NOE's Mind

Road Trip ke Lombok dengan Camper Van

“Eh, gue pingin deh jalan ke Lombok”, tetiba si Abang nyeletuk saat kami sedang menikmati minggu pagi.

“Asik! Yuk, kapan?” Aku yang sedang asik menyeruput teh langsung saja excited.

“Tapi via darat”

“Ha?”

Aku yang semula excited tiba-tiba melongo mendengar pernyataanya. Kalo ke Lombok via darat dari Jakarta, berarti butuh berhari-hari tuh. Hmm… aku langsung saja menghitung berapa banyak jatah cuti kantor yang tersisa.

“Lo yakin mau resign, Bang?” pertanyaan itu langsung saja terlontar dari mulutku. Mengingat jatah cuti di tempat kerjanya tahun ini sudah habis karena digunakan untuk road trip ASEAN awal bulan April lalu. Dan kalaupun impian road trip ke Lombok ini dimasukan untuk resolusi tahun depan, dia tetap saja tidak akan leluasa mengambil cuti berhari-hari. Ssst… bosnya suka manyun kalo dia cuti panjang. 😀

“Ya… liat nanti aja!” jawabnya singkat menanggapi pertanyaanku yang kepo.

Hmm… aku mulai mengikuti irama si Abang yang plegmatis. Meskipun prinsipnya yang alon-alon asal kelakon itu kadang bikin geregetan. Tapi aku tau, dia orang yang ulet memperjuangkan impian. Nggak seperti aku yang grusak grusuk. Kalo punya kemauan, seketika itu emosi meluap, berapi-api, bergerak cepat. Tapi kalo impian itu nggak kunjung tercapai, lalu aku bakal bosen sendiri dan berfikir, eum… mungkin itu nggak baik untukku. Xixixi… payah!

Tapi kalo difikir-fikir, mungkin perbedaan kami yang antara ikan dan burung itu lah yang membuat kami klop.Kenapa ikan dan burung? Karena langit dan bumi udah terlalu mainstream. 😆

Credit
Credit

Ngomong-ngomong soal road trip Lombok via darat, otak kriminalku langsung aja membayangkan betapa serunya perjalanan kami nanti. Sementara si Abang yang mencetuskan ide adem ayem aja, aku malah menggebu-gebu.

“Bang, seru kali ya kalo kita jalan-jalannya pake camper van. Nanti di setiap kota kita mampir, ngulik ada destinasi wisata apa aja, nyobain kulinernya. Skalian kita ke Semeru juga, ke Baluran, nyebrang ke Bali, trus dari Bali nyebrang ke Lombok. Seru kan? Ya Kan?”

Mendengar angan-anganku yang selangit si Abang cuma menarik satu sudut bibirnya. Seperti biasa, dia kalem. Lalu dengan tetap menekuni rokok dan kopinya dia hanya mengucapkan satu kalimat. “Udah, bisnis dulu, nanti kalo dah sukses kita beli camper van”.

Satu jawaban yang lagi-lagi menunjukkan betapa berbedanya kami. Aku seorang pemimpi dan dia sangat realistis. Aku membayangkan jika traveling menggunakan camper van bersamanya itu benar-bebar terjadi, betapa perjalanan kami nanti akan penuh warna dan cerita. Menghabiskan seluruh waktu kami untuk bersama, dan tinggal dalam rumah berjalan yang serba minimalis. Terbayang juga betapa kami akan lebih bebas bergerak dari satu tempat ke tempat lain dan lebih banyak menghabiskan waktu di alam.

Ini mengingatkanku pada serial animasi ‘The Wild Thornberrys’, satu keluarga yang hidup berpindah-pindah dengan rumah berjalannya yang diberi nama ‘The Comvee’. The Wild Thornberrys ini bercerita tentang sebuah keluarga yang berkelana melintasi berbagai negara untuk membuat film dokumenter tentang kehidupan di alam liar.

Ya, meskipun kedengarannya menyenangkan, terutama untuk aku dan abang yang tergila-gila untuk bisa keliling dunia, namun tetap saja akan ada banyak masalah dan konflik yang ditemui. Seperti dalam keluarga Thornberries, konflik yang terjadi tidak hanya soal hubungannya dengan alam seperti medan yang berat atau ancaman binatang buas, atau konflik dengan penduduk dan budaya lokal yang berbeda. Tetapi juga konflik keluarga yang bisa dipicu dari perbedaan karakter masing-masing anggota keluarga.

Aku pernah membaca sebuah wawancara yang dilakukan oleh Lamudi, sebuah situs property online, dengan Alek Lisefski pada Proyek Rumah Mini miliknya. Dalam artikel hasil wawancara tersebut dijelaskan bahwa Alek dan pacarnya  telah berhasil membuat kehidupannya jauh lebih sederhana dengan pindah ke sebuah rumah trailer berukuran kurang lebih 2.5 x 6 meter, sehingga rumah ini tidak memerlukan lahan yang luas dan dirancang dengan konsep ramah lingkungan.

Design Rumah Alek, foto diambil dari Lamudi

Dampak positif dari keputusan mereka ini adalah hidup yang lebih sederhana, terorganisir dan efisien. Karena dalam rumah yang berukuran sangat kecil, Alek dituntut untuk cermat dalam memilih apa saja yang harus ada dalam rumahnya, dan meninggalkan hal-hal yang kurang penting. Dengan begitu ia belajar dan berfikir tentang apa yang yang sebenarnya mereka perlukan dalam hidup, dan mencari tau kemana prioritas perhatian yang seharusnya.

Seperti keluarga Thornberrys, Alek juga harus menghadapi beberapa masalah dan konflik dengan pasangannya, diantaranya karena terbatasnya ruang gerak dan harus berbagi tempat secara begantian jika harus menenangkan diri dengan menyendiri di dalam rumah.

Ya, dimanapun dan dengan cara apapun kita tinggal dan menjalani hidup, pasti akan ada enak dan nggak enaknya. Hal terpenting sebenarnya adalah bagaimana kita menyikapi segala situasi yang terjadi. Dan sepertinya menarik untuk mencoba menjalani hidup seperti mereka. Yuk, Bang, kapan kita ajak anak-anak road trip ke Lombok pakai camper van? 😀

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.