Banten, Traveling

Punya Bayi? Jangan Hiking!

Hiking ke Batu Lawang Merak

Kakiku semakin gemetar saat menemukan tanjakan curam dan berbatu di depan mata. Dengan nafas masih terengah setelah berjalan beberapa puluh meter di jalan setapak, sambil menggendong bebe Ranu. Rasanya, aku ingin berbalik arah saja.

Iya, sempat terlintas dalam fikiran untuk mengurungkan niat hiking sampai ke Batu Lawang. Tapi ada rasa malu. Mengingat perdebatan sesaat sebelum berangkat ke Batu Lawang, antara aku dengan teman-teman piknik buku.

Piknik buku adalah agenda rutin yang diadakan oleh komunitas Rumah Buku Cilegon. Kegiatannya sederhana saja, mengajak anak-anak dan umum untuk membaca buku. Kebetulan pada Minggu 11 Oktober 2015, piknik buku diadakan di rumah temannya kak Anazkia, di desa Gerem, di daerah Merak.

Menjelang sore, saat kegiatan piknik buku sudah selesai, tercetus ide untuk melipir ke Batu Lawang. Kebetulan lokasi Batu Lawang masih di sekitaran Gerem juga. Jaraknya sekitar 2 kilo meter dari rumah temannya kak Anazkia. Aku yang sudah belasan tahun tinggal di Cilegon namun belum pernah ke Batu Lawang, tentu tergoda untuk ikut.

“Kamu yakin mau ikut?” Tanya Kak Magda yang merupakan founder Rumah Buku Cilegon.

Aku tersenyum. Tetapi bukan senyuman manis yang kuberikan. Melainkan senyum tengil yang menunjukkan kesombongan. Oh, ayolah! Gue bisa kok hiking sambil gendong bebe. Fikirku sombong.

“Nur, kamu di sini aja. Jangan ikut, ah! Mba Anaz takut, ih, bawa-bawa bayi.” Seolah tau aku yang bakal ngeyel dan memaksa ikut, Mba Anaz menyergahku.

“Emang track nya susah banget?” Tanyaku santai sambil menggendong bebe dan membuat gerakan tubuh berayun agar bebe Ranu tertidur.

“Ngga susah banget, sih. Cuma trekking sekitar 500 meter. Jalan setapak gitu, tapi cingcay lah buat emak yang udah biasa mbolang.” Jawab Mahfudoh yang sudah berkali-kali ke Batu Lawang.

Mendengar penjelasan Mamah, panggilan akrab Mahfudoh, senyumku semakin tengil. Aku yakin, Kak Magda, Mba Anaz, dan teman lain yang melarang karena khawatir dan peduli padaku dan bebe Ranu, sudah malas mengingatkanku yang tingkat kengeyelannya lebih tinggi dari hewan bernama tinggi.

Tau, kan, hewan bernama tinggi? Kalau tumbila? Nah, itu nama lain dari tinggi. Hewan kecil yang senangnya nyelip di kasur yang jarang dijemur dan bikin badan kita gatal-gatal kalau kena gigitannya. Agaknya seperti itulah aku yang kerap membuat orang lain gatal ingin mengomel, karena aku suka nekat dan ngeyel.

Usai perdebatan itu, akhirnya kami berangkat juga ke Batu Lawang menggunakan sepeda motor. Dan ternyata, jalanan yang harus kami lewati kondisinya cukup extreme. Badan jalan yang sudah ditutup aspal itu letaknya persis di lereng bukit dan bersisian dengan jurang. Itu membuatku tak dapat menikmati panorama hijau yang terhampar sejauh mata memandang. Yang kurasakan saat itu hanyalah takut kalau sampai sepeda motor yang kami tunggangi terpeleset jatuh ke jurang.

Rute ke Batu Lawang
Berhenti sejenak demi sebuah foto

Sepanjang jalan, selama dibonceng oleh suamiku, mulutku komat kamit tak henti berdoa. Saking takutnya. Tetapi suamiku malah dengan santainya mengajak ngobrol. Tak jarang ia memintaku memotret beberapa objek menarik yang ia lihat.

“Ribet, Bang, ribet!” Jawabku kesal, sambil satu tangan memegangi bebe Ranu dalam gendonganku, dan satu tangan lain berpegangan pada pinggangnya.

Ia lalu berhenti di tengah jalan. Mengambil handphone dari dalam tas selempang dan diberikannya padaku.

“Nih, pake hape gue.” Katanya.

Aku mendengus kesal. Memang sih, dokumentasi itu penting, dan akan sangat membantu saat menulis cerita untuk di blog nantinya. Dan itu juga yang menjadi kekuranganku. Kadang aku terlalu asik menikmati suasana, atau sibuk pada hal lain sehingga harus menyesal ketika menyadari tak punya foto pendukung untuk diposting di blog. Ah, jika mengingat itu, aku jadi bersyukur punya suami yang tingkat narsisnya lumayan, yang sebentar-sebentar minta difoto, meski fotonya ngga pernah dia upload.

Tetapi kebiasaannya jeprat jepret itu juga sering membuatku kesal. Karena seringnya aku jadi jalan sendirian. Sehingga saat aku membutuhkannya, aku harus merasa BT karena ia tak ada. Ya, seperti kali ini, ketika trekking ke Batu Lawang dan menemukan tanjakan curam berbatu di jalan setapak.

Jalan setapak menuju Batu Lawang
Jalan setapak menuju Batu Lawang

Di deoan tanjakan itu aku terpaku, merasakan kaki yang semakin gemetar. Dadaku semakin sesak karena rasa lelah dan menahan kesal. Lenganku semakin erat memeluk bebe Ranu yang tertidur pulas dalam gendongan.Β Suamiku mana? Seharusnya kan dia siap siaga di dekatku dan bebe Ranu. Kalau ngga sambil gendong bebe, sih, aku ngga akan deh ketergantungan sama dia. Aku mengomel dalam hati.

“Mau saya bantu, Teh?”

Dua orang remaja lelaki yang tak kukenal menawarkan bantuan dari arah punggungku. Entah bagaimana ceritanya suamiku itu, yang tadinya berjalan di belakangku, bisa berubah jadi dua orang brondong seger kinyis-kinyis. Apa mungkin ia membelah diri? Duh, sepertinya aku dehidrasi, sehingga sulit menggunakan logika.

Sepertinya dua remaja itu hendak ke Batu Lawang juga, dan mereka berjalan lebih cepat dari suamiku. Jadi wajar saja jika aku tersusul. Karena seingatku saat start jalan kaki, hanya ada aku, suami, dan teman-teman piknik buku. Yasudah, mari anggap saja hadirnya dua brondong itu sebagai pertolongan dari Tuhan. Atau bisa juga berarti ‘makanya kalo punya bayi ya sadar diri, ngga usah segala hiking’!

(Bersambung ke: “Aih… Gusti!”, Begitu Reaksi Mereka)

48 thoughts on “Punya Bayi? Jangan Hiking!

  1. Hallo mba Noe salam kenal, keren banget hiking bawa bayi mba πŸ™‚ ..
    aku rencana mau ke batu lawang mba, sama udah bertahun2 di Cilegon tp belum pernah kesana hehee . mau info dong mba kalo kesana naik motor ada penitipannya ga ya?extreme bgt kah jalan menuju batu lawang?warga lokalnya gmn mba ramah?rencana kesana berdua aja sama temen jadi antisipasi πŸ™‚

    1. Haai, salam kenaal. Ada penitipan motor pas di masjid, aman kok. Jalan ke arah batu lawang ya mayan extreme sih, tp jalannya bagus, aspal alus semua. Warga lokal ramah, tenang aja πŸ˜‰

  2. Untung dirimu langsung kurus lagi abis lahiran..jd lumayan lah buat ngencengin betia juga kan. Coba aku …wes bawa badan dewe aja ga kuat tambah bayi pula… gempor plus betis makin seksii :p

  3. Kalau sama bapaknya sih rada ayem ya, kalau ada apa2 bisa belain heheheee…. Soalnya yang suka ribut itu biasanya kakek nenek budhe pakdhe dll.

  4. Ya Allah… ngga kebayang ribet dan capenya bawa bayi hiking. Baca tulisan ini ko jadi gemes sendiri ^__^ gemes soalnya hiking sambil gendong bayi, mba noe bener-bener nekat xixixi. Tapi, liat pemandangan dari batu lawang, sepertinya capenya kebayar ya mbak.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.