Tips Blogging

Renungan dalam catatan perjalanan

Sentosa1

Ada benarnya juga quote yang aku semat dalam foto Daffa’ dan Abyan yang aku ambil saat kami melakukan perjalanan bersama ke Singapore bulan Mei 2013 lalu. Meski tidak sepenuhnya benar. Saat aku membawa Daffa’ & Abyan untuk going abroad pertama kali, aku membuat itinerary yang sangat padat. Alhasil kami seperti dikejar setan. Berlari kesana kemari mengejar target lokasi yang harus kami kunjungi. Lebih tepatnya lokasi yang ingin aku kunjungi. Anak-anakku tak punya pilihan, mereka harus ikut kemanapun ibunya pergi. Egois!

Dan meski begitu, tetap banyak cerita yang aku dapat. Banyak makna yang bisa aku petik. Banyak pelajaran untuk aku memperbaiki diri serta caraku bertraveling kedepannya. Itu yang ingin aku tuliskan. Sampai-sampai aku bercita-cita menerbitkan bukuku sendiri yang isinya adalah kisah perjalananku bersama anak-anak. Namun aku juga sadar, aku belum punya kemampuan yang cukup untuk itu.

Tadi malam, aku sempat mengobrol dengan salah seorang penulis via aplikasi chat BBM. Lebih tepatnya konsultasi. Ia adalah Achi TM, founder Rumah Pena yang sudah menulis banyak buku. Darinya aku mendapat banyak pelajaran. Utamanya tentang menulis sebuah catatan perjalanan.

Bahwa sebuah catatan perjalanan seharusnya dapat menyuguhkan something different, sebuah cerita yang lebih dari sekedar situasi dari tempat yang kita datangi, atau lebih dari sekedar cerita kegiatan kita selama traveling.

Aku sempat merasa bingung. Something different? Aku fikir, kisah suka dan duka bersama anak-anak dalam perjalanan kami sudah cukup menyentuh. Ternyata aku salah. Selain aku belum mampu menuangkannya dalam tulisan dengan bahasa yang benar-benar dapat menyentuh, rupanya aku juga kurang merenung. Renungan tentang makna dan gambaran puitik dalam perjalanan-perjalanan kami. Padahal, ada perasaan-perasaan mendalam yang kadang membuncah dan tak jarang membuat aku menangis haru bersama anak-anak.

Achi juga mengatakan, bahwa traveling itu seperti memotret satu sisi perjalanan. Tergantung pada kita yang memegang kendali lensa kamera, potret seperti apa yang ingin kita suguhkan. Lalu bisa juga diangkat filosofi dari potret tersebut. Mendengar tentang potret dan filosofi itu, aku malah semakin bingung. Lalu kuminta Achi memberikan contoh sebuah potret dan filosofi perjalanan. Berikut adalah tulisan singkat dari Achi untuk menjawab rasa penasaranku. Oya, sebelum menulis ini, Achi sempat membaca catatan perjalananku yang terakhir bersama anak-anak ke Baduy.

“Anak-anak yang ada di hadapanku ini seperti kereta. Ada banyak kenangan yang naik dan turun dalam gerbong hidup mereka. Aku berharap bisa menjadi masinis yang baik, yang bisa membawanya menuju tempat-tempat paling indah di dunia.

Anak-anakku pernah didatangi memori-memori pahit. Gerbongnya suram karena penumpang-penumpang bernama perceraian. Tapi aku yakin kelak anak-anakku akan terbiasa dengan penumpang-penumpang nakal itu. Toh pada akhirnya mereka akan turun juga. Dan masih banyak penumpang yang baik seperti pemuda pemudi tadi.

Masih banyak kenangan baik yang bisa mampir ke gerbong memori anak-anakku. Aku harap memori yang baik itulah yang akan mereka jadikan pengalaman.”

Hmm.., ya ya, aku mengerti sekarang, meski baru sedikit. Aku juga sempat bertanya, adakah tips agar aku bisa mendapat filosofi-filosofi seperti itu setiap kali menulis? Achi bilang, aku harus banyak merenung, lebih peka saat traveling. Berwudhu, shalat dan banyak membaca syahadat, serta mohon agar dibukakan fikiran sebelum menulis. Yups, Bismillah…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.