All about love

Penerimaan Sempurna

*** ūüôā ***

“Bukan cinta namanya jika tanpa romantisme, bahkan terkadang sangat dramatis.”

Kemarin aku membuat kalimat itu untuk ditampilkan sebagai endorsement di sampul buku novel. Tak lama lagi novelnya akan terbit. Penulisnya adalah temanku. Ceritanya  gokil. Alurnya tak terduga. Saat membacanya aku bisa tiba-tiba cekikikan sendiri, kadang ikut terjebak dalam kisah yang mengharu, dan ikut tegang kalau sampai di bagian konfliknya yang cadas.

Tapi sebenarnya kali ini aku bukan hendak menuliskan review novel tersebut. Melainkan ada sesuatu dalam hati, tentang rasa yang mungkin akan sulit untuk diungkapkan secara gamblang disini, yang bisa diakses dengan mudah oleh siapa saja.

Saat mendegar lagu dalam video youtube yang aku semat di atas, dan menghayati liriknya, seperti ada yang meledak meletup di dalam dada. Bahagiakah aku? Haru? Mengapa?

Hidup tidak lepas dari yang namanya takdir. Sayangnya aku belum khatam mempelajari bab takdir itu. Aku lebih faham bahwa dalam hidup selalu ada pilihan. Maka jika menyadari seperti apa statusku sekarang sebagau single mom, semua akan tau bahwa ini adalah pilihanku sekitar lebih dari dua tahun lalu. Oke, mungkin juga aku ditakdirkan untuk memutusksn pilihan itu?

Dan seperti yang kita semua tau, selalu ada harga yang harus dibayar untuk setiap pilihan. Selalu ada resiko, dampak baik dan buruknya. Maka, jangan memutuskan apapun jika belum siap dengan segala resikonya. Lihat dampak buruknya yang selalu mendampingi benefit yang akan diterima.

Mencoba sedikit kilas balik pada hari dimana aku dihadapkan pada pilihan itu. Aku tau, bagaimana negara Indonesia tercinta ini, yang didalamnya terpelihara dengan baik akan persepsi negatif tentang miss “J”. Bukan aku tak takut, aku toh tetap manusia dengan segala sifat human beingnya. Butuh setengah tahun untuk berfikir, hingga akhirnya kubawa langkah kaki ke sebuah gedung dengan ruang-ruang yang di dalamnya terdapat kursi dan meja hakim. Dan setelah satu langkah itu terlewati, setengah tahun kedepannya adalah masa-masa dimana aku merasakan yang namanya depresi.

Saat itu, waktu tidak sekedar berhenti, bahkan seolah berjalan mundur. Orang-orang di sekitarku telah melesat jauh ke depan, menjalani hari mendekati garis finishnya masing-masing. Sementara aku masih diselimuti bayang-bayang ketakutan, sosok hantu yang aku ciptakan sendiri dalam ruang  hayal. Dan bahkan aku tak tau harus berjalan ke arah mana. Dan bahkan, beberapa orang memvonis aku tak yakin dengan keputusanku. Itu penyebab terbesar kenapa aku harus takut pada bayanganku sendiri. Bukankah itu satu kemunduran?

Aku pernah mencontek kata-kata bijak entah milik siapa. Bahwasannya setiap manusia itu memiliki ketakutan yang sama. Letak perbedaannya adalah pada bagaimana mereka mengatasi ketakutannya itu. Terus melawan atau memilih menyerah. Ya, sekali lagi, hidup hanya soal pilihan. Dan ketika aku sibuk dalam diam meladeni hantu yang terus mencabik-cabik keberanianku untuk melangkah kedepan, tuhan tak pernah diam. Dia selalu punya cara untuk memberi pertolongan, yang kadang tak pernah kita sangka bagaimana cara dan jalan ceritanya. Melalui sahabat-sahabat yang dijadikan-Nya sebagai perantara, yang terus meyakinkan bahwa aku layak memiliki masa depan dan impian. Terima kasih ya Allah untuk mengangkatku dari keterpurukan, terimakasih sahabat yang tak bosan mengulurkan tangan kepadaku.

Lalu mulai kubangun lagi istana impian yang pernah lebur. Beberapa puingnya masih menyisakan cerita kejayaan yang pernah ada. Tak kutinggalkan. Masa lalu, seburuk apapun, ia tetap bagian hidupku. Aku berterima kasih karena aku tau dan bisa melihat kini, sebuah gambaran masa depan yang seharusnya lebih indah dari yang pernah hancur. Kuhapus segala tanya yang hanya menciutkan nyali. Apakah masih ada yang mau menerimaku? Pertanyaan konyol kan?

Tetapi benar adanya jika aku seperti apa yang dianalogikan dalam lirik lagu Tak Sempurna oleh Bondan & F2B.

“serupa bunga tanpa mahkota, seperti air mineral tanpa O2”

Jadi wajar kan kalau aku sendiri merasa takut?

Hingga tiba saatnya aku kembali berdiri, tegap, dengan langkah mantap dan menatap lekat ke depan. Satu impian mulai menari-nari di pelupuk mata. Tak lepas dari pandangan. Meski kadang sempat terfikir impian ini hanya semacam omong kosong, tapi aku percaya ada keajaiban.

Baiklah, jika ada yang mau menerimaku, ku sebut ia tsubasa no nai tenshi. Sosok manusia biasa yang sudi merengkuhku yang tak sempurna ini. Aku bahkan berani memelihara ekspektasi bahwa ia tidak saja menerimaku apa adanya, tetapi juga bersyukur karena menemukanku.

Dan hari ini, disinilah aku. Dengan wajah bersemu karena penerimaanmu yang begitu sempurna. Terima kasih.

Menutup tulisan ini, kembali aku ingin mengutip dua bait dalam lagu Tak Sempurna yang masih menjadi favoritku. Lagu yang pertama kali kudengar dari MP3 player di handphone seorang lelaki, yang pada pundaknya ingin kusandarkan sisa hidupku.

“Karena¬†satu¬†untuk¬†alasan¬†walau¬†itu¬†buruk
Ku cinta semua walaupun kau tak berbentuk
Aku seperti plato dalam pemahaman
Dunia indrawi bukan bentuk keindahan

Mungkin kau mengerti, mungkin kau tidak
Masa lalumu seperti gading yang bisa retak
Mungkin kau sadari, mungkin kau tidak
Tapi¬†ku¬†yakin¬†kau¬†tetap¬†yang¬†sempurna”

*** ūüôā ***

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.