sebuah langkah baru menuju masa depan yang lebih cemerlang. Identitas IPC ini juga merupakan simbol kebanggaan untuk berbagai organisasi dan orang-orang yang ada di balik IPC.

Tagline IPC yang berbunyi “Energizing Trade. Energizing Indonesia.”, mencerminkan perubahan paradigma perusahaan, dari yang semula hanya Melayani Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, kini bergeser menjadi perusahaan yang Menjalankan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia.

Logo IPC
logo & tagline IPC

PT. PELINDO II yang kini ingin dikenal dengan nama IPC ini sudah berdiri sejak tahun 1960. Salah satu pelabuhan yang dibangun oleh IPC adalah Pelabuhan Sunda Kelapa yang sekarang sudah menjadi bagian dari heritage Indonesia.

Selain melayani kegiatan pengelolaan pelabuhan, IPC juga menjalankan bisnis lain yang relevan, seperti pemeliharaan peralatan, pasokan energi pelabuhan, dan pembangunan pelabuhan. Dalam menjalankan kegiatan manajemen & operasional pelabuhan, IPC bekerja sama dengan mitra bisnis dari perusahaan swasta, seperti Perusahaan Operator Terminal, Kapal Tunda, dan Manajemen Fasilitas Pelabuhan lainnya.

Kegiatan bisnis utama IPC meliputi:

  • Ship Services, yaitu menyediakan layanan operasional kapal, mulai dari saat kapal memasuki pelabuhan sampai keberangkatannya lagi.
  • Cargo Services, yaitu meliputi jasa bongkar muat di kapal, sampai pengiriman kargo ke pemiliknya.
  • Other Services, yaitu memberikan layanan untuk mendukung kegiatan pelabuhan.

Dalam menunjukkan komitmen yang sedang diperjuangkan, yaitu “Energizing Trade, Energizing Indonesia.”, setiap langkah yang ditempuh oleh IPC adalah bertujuan untuk mengurangi biaya logistik nasional. Salah satunya adalah pembangunan NewPriok Terminal.

NewPriok Terminal adalah pelabuhan ramah lingkungan (a green port) yang didisain untuk bisa melayani jangka panjang, untuk pertumbuhan Jakarta sebagai pintu gerbang perdagangan Indonesia.

Proyek besar lainnya adalah pembangunan Main Sea-Corridor, yaitu jalur palayaran tetap yang melayani pelayaran di wilayah kepulauan Indonesia. Ada dua jalur palayaran Main Sea-Corridor, yaitu West-East Pendulum & South-North Pendulum.

West-East Pendulum melayani rute dari pelabuhan Belawan (Sumatra Utara) – Palembang – Tanjung Priok – Surabaya – Makassar. Sedangkan South-North Pendulum melayani rute dari Padang – Tanjung Priok – Banjar Masin – Balikpapan.

Adanya Main Sea-Corridor ini sekaligus bisa menjadi backup koridor dari program pemerintah yaitu tol laut, koridor ini dapat menjadi alternatif shipping line apabila terdapat kargo yang mempunyai sifat handling, yang harus menggunakan peti kemas dan tidak dapat diangkut menggunakan kapal roro.

Lho, jadi tol laut itu bukan pembangunan jalan tol melintasi lautan untuk dilewati kendaraan bermotor, ya? Ah, apa pun itu, sampai aku menulis ini, rasanya masih jetlag. Fikiranku masih mengembara di megahnya pelabuhan Tanjung Priok, padahal fisikly sudah di rumah dan mulai bergelut lagi dengan kesibukan rumah tangga.

Hm…, semoga suatu hari bisa ajak anak-anakku ke pelabuhan Tanjung Priok juga. Aamiin..

55 thoughts on “Satu Hari di Pelabuhan Tanjung Priok #SeeingIsBelieving”

  1. Aku terakhir ke pelabuhan itu waktu mau nyebrang ke bali sama ke lampung. Banyuwangi sama merak, dua duanya you know lah yaaaa… bikin males naik kapal laut hehe hehe hehe

    TAPI INI KOK KEREEEEN. KAYAK BANDARA BENERRR

  2. Gilak, bagus bgt ya pelabuhannya Noe. Di Semarang aq jg sesekali ke pelabuhan utk cek kargo. Blm sempat keliling ke bagian penumpang. Maunya juga sebagus Priok donk biar semuanya merasa nyaman saat menggunakan jasa pelabuhan.

  3. Aaaah kece, yaaa! Baru tahu nih kalau kantor pelabuhan bisa senyaman ini, ampe ada playground buat anak segala! Aku pikir di pelabuhan itu bakalan puanas dan malesin banget. Ternyata enggak, ya! ^___^

  4. Wah main ke tanjung priok?? Keren amat… kok pas banget ya, disaat pelindo II atau IPC jd bahan pembicaraan dimana2 eh blogger diajak jalan2 kesana.
    Waktu bongkar muat yg dr 3 hari bisa tinggal 12 jam? Ini sih keren sekali… semoga perdagangan di indonesia makin maju dg dukungan dr pelindo II atau IPC.
    Btw beneran mau ke merauke lewat laut? Butuh berapa hari perjalanan tuh??

    1. Hihi… Musim mudik kita liat di tipi doang kan yaa, cuma liat mbludaknya penumpang. Pdhl asline pelabihannya udh rapi n bersih bgt lho.

  5. Wow.. langsung kaget liat foto-fotonya. Bener-bener jauh dari bayangan. Bersih dan rapi banget ya..
    Semoga suatu saat bisa menyaksikannya juga.. 🙂 *kalo ke sana, ajak-ajak ya ;D

Leave a Reply