Tips Traveling With Children

Persiapan Mental Sebelum Backpacking With Children

Setelah beberapa kali saya coba mengajak Daffa’ dan Abyan pergi jalan-jalan ala backpacker, sekarang saya sudah merasa cukup memiliki keberanian untuk menulis tips backpacking with children.

Persiapan mental sebelum pergi backpacking adalah point penting. Karena dalam setiap perjalanan akan selalu ada banyak hal tak terduga yang bisa saja terjadi. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, berikut adalah beberapa tips mempersiapkan mental sebelum backpacking with children.

 

Ada yang ngambek

BUKA & TUNJUK PETA

Beberapa hari sebelum pergi backpacking, saya akan menceritakan kepada Daffa’ dan Abyan tentang destinasi wisata yang akan kita tuju. Biasanya kami akan sama-sama membuka dan menujuk peta. Kami lalu berbincang tentang nama kota, apa yang akan dilakukan, bagaimana dan alat transportasi apa untuk menuju kesana, serta kondisi tempat yang akan didatangi.

Karena tidak semua destinasi wisata ramah untuk anak-anak, misal, keterbatasan alat transportasi dan kondisi jalan yang mengharuskan untuk trekking berkilo-kilo meter. Seperti Baduy yang mengharuskan pengunjung berjalan kaki sejauh 13 kilometer untuk mencapai kampung Baduy Dalam. Maka, sebelum pergi, saya menceritakan semuanya kepada anak-anak, termasuk kondisi tempat menginap yang tanpa kasur, misalnya. Anak-anak harus mengetahui semua kemungkinan terburuk untuk bisa memilih, apakah mereka akan tetap ikut, atau memilih tinggal di rumah?

MEMBUAT KESEPAKATAN

Setelah mengetahui semua kemungkinan buruk, dan anak-anak tetap memilih untuk ikut, maka selanjutnya adalah membuat kesepakatan. Kesepakatan antara aku dan anak-anak biasanya adalah, untuk tidak mengeluh dan tidak boleh rewel. Mungkin ini terkesan bahwa saya terlalu tega kepada anak. Tapi aku ingin mengajarkan kepada mereka untuk mandiri, belajar mengambil keputusan setelah memahami segala konsekwensinya.

Meski biasanya, dalam prakteknya anak-anak tetap saja rewel. Terutama Abyan yang masih tergolong balita. Jika sudah terlalu lelah, Abyan pasti ngadat dan minta digendong. Menghadapi ini, tentunya saya sebagai ibu yang harus siap mental. Jika tak punya banyak waktu, aku akan menggendongnya. Namun jika tidak sedang terburu-buru, maka kami memilih untuk beristirahat sejenak.

SALING SUPPORT

Saya, Daffa’, dan Abyan, biasa melakukan ini selama backpacking. kami saling menguatkan satu sama lain. Terutama untuk Abyan. Abyan yang memang masih berusia 4 tahun, terkadang memutuskan untuk ikut backpacking hanya karena tak ingin ditinggal oleh ibu dan kakaknya. Saat kesepakatan terpaksa dilanggar karena mereka kelelahan, saya akan memaklumi. Menggendong anak adalah konsekwensi yang harus saya tanggung.

Untungnya, Daffa’, sebagai anak pertama yang usianya beda dua tahun lebih tua dari Abyan, ia sudah mulai mandiri dan peka. Saat Abyan sudah mulai ‘nangkring’ di punggung ibunya, biasanya Daffa’ akan membujuk Abyan untuk mau kembali jalan kaki. Atau saat di ruang tunggu sebelum naik pesawat dan Abyan ketakutan. Abyan memang takut naik pesawat, katanya takut jatuh. Saya dan Daffa’, sambil menunggu saat boarding, akan mengajak Abyan mengobrol. Memberikan kata-kata pendukung agar Abyan tidak takut lagi.

Kata-kata pendukung tidak hanya diberikan kepada Abyan, ternyata saya sebagai orang dewasa pun bisa saja mengalami stress saat backpacking. Seperti saat saya kehilangan handphone di Sentosa Island. Daffa’ dan Abyan justru menguatkan dengan kata-kata pendukungnya.

“Ibu jangan sedih, nanti kalo udah punya uang, kita beli aja lagi.”

Mendengar kalimat-kalimat itu meluncur dari Daffa’ & Abyan, saya sangat terharu. Menyadari bahwa hal terpenting dalam hidup, dimanapun kita berada, kita akan selalu kuat karena ada orang-orang di sekeliling kita yang akan selalu memberi dukungan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.