Resensi Buku

Perjalanan Cinta Yang Tidak Biasa

 

Judul Buku         : KOMA (cinta tanpa titik)

Penulis                : Mercy Sitanggang

Penerbit              : Story House

Cetakan               : I, 2013

Tebal Buku         : 246 halaman

*****

Lima tahun menjalin hubungan cinta tentu bukan waktu yang sebentar. Selama itu pula Bianca menjaga kesetiaannya pada Alex. Namun sayangnya, mereka malah bertengkar hebat pada hari ulang tahun Alex. Dan setelah pertengkaran itu, semua berubah. Alex tak pernah lagi menghubungi Bianca. Beberapa hari kemudian tepat di hari jadi mereka yang kelima, Bianca berinisiatif menemui Alex di rumahnya. Disinilah Bianca menyadari bahwa kesetiannya telah ternodai. “Sosok laki-laki yang aku cintai itu sedang tertidur di atas ranjang, bersama dengan seorang perempuan lain.” (hal.43)

Pengkhianatan itu membuat Bianca frustasi. Terlebih saat Alex terpaksa menikahi perempuan yang telah dihamilinya. Padahal Bianca telah memberikan segalanya untuk Alex, termasuk kehormatannya. Sakit hatinya pada Alex memicu dendam dan menyulut api kebencian pada semua lelaki. Bianca kemudian menjadi player. Kebahagiaannya berpaling pada laki-laki dan isi dompetnya. “Jadi, buatku. Cinta itu kartu ATM atau kredit Card. Cinta itu tidak lebih dari shopping.” (hal.101)

Vennya yang menjadi sahabat terdekat Bianca dan tinggal dalam satu rumah, membantunya bangkit dari keterpurukan. Konflik memanas  justru ketika Bianca menemukan semangat barunya. Ia jatuh cinta lagi kepada Wayan. Sosok lelaki berwajah malaikat yang ternyata adalah sepupunya Vennya.  Saat Bianca mulai yakin bahwa Wayan adalah cinta sejatinya, Wayan malah membuka jati dirinya sebagai pria yang sudah memiliki istri dan anak. Akhirnya Bianca memilih pergi, meski sebenarnya rumah tangga Wayan sudah retak jauh sebelum mereka berkenalan.

Bianca kembali diliputi kesedihan yang mendalam. Ditambah lagi dengan kejujuran Vennya pada Bianca yang menjadi klimaks dalam novel KOMA (cinta tanpa titik). Vennya yang seorang janda kembang itu, mengaku mencintai Bianca.

Bertubi-tubi peristiwa pahit dalam hidup, membawa Bianca pada koma. Bianca terserang radang selaput otak. Dan sementara Bian koma, Vennya dan Wayan justru bertengkar memperebutkan Bianca. Lalu bagaimana kelanjutan ceritanya? Apakah Bianca akan sembuh? Lalu, siapa yang akan dipilihnya? Vennya atau Wayan?

KOMA (cinta tanpa titik) adalah novel pertama bergenre dewasa yang ditulis oleh Mercy Sitanggang. Kisahnya dituturkan dengan jujur dan berani. Melalui akun twitter, Mercy Sitanggang mengaku bahwa Koma (cinta tanpa titik) diangkat dari kisah nyata dalam kehidupan pribadinya. Jika sebelumnya Mercy Sitanggang menulis buku-buku humor seperti diantaranya yang berjudul Cerita Casting Gokil, dan Hantu Galau. Maka kali ini penulis akan membawa pembaca pada sisi kehidupan cinta yang kompleks dan serius. Pacaran, freesex, putus, frustrasi, dendam, cinta sesama jenis, sampai dengan dunia gemerlap ibu kota.

Perjalanan cinta Bianca yang seperti ini memuat pesan moral untuk kaum perempuan, bahwa seharusnya kita memang tidak mudah terlena oleh sumpah setia atas nama cinta. Kehormatan perempuan jangan sampai diberikan begitu saja tanpa adanya ikatan perkawinan. Karena belum tentu sebuah hubungan (pacaran) akan berakhir dengan pernikahan. Namun jika memang semuanya telah terjadi, yang bisa dilakukan oleh perempuan adalah bangkit dan berubah lebih baik, karena setiap manusia berhak hidup bahagia di masa depan.

Yang membuat saya tertarik pertama kali, sehingga membuat saya memutuskan untuk membeli novel ini adalah puisi yang ditulis di bagian depan covernya. Puisi yang manis tentang harapan seorang kekasih untuk bisa hidup berbahagia dengan orang yang dicintainya. Dan warna covernya yang hitam dihias tanda koma besar, membuat kesan duka yang mendalam. Ini pasti tentang perjalanan cinta yang tidak biasa.

Membaca KOMA (cinta tanpa titik) pada bab-bab awal memang sedikit membosankan karena dibuka dengan kisah betapa rindunya Bianca pada Alex, yang digambarkan dengan kalimat yang banyak diulang dalam setiap paragraf. Namun jika kita teruskan membacanya, berbagai konflik yang hadir justru membuat kita ingin terus membaca untuk mencari jawaban bagaimana akhir dari kisah cinta Bianca.

Dan jika bicara soal ending, cerita di bab terkahir yang menjadi penutup KOMA (cinta tanpa titik) ini benar-benar tidak terduga. Meski terkesan menggantung, namun penulis tetap mengarahkan pada happy ending dalam imajinasi pembaca.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.