Santai Sejenak di Pulau Merak

Setelah menulis cerita Batu Gambir sebagai salah satu obyek wisata di Cilegon beberapa waktu lalu, sekarang jadi kepikiran untuk menuliskan juga cerita jalan-jalan ke Pulau Merak Kecil. Pesonanya memang tak seindah namanya. Maksudku, tidak seperti burung merak dengan bulu-bulunya yang cantik. Tetapi Pulau Merak bisa dijadikan tempat untuk bersantai sejenak tanpa harus mengeluarkan banyak biaya dan waktu. Dan jika cuaca cukup cerah, panorama sunset dari Pulau Merak cukup indah juga untuk dinikmati.

Pulau Merak Kecil
Panorama sunset di Pulau Merak Kecil

Aku berani bilang tak perlu banyak biaya dan waktu untuk menjangkau Pulau Merak karena memang lokasinya sangat dekat. Tepatnya ada di belakang Kantor Polsek Mabak Merak. Untuk menuju ke Pulau Merak, kita bisa naik ojek perahu dari dermaga Mabak di belakang Polsek. Ongkosnya Rp10.000 untuk ke Pulau Merak Kecil, dan Rp20.000 untuk ke Pulau Merak Besar. Harga tersebut adalah ongkos antar jemput loh, ya. Murah bukan?

Ceritanya pada bulan Maret lalu, aku kedatangan tamu jauh, namanya Rifqy dari Malang. Ia berkunjung ke rumahku bersama Muklis, temannya yang sama-sama kuliah di Universitas Brawijaya. Awalnya aku tidak punya ide mau mengajak mereka jalan-jalan kemana. Yang terfikir olehku saat itu hanya Mercusuar di Pantai Anyer. Tapi berhubung hari Minggu biasanya jalanan menu Anyer itu bisa macet parah, jadi kuurungkan niat. Lalu salah seorang teman yang tinggal di sekitaran Merak memberi usul untuk ke Pulau Merak Kecil saja.

Pulau Merak Kecil Cilegon
Makan siang di Pulau Merak Kecil

Kami pun sepakat untuk berkumpul di Pulau Merak Kecil pada jam makan siang. Kami di sini adalah aku sekeluarga, Rifqy & Muklis dari Malang, serta Agung & Ihwan teman-teman dari Backpacker Koprol.

Kesan pertama saat sampai di pulau adalah sedih karena banyaknya sampah dan tersiksa karena panas matahari yang menyengat. Pulau Merak Kecil ini sesuai juga dengan nama belakangnya, kecil. Luasnya mungkin hanya seukuran lapangan bola. Kami bahkan sempat berjalan mengitarinya sambil mencari tempat teduh untuk duduk santai dan membuka perbekalan makan siang.

Menu makan siang yang kami bawa adalah nasi dan sate bandeng yang merupakan kuliner khas Banten. Ada juga rendang Padang buatan Karima, salah satu teman kami yang rencananya ikut dalam trip ceria ke Pulau Merak Kecil ini, tetapi batal ikut karena sakit. Sebagai pencuci mulut, Ihwan membawa buah semangka. Sederhana saja memang menu makanan kami, tetapi kebersamaan membuat segalanya menjadi lebih indah. Eaah…

Pulau Merak Kecil Cilegon
Suasana di Pulau Merak Kecil

Usai makan siang, tak banyak yang bisa kami lakukan, selain menunggu sore tiba. Tetapi Muklis rupanya ingin menunaikan rasa penasarannya untuk mencoba snorkeling. Ia sekaligus ingin mencoba menggunakan kamera underwater miliknya untuk memotret di bawah air. Ia sempat bercerita kalau semenjak membeli kamera itu, belum pernah sekali pun ia coba untuk memotret underwater. Jadi di Pulau Merak Kecil inilah untuk pertama kalinya Muklis snorkeling dan mencelupkan kameranya ke air laut.

Sayangnya, perairan di sekitar Pulau Merak Kecil bukanlah spot yang bagus untuk menikmati keindahan underwater. Maklum saja, lokasinya amat sangat dekat dengan Pelabuhan Penyeberangan Merak yang menghubungkan Pulau Jawa & Sumatra. Selain itu, tingkat kesadaran masyarakat sekitar & wisatawan untuk menjaga keindahan Pulau Merak Kecil juga masih kurang. Terbukti dengan adanya seorang lelaki yang dengan bangganya berhasil menangkap ikan badut pada waktu itu, saat aku & teman-teman berada di Pulau Merak Kecil.

Kami yang melihat lelaki itu membawa ikan badut dengan gelas air mineral, hanya bisa kesal, namun tak berani menegur. Kami khawatir malah terjadi perkelahian nantinya. Kami hanya bisa berdoa semoga lelaki itu disadarkan dan mau melepas nemo itu kembali ke lautan.

Siluet Daffa' saat sunset
Siluet Daffa’ saat sunset

Dan akhirnya, sore yang kami nantikan tiba. Langit yang semula biru mulai berubah warna menjadi jingga dan kemerahan. Kami beranjak mencari spot terbaik untuk menikmati sunset. Setelah menemukan spot yang pas, Rifqy yang hobi fotografi langsung beraksi. Tak lupa ia menyambungkan kamera DSLR-nya dengan tripod agar hasil fotonya bagus, terutama foto dengan mode low speed. Yup, kalau kuperhatikan, Rifqy memang jago membuat foto yang dramatis dengan tehmik low speed. Tak heran kalau tripod selalu ia bawa kemana pun pergi. Karna tanpa tripod, akan sulit menghasilkan foto yang oke dengan mode low speed.

Sunset sore itu di Pulau Merak Kecil, lebih indah dari ekspektasi kami sebelumnya. Pulau Merak Kecil, rupanya bukan ide buruk untuk dikunjungi sebagai salah satu obyek wisata Cilegon.

16 thoughts on “Santai Sejenak di Pulau Merak”

  1. Panorama sunset di Pulau Merak Kecil memang keren bnget min, oh ya jangan lupa juga nih berkunjung ke Pantai Karang Bolong yg bikin para Wisatawannya jadi ketagihan buat berburu foto disana, gak heran Cilegon jadi kota yg bnyak di kunjungi para wisatawan
    thanks banget min buat infonya

  2. mba salam kenal sebelumnya saya ada rencana ke pulau merak minggu ini mba masih punya kontak nelayan perahunya ngak soalnya saya brangkat sore kemungkinan sampai sana malam sekalian mau ngecam dipulau terima kasih

Leave a Reply