Sulawesi Selatan, Traveling

Romansa 1 September 2014

Sore ini usai mengunjungi beberapa pulau berpenghuni di dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, aku kembali menikmati sunset dari tepi pantai Pulau Tinabo. Cuaca memang tak secerah sore kemarin. Kali ini lebih banyak awan tebal. Namun bagiku itu tetap indah. Mungkin karena di kota tempat tinggalku, aku tidak akan mendapat panorama seperti disini.

DSC00627

Dihadanpanku, laut terbentang. Luas. Lepas. Tepat di ambang batas, ia bersentuhan dengan kaki langit. Aku ingat, lelakiku pernah memberitahuku sesuatu. Bahwa apa yang terlihat nyata di depan mata kadang hanya ilusi. Namun semua yang bisa dibayangkan, selalu memiliki kemungkinan untuk diwujudkan.

Kenyataan memang tak selalu sesuai seperti apa yang terlihat dengan kedua mata kita. Sedangkan kita seringnya terlalu cepat membuat kesimpulan atau menghakimi sesuatu tanpa mencari tahu lebih dahulu kebenarannya. Seperti halnya laut dan langit yang tampak bersentuhan itu. Tetapi dulu aku pernah membayangkan bahwa lelaki yang mengajariku tentang hal itu akan memiliku. Mendampingiku di sisa usiaku.

Dan kini impian itu telah menjadi nyata. Tepat di hari ini setahun yang lalu, Tuhan membuat impianku menjadi nyata.

Ah, ya! Dulu aku mengumpamakan diriku seperti apa yang dianalogikan oleh Bondan Prakoso dalam lagunya yang diberi judul Tak Sempurna. Maka rasanya tak berlebihan jika aku menyebut ia sebagai malaikatku meski tak bersayap.

Bersamanya aku mulai melihat dunia. Berharap dan lebih berani memperjuangkan harapan. Dan satu tahun bukanlah waktu yang sebentar bagiku. Tetapi mungkin merupakan kurun waktu yang singkat untuk sebuah perubahan positif yang telah terjadi. Lihat aku sekarang. Aku tak pernah menyangka bisa menjadi seperti ini. Sehingga mendapat pengalaman hebat di hari ini bersama Pak Camat Taka Bonerate dan Sekretarisnya.

Ini membuat aku sulit untuk tidak mentertawai diriku sendiri. Siapa aku? Sehingga mendapat perlakuan istimewa dari aparat desa seperti Pak Camat yang begitu antusias mengajakku berbincang, dan mengawalku kesana kemari.

Sepertinya beliau melihatku sebagai seorang penulis, hanya karena aku telah menulis satu buku panduan backpacking di Makassar & Sekitarnya. Sungguh, bagiku aku tak pantas mendapat penghargaan sehebat itu. Apalagi ditambah dengan harapan yang disampaikan olehnya. Berharap sebuah buku lagi lahir dariku, buku tentang Selayar dan Taka Bonerate. Sanggupkah aku?

Tetapi mungkin ini saatnya untuk membuat harapan baru. Bismillaah… Bukankah ada Dia yang tak pernah mengecewakan? Dan ada lelakiku yang membuatku lebih berani bermimpi.¬†Ditambah lagi dengan teman dan sahabat yang mengelilingiku dan turut menjadi penyemangat.

Ah, Tuhan memang selalu punya cara untuk membuat kita yakin dan semangat, bahwa dimana ada kemauan, maka disana akan selalu ada jalan. Kadang semangat yang ia susupkan ke dalam hati melalui cara yang sama sekali tak terduga. Seperti hari ini usai makan malam, aku mengobrol dengan salah seorang peserta Taka Bonerate Island Expedition VI 2014. Dia adalah seorang diver yang memiliki hobi fotografi. Dan rupanya, dia juga memiliki pasion dalam menulis.

Saat dia tau bahwa aku telah menulis sebuah buku, obrolan kami tiba-tiba menjadi akrab. Dia bahkan menawariku macbook-nya jika aku ingin menulis. Malu-malu aku menerima tawarannya, lalu mulai menuliskan catatan perjalananku.

Usai menulis, sekitar jam 1 malam, aku mengembalikan laptop bermerk apple itu kepada pemiliknya yang ternyata tengah asik memotret galaxy di langit bagian barat. Kebaikan hatinya kembali membuatku ketiban keberuntungan lagi. Pertama kali dalam hidupku, aku dipotret dengan background langit malam yang penuh dengan taburan bintang dan garis kabut yang biasa disebut milky way. Milky way itu melintang dari utara dan turun ke arah selatan. Sungguh malam yang indah!

Aku jadi ingat bagaimana bangganya aku pada arti namaku yang digabungkan dengan arti dari nama lelakiku itu. Nur untuk cahaya, dan Kartiko untuk bintang. Kami senang menyebut gabungan nama itu sebagai starlight. Aku dan dia, adalah bintang yang paling bercahaya. Setidaknya kami adalah cahaya dan bintang untuk dunia kami, keluarga kecil kami.

Don’t wanna close my eyes, don’t wanna fall asleep ’cause I miss you babe, and I don’t wanna miss a thing…

Lalu kami menutup malam dengan alunan lagu yang membuat kami sulit untuk benar-benar jatuh tertidur.

DEE_7920afb[1]
Foto oleh Abi Sija

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.