#Resolusi 2014 – Buku Backpacking With Children

Sentosa Island Singapura

Entah kenapa, aku selalu bisa menangis jika harus mengisahkan lagi bagaimana waktu-waktu yang sudah aku lewati bersama Daffa’ dan Abyan. Kedua anak lelakiku yang sejak mereka lahir, maka terlahirlah aku sebagai seorang ibu. Meski aku hanyalah sesosok ibu yang tak bisa sempurna untuk mereka. Aku tidak pandai memasak, apalagi harus memikirkan menu apa yang bergizi sekaligus menggugah selera makan anak. Aku tidak sabaran jika menemani anak-anak belajar. Menemukan sedikit saja kesalahan, darahku bisa naik ke ubun-ubun.

Tapi, jika difikir-fikir lagi, adakah manusia sempurna di dunia ini? No bodies perfect! Begitu katanya. Dan seberapapun banyaknya kekuranganku, aku mencoba untuk tidak arogan. Kuakui semuanya. Kuterima diri apa adanya. Dan andai saja segala keruwetan di kepalaku bisa tergambar, mungkin seperti benang kusut dan basah yang sulit diurai. Yang kufikirkan, bagaimana caranya agar anak-anak tetap bahagia karena memiliki ibu sepertiku?

Air mata kerap jatuh saat malam hari. Saat dua malaikat kecilku sudah terlelap. Saat memperhatikan mereka yang sudah jauh ke alam mimpi. Bersama helaan nafasnya yang teratur dan begitu damai. Aku merasa sedih jika mengingat bahwa sehari-hari yang memasak dan menemani mereka bermain bukanlah aku. Aku merasa berdosa ketika malam sebelum tidur yang kupunya hanya sisa-sisa tenaga setelah seharian bekerja. Menemani mereka belajar atau membuat PR tanpa kelembutan. Perih jika mengingat mereka harus menangis karena caraku mengajari mereka sama sekali tidak menyenangkan.

Apakah kedengarannya konyol, jika aku memilih menebus dosa karena ketidak-sempurnaanku sebagai ibu dengan cara backpacking with children? Aku tidak tahu. Tapi, di moment itulah aku merasakan kedekatan secara batin dengan anak-anak. Menjauh dari rutinitas. Menjejak jalanan panjang sambil terus bergandengan tangan. Menghadapi segala suka dan duka bersama di tempat yang asing. Jauh dari rumah. Jauh dari kerabat. Jauh dari kata nyaman. Dan hanya aku dan dua malaikat kecilku yang tak henti memohon perlindungan kepada Sang Maha.

Ya. Mungkin saja ini memang konyol. Dengan segala kenekatan yang aku jalani. Jalan-jalan dengan dua anak sekaligus? Bukan sekedar kerepotan yang aku siap ambil sebagai resikonya. Tetapi, dengan keadaanku yang berstatus single parent, dengan ketebatasan ekonomi, aku rela mewujudkan impian anak-anak untuk mencicipi terbang mengangkasa bersama burung besi. Menembus awan dan mendekati langit biru. Kugunakan kartu kredit untuk membeli tiket dengan periode terbang satu tahun ke depan. Tak tanggung-tanggung, pengalaman terbang pertama kali bersama anak-anak adalah untuk mencapai negara tetangga. Dan kartu kredit pula yang aku gunakan untuk akomodasi selama bertahan hidup di negeri orang.

Sebuatlah semua itu sebuah pengorbanan. Tapi bagiku, pengorbanan itu bukan hanya untuk membayar kesenangan semata. Kenangan. Kebersamaan dengan anak-anak yang akan selalu manis dan terlalu manis untuk dilupakan. Meskipun itu berupa kenangan pahit. Aku yakin, akan selalu ada pelajaran berharga yang bisa dipetik.

Kenangan, kata Corie Ten Boom, adalah kunci; bukan kunci untuk membuka masa lalu, tapi kunci untuk membuka masa depan.

*****

Eh, apa hubungannya tulisan sepanjang itu dengan Proyek Monumental Tahun 2014?

Tenang…tenang…

Itu adalah beberapa paragraf yang rencananya akan dijadikan prolog dalam buku yang sangat ingin aku terbitkan. Sebuah buku yang memuat kisah-kisah perjalananku bersama anak-anak. Inilah impianku sejak lama, yang insyallah akan segera terwujud. Aamiin.

Yakin bisa terwujud?

Why not! Anggaplah ini sebuah resolusi. Setelah gagal mewujudkan resolusi tahun 2013 untuk menerbitkan buku ini, maka aku akan mencobanya lagi di tahun 2014. Sebelumnya, beberapa contoh tulisan sudah aku coba kirimkan ke beberapa penerbit. Dan semuanya menolak. Hal ini hanya berarti bahwa kualitas tulisanku belum baik. Baiklah, mari perbaiki diri.

Selain itu, mari mengevaluasi. Mengapa impian ini gagal terwujud di tahun 2013. Pasti bukan hanya karena kualitas tulisan. Setelah aku fikir-fikir, sepertinya salah satu penyebabnya adalah karena kurangnya perencanaan. Betul kata PakDe Cholik, perencanaan bisa menjadi alat pacu untuk meraih impian itu sendiri.

Ternyata, alasan yang kuat mengapa kita harus mencapai impian tertentu itu belum cukup. Dibutuhkan perencanaan yang baik, konsisten dan usaha nyata untuk mewujudkannya.

Baiklah, berikut adalah perencanaan se-realistis mungkin, yang aku buat untuk impian menerbitkan buku Backpacking With Children.

Selain itu, dengan mengikuti kontes ini, tentu saja aku berharap bisa jadi pemenang. Lalu semua kenangan backpacking with children bisa diterbitkan dengan Penerbit SixMidad, Bogor. Aamiin… Semangat! Semangat!

Akhirnya, untuk menutup postingan ini, ijinkan aku mengutip satu kalimat affirmasi yang selalu tertanam dalam benakku;

Hope, Faith, & Courage is making something happen!

Leave a Reply