Banten, Curcol

Piknik Buku di hari Minggu

“Yaayy! Film doraemon…” Kudengar Daffa’ berteriak kegirangan saat serial kartun favoritnya hendak diputar di stasiun TV yang sedang ditontonya. Di salah satu sisi dapur di tempat cuci aku masih sibuk dengan mesin cuci dan pakaian kotor di dalamya. Tepat di atas kepalaku, ada cahaya matahari masuk dari atap yang bagian gentengnya digantikan dengan fiber transparan. Minggu yang cerah.

Di hari libur kerja seperti ini biasanya aku pulang ke rumah suami di Jatibening, atau pergi backpacking. Tapi dua hal itu tidak masuk dalam agendaku di weekend ketiga bulan Oktober ini. Pfiuh… Aku menghela nafas. Berat. Seketika aku teringat pada sebuah janji dengan Mba’ Anazkia yang kubuat tadi malam, serta setumpuk pakaian kusut yang kulemparkan begitu saja di sudut ruangan kamar kosong setelah turun dari jemuran dalam kurun waktu sebulan terakhir. Dilematis. Pergi bersama Mba’ Anaz dan teman-temannya, atau di rumah saja menyeterika baju?

Tiba-tiba dari arah kamar kudengar HPku berbunyi. Tanda pesan whatsapp masuk. Cepat-cepat aku berjalan menuju kamar, meninggalkan dapur yang sudah setengah rapi setelah tadi aku sempat mencuci piring dan perkakas masak kotor. Sudah kutata rapi di tempatnya. Piring, gelas, mangkok dan sndok dalam rak. Serta panci dan wajan kugantungkan pada paku di tembok diatas kompor.

October 20, 2013

Nurul udah siap? 8:27 AM

Mbak anas belum mandi 8:28AM

Ini baru selesai bikin combro 8:28 AM

Oh tidak! Combro? Glek! Aku menelan ludah. Sudah lama kami membicarakan soal combro dalam grup whatsapp blogger Serang-Cilegon. Sejak beberapa bulan lalu grup ini dibuat dengan maksud menumbuhkan semangat ngeblog di daerah tempat tinggal kami. Kami merencanakan untuk berkumpul dan ramah tamah. Dan Mba Anaz, berjanji akan membawa combro. Namun sampai saat ini, rencana tersebut belum terealisasi. Mungkin juga akan tersealisasi hari ini.

Mau jemurin pakaian trus mandi hehe 8:35 AM

Segera kubalas pesan Mba Anaz. Combro itu menggodaku untuk keluar dari rumah. Pakaian kusut itu, biar nanti kujadikan alibi untuk membuka lapangan kerja kecil-kecilan. Setelah gajian, aku akan minta tolong orang lain untuk menyetrikanya.

*****

Aku sudah mandi dan berpakaian. Kali ini style pakaianku sedikit berbeda dari biasanya. Celana kulot batik dengan karet di bagian bawah yang mengikat pergelangan kakiku ini yang membuat berbeda. Untuk atasan aku tetap memilih kaos. Gaya kerudung simpel dan sandal gunung favorit. Tak lupa ransel kusandang di punggung. Sebenarnya agak ragu, aku pantas nggak ya pakai kulot seperti ini?

Kembali aku ucapkan mantra sakti itu. Ah, pede aja lagi! Lalu aku melangkah meninggalkan rumah bersama Daffa’ dan Abyan. Menuju pangkalan ojek di pintu gerbang komplek perumahan Bukit Kramatwatu Indah.

Saat aku sudah duduk di sepeda motor yang akan membawaku ke jalan raya dimana banyak angkot lewat, Hpku berbunyi lagi. Mba Anaz lagi. Rupanya Ia sudah sampai lebih dulu dan sedang menungguku. Setelah bertemu, kami akan sama-sama naik angkot menuju Serdang. Tepatnya ke depan komplek perumahan Bumi Mutiara Wanayasa. Disana nanti, kami akan bertemu dengan Magda. Ia adalah penggagas @RumahBukuClg dengan kegiatan yang rutin ia lakukan setiap minggu yaitu piknik buku.

“Mba, sebenernya kita mau kemana?” kuajukan pertanyaan pada mba Anaz sebelum kami naik angkot menuju rumah Magda. Bodoh memang, aku memutuskan pergi tanpa tahu jelas tujuannya. Tapi dalam hati aku meyakini satu hal, berkumpul dengan orang-orang positif seperti Mba Anaz pasti bukan hal sia-sia.

Jujur saja, seperti kebanyakan orang lainnya yang mengenal sosok Anazkia, aku juga mengaguminya. Sejak pertama dikenalkan oleh Mba @TiasTatanka pada Februari lalu. Mba Anaz yang waktu itu masih bekerja di Malaysia sebagai TKW dan kebetulan sedang mudik ke Serang. Ia punya banyak kegiatan yang sangat inspiratif dan luar biasa dengan komunitasnya yang bernama BHSB (Blogger Hibah Sejuta Buku).

Aku sempat mengajaknya kerja sama dalam sebuah kegiatan jalan-jalan ala Backpacker Koprol yang selalu mengusung tagline “More Than Traveling”. Waktu itu pada Maret 2013, kami jalan-jalan ke gunung Krakatau sambil bakti sosial di sebuah sekolah SD di pulau Sebesi. Dan aku semakin mengamumi mba Anaz saat profil tentangnya banyak diangkat oleh para blogger karena ia memenangi ajang Srikandi Blogger sebagai Srikandi Terfavorit.

“Kita mau piknik buku, Nur,” mba Anaz menjawab pertanyaanku dengan nada lembut dan sabar seperti biasanya. Piknik Buku? Kegiatan menakjubkan macam apa lagi itu?

“Mba Anaz bersyukur banget loh, Nur,” kudengar Mba Anaz hendak menyampaikan perasaannya. Membuat pertanyaanku berikutnya tertahan di kerongkongan. “Kadang Mba sendiri nggak habis fikir, dalam hidup Mba Anaz ini kok bisa selalu dipertemukan dengan orang-orang yang hebat dan berhubungan dengan buku,” lanjut Mba Anaz tentang rasa syukurnya.

“Jadi, Mba, aku mau tanya, piknik buku itu apa sih?” kulempar juga rasa penasaranku. Bukan aku tak ingin memberi tanggapan atas ungkapan perasaannya itu, aku hanya tak tau harus berkata apa.

“Piknik buku itu jalan-jalan bawa buku, trus ngajak orang untuk baca-baca,” Mba Anaz menjelaskan. Aku menyimak. “Biasanya Kak Magda piknik bukunya di Krakatau Junction, tapi kali ini kita lagi pingin masuk ke kampung. Semalem mba kasih masukan, kita ke Gerem aja,” jelasnya lagi. Krakatau Junction adalah pusat perbelanjaan yang ada di Cilegon. Ada jogging track dan playground juga disana.

Terjawab sudah. Berarti kali ini kami bukan sekedar akan kumpul-kumpul para blogger, tetapi juga piknik buku.

*****

Kami sudah berada dalam mobil Kak Magda sekarang. Toyota yaris berwarna abu-abu metalik yang dikemudikan Kak Magna meluncur menuju Gerem. Sebuah kampung di kawasan Merak – Banten. Dalam mobil ini, aku lebih banyak diam. Aku mengengarkan dengan seksama obrolan Mba Anaz yang duduk di kursi depan, di sebelah Kak Magda.

Dua manusia berjenis kelamin perempuan ini asik berbincang tentang teman-teman meraka yang semuanya ajaib. Ada satu kalimat yang paling kuingat yang dituturkan oleh Kak Magda dalam perjalanan menuju Gerem.

“Aku tuh kayak merasa blessing banget menemukan Aip. Kadang aku bertanya-tanya juga. Sebenernya aku yang ditemukan oleh Aip, atau aku yang menemukannya?” katanya.

“Iya ya. Aip itu ganteng banget kalo lagi njelasin soal astronomi,” timpal Mba Anaz.

*****

Menjelang siang, kami tiba di sebuah kampung di Gerem. Kampung Kawista namanya. Di teras rumah milik temannya mba Anaz, dua keranjang buku milik Kak Magda digelar. Anak-anak, para remaja dan ibu-ibu berkumpul mengerubuti buku-buku itu. Awalnya mereka memang malu-malu. Namun Kak Magda dengan keramahannya mampu mencairkan suasana.

“Ini, Bu. Coba deh liat buku ini, bagus banget isinya,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah buku pada seorang Ibu.

“Ada yang mau Kak Magda bacain bukunya? Tapi khusus untuk anak-anak loh ya,” sambil memegang sebuah buku dongeng, ia menawarkan diri untuk membacakan buku kepada anak-anak yang masih malu dan takut hendak meraih satu buku di keranjang buku.

Daffa’ dan Abyan yang sudah mulai terbiasa dengan buku sudah lebih dulu memegang buku cerita bergambar yang ia ambil dari salah satu keranjang.

“Ibu, bacain yang ini,” Abyan merengek minta dibacakan sebuah buku berjudul Bebek ingin menjadi Merak. Kubacakan buku itu untuk kedua anakku. Sementara aku lihat semua orang juga kini mulai sibuk dengan buku di tangannya masing-masing. Kak Magda juga, sudah mulai membaca buku dongeng untuk anak-anak.

Menjelang siang, datang berkumpul dengan kami, Ijal, Ari dan Haqi. Belakangan aku baru tau, mereka bukan sekedar blogger saja. Sekumpulan pemuda ini membuat sebuah komunitas dengan nama semestarian. Sudah banyak kegiatan yang mereka lakukan seperti Dream Trigger, Story Telling, Galileo Jr, dan beberapa kegiatan lain yang sasarannya adalah anak-anak. Dan kegiatan yang akan datang rencananya akan digelar pada pertengahan Desember 2013, yaitu Science Day. Hmm…, anak-anakku suka science. Sayangnya, aku sudah ada agenda backpacking bersama suami ke Bali dan Jogja.

*****

Sama seperti Mba Anaz yang merasa bersyukur bertemu Kak Magda, juga seperti Kak Magda yang merasa diberkati karena dipertemukan dengan Aip yang melabeli dirinya dengan nama @NebulaKidz di twitter, aku pun merasa sangat beruntung bisa berkenalan dengan orang-orang hebat dan inspiratif seperti mereka, Mba Anaz, Kak Magda, juga yang lainnya.

Aku tertinggal jauh dari mereka yang talk less do more. Tidak seperti aku yang lebih banyak omong besar. Aku mulai bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah aku lakukan untuk negeriku?

Menutup tulisan ini aku ingin sedikit membuat benang merah dari rasa syukur kami karena dipertemukan dengan orang-orang hebat dalam hidup kami.

“Jika kita berfikir positif, maka akan menarik lebih banyak orang-orang positif untuk masuk dalam lingkaran pertemanan kita.”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.