#10daysforASEAN

Never Ending ASIA, dari Jogja untuk Indonesia

Indonesia kaya dengan beragam budaya, namun di sektor wisata, Malaysia lebih berhasil mem-branding “Truly ASIA”. Kira-kira apa ya branding yang cocok untuk Indonesia? Buat tagline, dan jelaskan kenapa tagline itu cocok untuk Indonesia di kawasan ASEAN.

Pertama kali membaca tantangan hari ketiga untuk lomba blog #10daysforASEAN yang saya copy paste dan tercetak tebal di atas itu, saya langsung teringat dengan tagline Jogja yang entah dicetuskan oleh siapa dan kapan. Jogja Never Ending ASIA, digunakan untuk membangun citra daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki berjuta pesona. Mulai dari keindahan alam, wisata sejarah, kuliner, sampai budaya jawa yang menjadi daya tarik utama wisatawan yang datang.

Coba ketik kata kunci “Never Ending ASIA” di mesin pencari google, kata Jogja tak akan lepas mengiringi tagline yang muncul pada hasil pencarian google. Sama seperti kata Malaysia yang selalu melekat dengan tagline Truly Asia-nya. Bukankah ini sesuatu yang menarik? Jogja yang merupakan satu dari banyak provinsi di Indonesia sudah memiliki brand. Hallo Indonesia, apa brandmu?

Dari Jogja Untuk Indonesia

Satu pertanyaan lalu muncul di benak saya, mengapa Never Ending ASIA tidak digunakan saja untuk tagline sektor pariwisata Indonesia?

Secara sederhana menurut pemikiran saya, ‘never ending’ dapat diartikan bahwa terlalu banyaknya kekayaan pesona Jogja yang tidak akan pernah selesai untuk dijelajahi dan dinikmati. Atau bisa juga diartikan bahwa Jogja tidak akan pernah menjadi tujuan yang membosankan untuk dikunjungi, lagi dan lagi. Jika Jogja saja sudah sedemikian kayanya, bagaimana dengan Indonesia sebagai negara dengan 17.000 lebih pulau dan dibagi dalam 34 provinsi, dimana Jogja merupakan satu di antaranya?

Saya lalu teringat pada sosok penulis yang dikenal sebagai seorang travel writer, Gol A Gong. Pada tahu 1987 Gol A Gong mengelilingi Indonesia dalam waktu 8 bulan. Itu pun belum semua provinsi didatangi. Di tahun-tahun berikautnya Gol A Gong secara terus menerus melanjutkan petualangannya di bumi Indonesia. Hingga penjelajahannya yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2013 ini yaitu tour Sumatra dari mulai aceh sampai ke Lampung dalam waktu 50 hari. Selain sebagai traveler yang mengagumi kekayaan Indonesia dari sisi pariwisatanya, keindahan Indonesia juga memberi banyak ispirasi yang dituangkan oleh Gol A Gong dalam bentuk tulisan. Banyak buku hasil karyanya yang menjadi best seller seperti salah satunya Balada Si Roy yang kini berusia 25 tahun. Dan karya terbarunya yaitu buku berjudul Airmata Kopi yang merupakan buku kumpulan puisi dari hasil tour Sumatra tahun 2013 ini.

Dari sepenggal cerita tentang Gol A Gong tersebut, saya hanya ingin mencoba menunjukan bahwa Indonesia yang maha kaya ini memang benar adanya. Coba hitung, sejak tahun 1987 hingga 2013, Gol A Gong mengaku belum selesai menjelajahi setiap jengkal tanah Indonesia. Terakhir kali saya berbincang dengan beliau pada 25 Agustus 2013 di puncak gunung Krakatau, Gol A Gong menuturkan keinginannya untuk melakukan tour Kalimantan karena banyak pulau-pulau di sekitar pulau Borneo ini yang belum sempat didatangi. Jadi, kapan penjelajahanmu dirasa cukup wahai pejalan?

Indonesia, Never Ending ASIA

Kita pernah merasa gerah dengan adanya iklan Malaysia Truly Asia yang ditanyangkan di televisi. Ada pula yang beranggapan bahwa bukan salah Malaysia dengan mebuat iklan dengan beberapa adegannya yang seolah mencomot warisan budaya Indonesia, karena Malaysia dan Indonesia memang serumpun melayu dengan kebudayaan yang mirip. Dan ada benarnya juga pendapat yang mengatakan bahwa kita punya porsi kesalahan dengan tidak menjaga warisan budaya sendiri sehingga mudah saja dicuri oleh negara tetangga yang serumpun.

Malaysia memang sukses mem-branding dirinya dengan tagline Truly Asia. Sekarang yang terpenting bagi Indonesia adalah membangun brand kita sendiri yang juga bagian dari Asia dan memiliki berjuta eksotisme yang bisa diandalkan termasuk dalam hal pariwisata. Dengan cara yang elegan inilah kita berperang merebut kembali warisan budaya Indonesia.

Dulu, mungkin bagi wisatawan asing, Indonesia adalah Bali. Namun sekarang tidak lagi. Terbukti dengan banyaknya wisatawan asing yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia demi memburu keindahan alam dan menyaksikan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Seperti pada tanggal 24-25 Agustus 2013 saat saya berwisata ke gunung anak Krakatau di selat Sunda. Saya melihat ada serombongan turis Eropa yang juga berwisata kesana. Ini membuktikan bahwa Indonesia memang sudah sangat terkenal di dunia pariwisata bahkan untuk destinasi yang terpencil dan sulit dijangkau. Hanya saja mungkin kita perlu lebih menggencarkan promosi dan membuat brand.

Indonesia Never Ending Esia, adalah brand yang menggabungkan keindahan alam dan kekayaan budaya Indonesia.

Kita sudah memiliki banyak contoh event yang menggabungkan keindahan alam dan warisan budaya. Seperti misalnya Dieng Culture Festival. Festival budaya ini digelar di dataran tinggi Dieng yang terkenal keindahannya. Ada lagi Festival Danau Toba yang rencananya akan di gelar di Pulau Samosir pada 8-14 September 2013. Dan festival-festival lainnya yang ada di Indonesia yang menjadi ‘objek perburuan’ bagi para wisatawan.

Dengan menggabungkan keindahan alam dan kekayaan warisan budaya ini, Indonesia pasti mampu bersaing di kancah pariwisata ASEAN dengan brand Indonesia Never Ending ASIA.

Tugas kita bersama-sama dengan pemerintah selain mempromosikan sektor pariwisata dengan barand tersebut adalah memperbaiki infrastruktur agar tempat-tempat yang indah tersebut dapat dengan mudah diakses oleh wisatawan. Selain itu, menjaga agar keindahan alam tetap terjaga adalah tugak kita bersama yang tak kalah pentingnya. Berhenti bicara tentang kebobrokan negara ini dan mulailan beraksi. Contoh kecil aksi nyata yang bisa kita lakukan seperti membuang sampah pada tempatnya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.