Akomodasi / Hotel

Sandalwood Boutique Hotel dan Hangatnya Kota Lembang

Aku tidak pernah menyangka kalau ternyata Lembang bisa sehangat sore itu. Di tengah cuaca yang sedang hujan, lobby Sandalwood hotel menjadi persinggahan yang begitu nyaman. Dengan nuansa living room a la rumah-rumah country house, aku tak lagi merasakan udara dingin.

Elemen kayu mendominasi di hampir seluruh ruangan. Dinding-dindingnya dipenuhi pajangan unik dan menarik perhatian. Sofa dan meja bergaya vintage terlihat cantik dan nyaman di sekitar tungku perapian. Di sofa itu lah aku melepas penat pertama kali, setelah menempuh berjam-jam perjalanan dari Serang.

Suasana lobby a la living room khas western

Kalau kupikir lagi sekarang, waktu itu aku nekat sekali ke Bandung berdua saja dengan baby Karla. Membangun bonding lewat traveling, begitu alasanku kalau ditanya untuk apa pergi sejauh itu dengan bayi. Padahal jauh di hati kecilku, aku sadar, aku ini egois. Masih saja menomor-satukan jalan-jalan padahal bayi masih merah. Padahal, menurut sebagian besar orang, luka dalam pasca melahirkan belum juga kering. But it’s me, my life!

Toh, di antara keputusan-keputusanku yang terbilang nekat dan seolah tanpa pikir panjang itu, masih ada sedikit akal sehat yang kupakai kok. Seperti misalnya, aku lebih memilih stay di hotel saja selama 3 hari 2 malam, padahal De’Ranch hanya selemparan batu dari Sandalwood jaraknya. Juga Farm House Lembang dengan rumah hobbit tiruannya yang amat sangat ingin kulihat sejak lama.

Hutan pinus buatan di Sandalwood Hotel

Aku tak mau memaksakan diri jalan-jalan ke luar karena pertimbangan cuaca. Sebab saat itu sudah mendekati penghujung tahun, tepatnya akhir bulan November, dimana angin mulai bertiup lebih badai, dan hujan sering turun tiba-tiba. Untung saja hotel yang menjadi persinggahanku punya banyak hal menarik untuk memanjakan tamunya selama staycation. Sehingga tak ada celah untuk kata bosan. Pun untuk 3 orang yang juga berlibur bersamaku, Pungky si blogger ngehek dari Purwokerto beserta adik laki-lakinya, dan Jose yang sedang girang-girangnya bisa sejenak keluar dari rutinitas kerja sebagai PR di sebuah brand elektronik terkenal asal Taiwan.

Sore itu sebelum check-in ke kamar, kami menghabiskan waktu yang lama sekali di lobby. Berbincang tentang pengalaman perjalanan kami menuju Bandung yang penuh tantangan. Sambil ditemani camilan dan teh manis hangat sebagai welcome snack & drink yang memang sudah disediakan gratis.

Bahkan malamnya, kami memutuskan untuk tidak pergi makan malam ke luar. Walaupun di sekitaran hotel ada banyak sekali street food lezat yang bisa disasar. Bakso, sate, kebab, bakmi, sebut saja, Lembang yang notabene tak ada beda dengan Bandung punya banyak macam kuliner. Tetapi tentu saja kami memilih kembali mager di lobby hotel, yang mana disana terdapat cafe dengan beragam makanan dan minuman yang ditawarkan.

Savannah in Woodland nama cafenya. Seperti di negeri dongeng, ya?

Keberadaan Savannah in Woodland di area lobby ditandai dengan adanya meja bar panjang. Di sekitarnya terdapat banyak property dan perkakas yang diatur sedemikian rupa sehingga menambah nilai artistik.

Paling menarik, menurutku adalah rak yang menggantung di langit-langit, tepat di atas meja bar. Dan masih, rak gantung itu dipenuhi pajangan berupa botol-botol dan gelas minuman. Entah apakah mereka menyediakan alkohol atau tidak, yang aku tau, aku bisa memesan makanan dan minuman lezat di sana saat perutku mulai lapar.

Untuk mengisi perut yang kelaparan malam itu, kami memesan 4 menu berbeda, iga bakar, nasi hainan, sop buntut dan empal gentong. Semua disajikan bersama nasi dan side dish lainnya seperti kerupuk dan sambal. Masih belum cukup kenyang, kami memesan roti bakar dan pisang goreng. Sampai akhirnya malam semakin larut dan kelopak mataku menjadi berat. Aku butuh tidur.

Berbeda dengan Pungky, adiknya yang aku lupa namanya dan juga Jose. Setelah mengantarku ke kamar, mereka kembali ke lobby, seolah masih belum puas ngobrol berlama-lama di suasana yang nyaman dan menyenangkan.

Ditambah lagi, setiap tempat, bagian, sudut, dan apapun di Sandalwood Boutique Hotel begitu menggoda jiwa-jiwa narsis. Jadi entah jam berapa Jose, Pungky dan adik lelakinya itu kembali ke kamar, karena mereka seolah tak ada puasnya foto disana-sini. Padahal malam loh. Gelap loh. -_-

Sandalwood memang hotel yang sangat instagramable di setiap sentimeter sudutnya, jadi mau siang atau malam, terang atau gelap, fotomu akan selalu sempurna.

Dan sekarang, aku mau review satu persatu fasilitasnya. Simak yuk!

Kamar

Alona Room – Rate IDR2.788.000,-

Malam pertama di Sandalwood, kami menempati kamar Alona. Kamar tipe family room dengan luas 40 meter persegi. Ruangan selebar itu masih terlalu lega untuk menampung, dua tempat tidur ukuran double king di dalamnya, dining table dengan 6 kursi, meja kerja, juga beberapa sofa dan meja sebagai living room. Lemari pakaian dan meja rias juga tersedia. Tak ada kesan sumpek, karena bahkan area lantai yang terbuka masih sangat bisa untuk dijadikan lapangan bola bagi anak-anak. Ah, andai anak-anakku ikut menginap di sana. *dreaming

Tak hanya luas, disain kamarnya pun cantik, hangat, juga memberi kesan lembut. Seluruh permukaan dinding ditutup walpaper dengan warna kalem. Oya, kabarnya Sandalwood hotel punya disain yang berbeda untuk setiap kamarnya. Ini yang membuatku penasaran dan ingin melihat langsung setiap kamarnya.

Satu hal lagi yang aku suka dari kamar Alona, semua dinding-dinding yang menghadap keluar diberi jendela kaca yang sangat lebar. Sampai-sampai aku merasa seperti sedang berada di dalam akuarium.

Pemandangan di luar jendela pun menyenangkan. Ada panorama alam bebukitan hijau, juga hutan pinus kecil khas Sandalwood yang menyejukkan.

Psst, batang-batang pohon pinus yan tinggi menjulang itu bisa jadi background yang bagus untuk foto di sofa lho, sambil pura-pyra nonton TV dan pegang remote. Kayak si Jose tuh!

Kamar Mandi

Luas, bersih, nyaman. Air hangat tersedia, begitu juga dengan perlengkapan mandinya. Mulai dari handuk besar dan kecil yang bersih, sabun, sampo dan sikat gigi, serta tisu dan hal kecil lainnya.

Makanan & Dining Room

Sejak pertama kali tiba, Rizal, PR Sandalwood hotel sempat sangat menceritakan soal menu sarapan. “Makanannya tuh a la tradisional gitu, mba, kaya bumbu, dan … ah, besok cobain sendiri deh. Mba harus coba combronya”, ceritanya bersemangat.

Esok paginya, setelah melawan rasa malas beranjak dari balik selimut, kami menuju dining room. Lokasinya di gedung yang berbeda dengan kamar kami. Untuk menuju kesana, kami harus melewati area lobby, taman, kolam renang, lapangan bermain dan hutan pinus.

Dining room berada di lantai 2 dengan suasana setengah terbuka dan (lagi-lagi) nuansa hijau dan sejuk hutan pinus buatan sangat kental terasa.

Soal rasa makanannya, cerita Rizal ternyata bukan bualan. Kami kalap. Semua kami coba sedikit-sedikit. Bakwan jagung, combro, pisang goreng kampung, soto ayam, nasi kuning dengan sambal teri dan leunca, mi goreng, bubur ayam, omelete, dimsum, bubur kacang hijau, juga jamu dan rengginang. Iya, rengginang. Coba di hotel mana lagi ada rengginang?

Hanya di Sandalwood aku menemukan menu sarapan yang hampir semuanya masakan a la rumah. Mungkin kesan tradisional memang ingin ditonjolkan dibanding gaya modern dan kebarat-baratan seperti hotel pada umumnya. Biar begitu, menu modern pun tetap ada kok, seperti roti atau pastry, juga sereal.

Fasilitas

Parking area Sandalwood Boutique Hotel

Secara keseluruhan, Sandalwood punya 3 gedung yang berdiri terpisah namun menjadi satu mengelilingi area terbuka di bagian tengahnya. Di bagian terbuka ini lah terdapat kolam renang, lapangan bermain dan hutan pinus buatan. Di lapangan itu biasanya berbagai kegiatan bisa dilakukan oleh para tamu, seperti outbound, pesta ulang tahun atau wedding dengan konsep outdoor.

Area parkir tersedia gratis dan cukup luas. Ada ruang meeting juga. Intinya, Sandalwood hotel bisa jadi pilihan yang cocok untuk berbagai urusan, entah itu bisnis, family gathering kantor, atau sekadar staycation seperti kami kemarin.

Lokasinya juga mudah dijangkau dengan angkutan umum. Dari terminal Lewi Panjang Bandung, aku naik bus Trans Bandung ke terminal Ledeng, ongkosnya cuma lima ribu. Dari situ, aku lanjut dengan taksi online dengan tarif sekitar 30 ribu.

Akan tetapi, lebih dari itu semua, the main attraction of this hotel adalah disainnya yang instagenic. Setiap sudut ruangannya diisi pop art dan pajangan unik. Bahkan sampai kotak kayu palet dan labu pumpkin pun ditata apik sebagai pajangan.

Kalau kamu orang yang narsis sepertiku, kamu bakalan ngabisin buanyak waktu untuk foto disana-sini. Di kamar, di dining room, di loroong-lorong menuju kamar, di kolam, di hutan pinus, di balkon, bahkan di… toilet. Iya, karena di toilet pun dekornya cakep.

Salah satu sudut instagenic di dining area
Living room dekat dining area

Kalau nggak suka foto, dan nggak pergi jalan kemana-mana tapi bosen di kamar, kita bisa duduk-duduk santai di cafe yang ada di lobby, atau memilih di living room dekat dining area. Suasananya masih a la negara empat musim. Ada tungku perapian gitu. Sofanya lebar-lebar, empuk dan nyaman. Di tengahnya malah ada sebatang pohon besar dihiasi bunga-bunga.

Dekat dengan living room itu, ada sudut ruangan dengan sofa retro yang seolah jadi spot wajib untuk foto juga. Sebab ada mural kuda di dindingnya yang nggak kalah unik.

Spot wajib untuk foto di Sandalwood

Duh, ngomongin disain Sandalwood mah nggak ada habisnya. Wajar kalau aku dan kawan-kawan jadi males pulang saat disana.

Pulang, atau extend?

Hidup terlalu singkat untuk tidak dinikmati. Banyak orang bilang begitu, kan? Makanya, rasanya kok sayang sekali kalau menginap di Sandalwood cuma satu malam saja. Tebak apa pilihan yang kami buat karena itu! Yup, akhirnya kami memutuskan untuk menginap semalam lagi di kamar berbeda. Dan tentunya, Pungky dan Jose harus merelakan tiket pulangnya dengan kereta menjadi hangus. πŸ˜†

Oya, kamar kami selanjutnya tak kalah luasnya. Tak kalah cantik juga disain ruangannya. Ulasannya akan kutulis dalam postingan terpisah. Baca lagi nanti ya!

Satu hal yang ingin kutulis ulang sebagai penutup tulisan ini,

…aku tak pernah menyangka kalau Lembang bisa sehangat sore itu. Suasana nyaman Sandalwood hotel membuatku tak lagi merasakan dinginnya musim hujan.

24 thoughts on “Sandalwood Boutique Hotel dan Hangatnya Kota Lembang

  1. Aaah noted, aku mau nginap di sini aja ah kalau ke Lembang secara dekat ke De’Ranch dan lokasi kece lainnya. Lagian emang keren banget sih setiap sudut penuh dengan sentuhan tangan-tangan kreatif.

  2. Keren dan lumayan lengkap fasilitas hotelnya, berbanding lurus dengan harga kamarnya heheee…Kalo budgetku nggak sampe segitu….tapi paling tidak setelah membaca post ini aku jadi tahu seinstagramable apa butiq hotel itu..salam.

  3. Dah lama banget gak ke Lembang. DUlu kalau ke sana nginepnya di penginapan tua yang katanya horor hahaha.
    Penaaran sama Sandalwood boutique ini. Kasurnya dua jumbo2 ya enak kalau bawa keluarga πŸ˜€

  4. Wah aku baru tau kalau ada hotel sandalwood di Lembang, Bandung. Bisa jadi referensi kalau sama keluarga atau pas main-main pengen staycation. Enak banget deh kayaknya mbak tempatnya, instagramable banget. Aku juga suka sama foto-fotonya clear banget hehehe. Jadi mupeng

  5. Sandalwood ini emang cantik banget. Aku selalu ngiler pengen bobo manja di sini. Tapi lokasinya terlalu dekat rumah nenekku. Kalau ketahuan enggak nginep di rumahnya bisa-bisa kena marah sekeluarga besar aku. hicksss….
    Gini nih nasib keluarga besar aku di Bandung semua. Penuh mata-mata dimana-mana.

  6. Keren banget ya Mba, mulai dari kamarnya sampai kolamnya yang seger kelihatannya. Saya menuju halaman ini karena postingan IG tentang jalan-jalan bareng Baby Karla yang masih 2 bulan. Wow…. Amazing pokoknya Mba. Sehat terus ya…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.