NOE's Mind

Proses Penulisan Naskah Finding Islam

FB_IMG_1456673009381

Sudah berjalan setahun lebih sejak buku “Finding Islam” yang diterbitkan oleh Qultumedia. Euphoria bahagia sebagai salah satu penulis buku itu rasanya sudah tak seheboh dulu saat baru terbit. Malah kadang suka lupa kalau aku ini pernah nulis buku itu bersama penulis keren lainnya. Untung kadang masih ada temen yang ngingetin. *halagh*

Ceritanya seminggu yang lalu, Ojrahar ngga enak badan. Dasar orang yang lagi ngga enak badan, pinginnya jajan yang seger-seger. Kayak mi ayam atau bakso. Tapi berhubung aku lagi ngga kepingin bakso, jadilah kuajak dia makan mi Aceh Paman Sam, mi Aceh paling terkenal di Cilegon.

Kebetulan kedai mi Aceh Paman Sam ini deket banget dengan kantor temanku yang seorang founder Piknik Buku. Kak Magda namanya. Jadi kupanggil aja sekalian makan bareng. Sambil makan, kami ngobrol. Dalam obrolan itu kami membahas tentang kegiatan MIDB (Maling Ilmu Dari Buku).

MIDB sudah beberapa kali diadakan dan sukses. Jadualnya rutin secara mingguan, yaitu setiap malam Jum’at. Konsepnya sharing, dari kita untuk kita. Pembicaranya ya teman-trman sendiri juga. Sharing tentang satu buku yang paling disukai. Gitu deh.

Nah selama MIDB berjalan, kalau ngga salah sudah 7 kali, aku belum pernah sekalipun datang. Maklum ada bayi. Padahal pingiin banget ikut. Sebab teman-teman Piknik Buku, dan komunitas Semestarian ini asik-asik dan menyenangkan.

Aku sempat sampaikan keinginanku untuk bisa sesekali datang MIDB. Kak Magda sih maklum banget aku belum bisa ikutan. Tapi habis bilang maklum maklum malah dia nodong.

“Wes, kamu nanti dateng jadi malingnha aja sekalian”

“Ha?”, aku melongo.

Awalnya aku yo ragu. Mau ngomong apaan di depan temen-temen kalo aku berani bilang iya ke Kak Magda? Rasanya ngga PeDe. Haha. Tapi Kak Magda meyakinkan, ngomong mah ngomong aja. Wong sama temen sendiri ini. Suasananya juga santai.

Ya, bener juga sih. Biasanya juga kalo ngumpul ya becandaan biasa aja. Jadi sharing isi buku juga pasti bisa dong. Dan kufikir bagus juga sih untuk dicoba. Itung-itung sekalian belajar membiasakan diri untuk berani tampil. *padahal mah biasanya ngga tau malu* 😆

Maka aku setujuilah permintaan Kak Magda untuk jadi maling. Dengan syarat, aku ngga mau bahas isi buku, tapi mau bahas bagaimana proses kreatif penulisan ceritaku yang masuk dalam antologi Finding Islam itu.

Proses Penulisan Cerita

Jika aku ingat lagi bagaimana proses penulisan buku itu, rasanya masih nggak percaya sih. Ngga percaya bahwa akhirnya aku terlibat juga dalam proses penulisan bukunya.

Finding Islam

Memang, awalnya Sang Editor lah yang mengirimiku email tawaran untuk menulis naskah catatan perjalanan. Dia bilang, ini untuk project antologi tentang perjalanan ke luar negeri. Dalam email itu disebutkan bahwa sasaran pembaca adalah anak-anak muda. Maka naskah yang diminta agar ditulis dengan gaya bahasa santai dan diselingi humor. Selain itu, naskah juga harus memuat fakta-fakta tentang islam atau perjalanan jiwa yang berhubungan dengan hal-hal religi.

Email itu aku terima pada pertengahan April 2014, ketika aku bau saja kembali dari road trip ASEAN. Waktu itu aku juga baru menerima naskah buku “Backpacking Makassar” dari editor Elexmedia untuk direvisi. Rasanya crowded sekali otakku karena kebanyakan yang harus dikerjakan.

Aku tidak langsung menerima tawaran menulis dari editor Qultumedia. Alasannya, karena aku miskin cerita dari perjalanan di luar negeri. Cerita yang kupunya rasanya hanya capek kesana kemari untuk foto narsis di landmark-landmark di Negara-negara yang aku kunjungi. Wekekek. Oya,  ditambah lagi, yang membuatku merasa ngga mungkin bisa ikut project buku ini adalah karena yang dicari oleh editor adalah cerita yang berlatar di sekitaran Eropa, Australia, atau Amerika. Lah, aku kan belum pernah kesana. *ngik ngok*

Selama beberapa hari setelah email penawaran itu, editor terus menghubungiku via Direct Message di twitter, chat di whatsapp, dan ngobrol via telepon. Kusampaikan saja tentang keraguanku saat itu. Aku takut tidak bisa menuliskan dengan baik pengalaman jalan-jalanku di ASEAN. Eh, malah editornya mendapat ide lain.

“Bagaimana kalau mba nurul menulis catatan perjalanan di Indonesia?”, katanya. Jreng…! Aku malah makin bingung. Hahaha 😀

Aku meminta waktu lagi untuk berfikir beberapa hari. Tawaran ini…ambil nggak ya? Ambil nggak? Ambil nggak? *ngitung kancing*

Tiga hari kemudian aku ditelepon lagi. Ditanya lagi. “Bagaimana, Mba?”, tanya mas editor.

Eng…jujur, aku masih belum yakin. Tetapi, aku harusnya malu pada diri sendiri kalau menolak tawaran ini. Bukankah aku mengaku menyukai tantangan? Bukankah aku biasanya selalu memanfaatkan setiap kesempatan yang ada? Kalau nyerah, itu sih namanya kalah sebelum bertanding. Lagian mau alasan apa lagi coba? Udah dikasih kemudahan untuk nulis tentang Indonesia juga!

“Yes, I’ll try!” Akhirnya aku menjawab tidak dengan kata ‘NO’. Lalu mulailah aku mikir lagi. Nulis tentang apa? Harus 13 halaman A4 dengan spasi 1 loh. Buanyak banget itu menurutku. Kadang, nulis 1 postingan blog dengan panjang 500 kata aja suka kehabisan kata dan bisa berjam-jam cuma menatap kosong ke layar laptop. Namun setelah berfikir panjang, akhirnya aku memutuskan menulis tentang perjalananku ke Makassar (lagi).

Begadang lah aku setiap hari. Nulis naskah untuk Qultumedia, dan merevisi naskah untuk Elexmedia, bergantian. Setiap hari waktu tidurku cuma sekitar 3 jam. Tidur jam 3 pagi dan sudah harus bangun jam 5 subuh. Sedap! Biasanya kan aku jagoan tidur. Xixixi

Sebenarnya aku merasa kesulitan saat menulis naskah ini karena harus menulis dengan bahasa santai dan ngocol. Padahal biasanya di blog nulisnya sok-sok romantis. Ditambah lagi, sedang mengerjakan naskah buku panduan backpacking dengan bahasa baku. Wew, 3 gaya penulisan yang berbeda! Sebagai newbie di dunia tulis menulis, jujur aku stress. Tetapi aku terus paksakan menulis sambil terus mengucapkan kalimat sakti, “Bismillah…bismillah… paksakan!”

Seminggu kemudian, naskah selesai. Aku langsung menyetorkannya ke editor. Mau tau apa komentar editor untuk pertama kali setelah membaca naskahku?

Katanya, “Mba, ini humornya kurang banyak” hiks!

Kukatakan saja, “Mas, mungkin selera humorku dalam tulisan agak buruk. Mohon bantu edit dan ditambah-tambahi, ya.” *ngelunjak*

Setelah menyetor naskah, penantian sampai terbit menurutku nggak terlalu lama. Pertengahan Agustus aku dikabari bahwa naskah dari 7 penulis sudah selesai diedit. Beberapa hari kemudian, aku menerima editan naskah untuk dicek ulang. Hari berikutnya aku mendapat layout, kemudian email alternative judul buku dan contoh-contoh covernya. Awal September, bukunya terbit dan mulai didistribusikan ke toko-toko buku.

Bagiku, ini pengalaman yang menyenangkan. Selain menulis, aku dan penulis-penulis lain yang terlibat dalam project buku “Finding Islam” juga dimintai pendapat untuk menentukan judul buku dan design cover. Dan kebahagiaanku tidak sebatas itu, aku merasa sangat senang dan tak pernah menyangka bisa menulis buku bareng traveler-traveler kece yang sudah terkenal. Harapanku, buku “Finding Islam” ini bisa diterima dan disukai pembaca, selain berharap jadi best seller tentunya. Aamiin 😉

Gagal Maling

Well, cerita soal proses penulisan catatan perjalananku di Sulawesi Selatan ini kutulis disini karena kemarin gagal maling. Harusnya jadwal malingku Kamis malam Jumat (25 February 2016), jam 7 malam sampaibdengan selesai. Berhubung hujan turun dengan derasnya mulai habis magrib, dan ngga reda sampai menjelang pagi. Yasudah lah, acara terpaksa gagal. Jadi sebelum aku lupa, aku tulis dulu ya di blog, tentang materi yang mau disharing ke temen-temen soal buku antologi Finding Islam ini. Kalau nanti acara MIDB nya di reschedule, aku tinggal intip aja materinya di sini. Haha.

5 thoughts on “Proses Penulisan Naskah Finding Islam

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.