Banten

Rindu alam Baduy

Selalu ada alasan untuk kembali. Satu kalimat yang beberapa hari ini selalu aku gunakan untuk menjawab pertanyaan dari beberapa teman. Noe mau ke Baduy lagi?

Weekend terakhir di bulan Mei 2013 lalu aku telah berhasil melawan rasa lelah. Bersama Daffa’ menjelajah sebagian tanah adat Baduy dan trekking sejauh 30 kilometer untuk bisa pergi dan pulang dari kampung Cibeo di kawasan Baduy Dalam. Dan besok, Sabtu-Minggu, 28-29 September 2013, aku akan kembali ke Baduy. Namun kali ini bersama Abyan.

Selain karena Abyan belum pernah aku ajak ke Baduy, alasan lain mengapa aku ingin kembali adalah karena Baduy memiliki kharisma tersendiri. Sulit dijelaskan memang, seperti apa kharisma itu. Yang jelas, aku terpesona dengan kearifan lokalnya. Bagaimana masyarakat adat Baduy hidup rukun di pedalaman, damai, jauh dari peradaban modern. Selalu menjaga keseimbangan alam, di tengah hutan, diatas bukit yang diselimuti pohon-pohon hijau. Sungai-sungai mengalir, airnya jernih dan bebas dari sampah. Jembatan-jembatan bambu yang melintang diatasnya pun tak kalah eksotis.

Aku juga rindu senyum-senyum ramah penduduk asli Baduy yang selalu tersuguh untuk para pendatang. Kaum perempuan yang malu-malu menunduk sambil menekuni kesibukannya menenun kain, dan anak-anakĀ  dengan wajah datar duduk di beranda rumah panggung. Aku juga rindu suguhan khas Baduy. Minum teh dengan gelas yang terbuat dari bambu dan camilan potongan gula aren. Aku rindu tidur di atas lantai bambu beralas tikar, dengan bantal dari kapuk yang dibungkus karung beras plastik ukuran 5 kilogram. Sunyi namun damai, tanpa listrik, tanpa tv atau gadget. Hanya ditemani suara binatang malam yang bersahutan hingga pagi.

Aku juga penasaran, seperti apa besok perjalananku bersama Abyan? Balita yang masih kolokan itu. Meski Abyan sudah berjanji akan berjalan sendiri tanpa minta gendong, tapi aku tau betul seperti apa dia. Aku tidak akan bisa jauh-jauh dari pemandu pasti. Salah seorang penduduk dari Baduy dalam yang sekaligus jasanya akan aku gunakan untuk menggendong Abyan. Track yang berat itu, tanjakan cinta yang menguras habis tenaga itu.., aku bisa memperkirakan kemampuanku. Aku pasti tak akan kuat menggendong Abyan sendiri sejauh 30 kilometer. Tapi aku yakin, perjalanan ini pasti akan tetap memberi sejuta rasa yang akan menguatkan ikatan cinta antara aku dan Abyan.

Baduy, tunggu aku yaa…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.