Aceh

Sabang, dari Bunker Jepang sampai Sunset di Kilometer Nol

Rencana Backpacking ke Sabang sudah sejak setahun sebelum hari H. Tetapi anehnya, sampai di hari kami sudah menginjakkan kaki di Aceh pun, aku dan teman-teman ngga punya tujuan pasti mau ngapain dan kemana saja selama di Sabang.

Backpacking di Sabang
Landmark I heart Sabang

Trip kami kali ini memang terbilang santai. Mengalir saja, tergantung gimana situasi dan kondisi. Bahkan, telpon-telponan dengan driver yang mobilnya kami sewa pun baru kulakukan setengah jam sebelum kapal ferry merapat di pelabuhan Balohan, Sabang.

Untungnya si kurus dapat kenalan dan ngobrol banyak dengan teman barunya di kapal ferry. Teman barunya yang ternyata orang Sabang itu merekomendasikan kami untuk mengunjungi Bunker Jepang, Air Terjun Pria Laot, dan menikmati sunset di Titik Kilometer Nol, Indonesia. Kami pun manut!

Bunker Jepang Anoi Itam

Setelah turun dari kapal ferry, kami langsung bertemu dengan driver mobil sewaan kami, yang sekaligus menjadi guide di hari pertama kami backpacking di Sabang. Kami langsung minta diantar ke Bunker Jepang Anoi Itam.

Jalan-jalan hemat Sabang
Panorama laut & pantai di Sabang

Pemandangan di sepanjang perjalanan dari Pelabuhan Balohan menuju Bunker Jepang Anoi Itam, lumayan menghibur. Hutan dengan pepohonan hijau, berselang seling dengan panorama laut dan pantai. Sungguh sebuah pesona yang menyejukkan mata, setelah beberapa hari belakangan lebih banyak melihat gedung-gedung pencakar langit di Singapura & Kuala Lumpur.

Bunker Jepang Anoi Itam juga letaknya persis di sisi laut. Tepatnya di bagian timur pulau Weh, di atas bukit dan tebing karang yang cukup tinggi. Saat berada di sana, kita akan mendapati pemandangan laut lepas yang bisa memberi efek lega & bahagia. Namun harus hati-hati saat menikmati pemandangan dari atas tebing karang, karena banyak batuan karang terjal di sekitar bunker. Jangan sampai tersandung atau terpeleset, bisa luka terbentur karang yang terjal dan tajam.

Bunker jepang anoi itam
Papan penunjuk me Bunker Jepang
Obyek wisata Sabang
Ibu hamil mendaki bukit menuju bunker
Traveling hemat Sabang
Ngedeprok karena kecapekan setelah jalan menanjak

Untuk menuju bunker ini, kita harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 10 menit dari jalan raya. Melewati jalan setapak, dan menaiki beberapa anak tangga.Β Dan dibalik panorama indah di sekitar Bunker Jepang Anoi Itam, ada sejarah menarik dari masa penjajahan & Perang Dunia. Sebagai pulau kecil dan menjadi pelabuhan penting di jalur perdagangan dunia, Sabang menjadi tempat yang dipilih Jepang untuk membangun pertahanannya di wilayah Selat Malaka. Itulah alasan mengapa terdapat banyak bunker atau benteng peninggalan Jepang di Sabang. Dan bunker yang ada di pantai Anoi Itam ini salah satunya.

Air Terjun Pria Laot

Aku sama sekali ngga menyangka kalau jalan menuju Air Terjun Pria Laot itu ngga mudah untuk perempuan hamil. Padahal awalnya sempat bertanya pada guide kami, berapa jarak yang harus kami tempuh dengan berjalan kaki sampai ke air terjun. Katanya hanya 200 meter lewat jalan setapak yang sudah diplur semen. Ah, itu sih kecil, pikirku.

Air terjun pria laot Sabang
Ibu hamil yang nekat trekking

Tapi apa yang terjadi sodara-sodara? Jarak dari jalan raya sampai ke air terjun ada sekitar 1 kilometer! Bener sih, yang 200 meternya jalan setapak yang sudah diplur semen, tapi selebihnya harus nyebur ke sungai berbatu-batu karena jalan setapaknya terputus, amblas & longsor. Amboi, ibu hamil trekking lewat batu-batu besar nan licin di tengah sungai. Untungnya ada si kurus yang selalu siap membantu kalo aku kepayahan, dan teman-teman yang bantu jaga Daffa’ & Abyan.

Selama trekking di sungai, ada banyak bayi kepiting di atas batu. Ini yang bikin dilema kalau harus menjadikan batu itu sebagai pijakan. Aku kudu ngusirin bayi-bayi kepiting biar pada minggir. Tapi apesnya, suka ada aja yang ngga sengaja terinjak. Duh, hatiku bisa sampe nangis saat ngerasain ada mahluk kecil terinjak kakiku. Hiks… Semoga Allah mengampuniku. Aamiin.

Backpackeran di Sabang
Menikmati suasana sejuk air terjun

Setelah sampai di air terjun, aku cuma bisa duduk di atas batu dan mandangin air terjunnya. Padahal awalnya pingin nyebur dan mainan air. Tapi liat kondisi airnya yang ngga terlalu jernih kok jadi males. Plus ngerasa kecapekan juga sih. Jadi aku dan teman-teman ya cuma foto-foto aja.

Tugu Kilometer Nol Indonesia

Hari masih siang ketika kami meninggalkan air terjun. Kami memutuskan untuk check in terlebih dahulu ke penginapan di Iboih. Kami sempat tidur siang sebentar, baru kemudian menuju ke Titik Kilometer Nol Indonesia, saat sore menjelang.

Tugu Kilometer Nol Indonesia
Finally here, tugu kilometer nol, Sabang!

Gerimis tipis menyambut kedatangan kami di Tugu Kilometer Nol Indonesia. Kami lalu berteduh di warung-warung yang ada di pingiir jalan, di seberang tugu Titik Kilometer Nol Indonesia. Warung-warung itu didirikan di atas tebing yang berbatasan langsung dengan laut. Nah, berhubung viewnya yang langsung menghadap laut ke sebelah barat, jadi warung itu bisa jadi lokasi yang pas untuk duduk santai sambil memandangi sunset cantik di Titik Kilometer Nol Indonesia di Sabang.

Sambil menunggu gerimis reda, kami memesan beberapa makanan & minuman hangat. Teh tarik menjadi pilihanku untuk sore dengan udara yang lumayan dingin. Sampai akhirnya, matahari mulai tergelincir turun mendekati horizon. Cahayanya membuat langit dan awan menjadi merah jingga.

Sunset
Cloudy Sunset

Sunset cantik di Titik Kilometer Nol Indonesia, menjadi pelengkap cerita Backpacking di Sabang pada hari itu.

Baca juga: itinerary trip Aceh – Sabang

23 thoughts on “Sabang, dari Bunker Jepang sampai Sunset di Kilometer Nol

  1. Saya pernah nonton Jalan-Jalan Man yang ke sabang, dan itu air lautnya bening banget ya mbak…. sekarang liat postingan kayak gini, jadi makin pengen backpackeran kesana..

    Btw, foto yang melewati jalan batu-batu besar terus dipegangin ama suaminya, itu so sweet deh XD

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.