NOE's Mind

Sampah si perusak kebahagiaan

myphoto(1)

Pada sebuah jalan yang lebih tepat disebut gang, di perkampungan penduduk di tengah kota yang sumpek. Setiap pagi, aku biasa melewatinya bersama anak-anakku dengan berjalan kaki menuju rumah Bapak di Cilegon. Dan pagi ini, lewat komentar yang dilontarkan oleh si bungsu, aku teringat pada teori dan pemikiran sederhana dari blognya Donna Imelda dengan judul hukum truk sampah.

Aku sedang berjalan tergesa karena diburu waktu. Segera setelah tiba di rumah Bapak untuk menitipkan Daffa’ & Abyan selama aku bekerja, aku harus kembali berjalan kaki ke jalan raya di titik tunggu yang dilewati bus jemputan kantor. Terlambat sedetik saja, aku bisa tertinggal. Sementera itu di sisi gang, seorang petugas kebersihan sedang sibuk dengan gerobaknya, memunguti sampah dari rumah ke rumah.

“Ibu, gerobak sampahnya bau!” Kata Abyan seraya menutup hidungnya.

“Namanya juga sampah, ya nggak ada yang wangi.” Sahutku.

Kupercepat langkah kakiku sehingga Daffa’ dan Abyan harus berlari mengimbangiku. Aku hanya ingin segera menjauhi gerobak sampah yang aromanya menyengat indra penciuman itu.

Dalam kehidupan bersosialisasi, jika kita mau teliti, ada golongan orang-orang yang bisa dianalogikan seperti truk atau gerobak sampah. Kemanapun pergi, sarat muatan. Membawa-bawa masalah dan dibagikannya kepada siapa saja yang ia temui.

Tidakkah semua keluhan akan segala permasalahan dalam hidupnya itu adalah sampah yang baunya menusuk-nusuk hidung?

Ada orang yang merasa hidupnya paling menderita di dunia. Kesana kemari mengeluh mencari simpati dengan menceritakan segudang masalah dan nasib buruk yang menimpanya. Meminta perhatian serta bantuan. Aku biasa menjuluki orang-orang seperti ini dengan nama dementor. Tokoh dalam film Harry Potter yang berkemampuan untuk menghisap segala kenangan indah dan kebahagiaan, sehingga hanya ketakutan dan kesedihan yang tertinggal di kepala. Aku, memilih menjaga jarak kepada orang-orang macam ini dari pada kebahagiaanku menjadi rusak.

Namun pada kenyataannya, kita tidak bisa sepenuhnya menghindar. Akan ada banyak truk dan gerobak sampah yang terus berjalan keliling yang akan kita temui di keseharian. Dan sangat mungkin ia tidak hanya membagi baunya, tetapi juga membuang sampahnya kepada kita, melalui curhat yang tak lepas dari keluhan dan caci maki sebagai bentuk kekecewaannya pada hidup.

Kita dituntut menjadi bijak dalam menghadapinya. Tidak sekedar anjing menggonggong lalu kafilah berlalu. Mungkin kita bisa berdoa agar dibukakan fikirannya sehingga sadar, bahwa hidup ini terlalu indah untuk terus dikutuk dan disesali.

Bahwa setiap orang juga memiliki masalah dalam hidupnya. Bedanya ada pada bagaimana kita menghadapi dan menyikapinya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.