Kek Lok Si Temple

Nekat ke Kek Lok Si Temple, Penang

Bangunan-bangunan cantik yang merupakan Kuil Budha Terbesar se-Asia Tenggara mulai terlihat dari tempat dimana aku dan lelaki kurusku turun dari bus Rapid Penang nomor 203. Kami berhenti sejenak, memandang ke arah kuil Kek Lok Si Temple yang dibangun di atas bukit He San, di daerah Air Itam, Penang. Tiba-tiba perutku mulas melihat kuil yang diberi julukan Temple of Supreme Bliss itu. Untuk sampai ke atas sana, harus jalan kaki? Menanjak?

Kek Lok Si Temple
Memandang Kek Lok Si Temple nun tinggi di atas bukit

Mari Makan Laksa

Rupanya si kurus mengerti bahwa aku kuatir kecapekan kalau nekat jalan kaki sampai ke kuit. Ia lalu mengajakku untuk makan siang terlebih dahulu. Kebetulan, bus Rapid Penang nomor 203 yang kami naiki dari Georgetown menurunkan kami di Jalan Pasar. Ada banyak kedai makan di sana. Air Itam Laksa pun menjadi pilihan kami untuk makan siang itu. Kami tertarik untuk mencoba karena kedainya terlihat sangat ramai. Mungkin semua orang akan setuju dengan pendapat ini, jika tempat makan terlihat ramai, maka bisa dipastikan bahwa makanan yang disajikan rasanya enak.

Sayangnya setelah mencicipi menu laksa itu, perutku malah mual. Aku tidak suka irisan daun yang dicampurkan di dalam semangkuk laksa itu. Entah daun apa namanya. Yang jelas rasanya getir! Belum lagi rasa amis suwiran ikannya. Duh, biasanya aku bukan picky eater loh! Atau mungkin ini pengaruh kehamilanku yang baru berusia 6 minggu dan membuatku kurang bisa menikmati makanan apapun yang ketemui di Penang.

Air Itam Laksa
Setengah hati makan laksa

Padahal semua orang bilang, Penang itu surganya kuliner.

Di ruas jalan yang sama dengan kedai Air Itam Laksa, aku tertarik untuk membeli kue Apom khas India. Siapa tau kue itu rasanya manis dan bisa mentralisir rasa getir dan amis isi laksa. Fikorku ketika itu.

Dan benar saja, kue apom yang menurutku seperti crepes a la india itu rasanya enak. Ada guratan rasa manis gula, gurih kelapa, dan aroma harum telur panggang. Aku suka, aku suka!

Godaan Belanja Souvenir

Kurang lebih sejauh 1 kilometer kami berjalan kaki dari Jalan Pasar untuk sampai ke Kuil. Melewati jalan dan lorong sempit yang penuh dengan pedagang souvenir di kanan dan kirinya. Jalan di lorong itu menanjak dengan banyak sekali anak tangga. Entah berapa jumlah anak tangga yang harus kulewati dan cukup melelahkan itu.

Souvenir Kek Lok Si Temple
Aneka souvenir di toko-toko di lorong menuju Temple

Untungnya aneka barang dagangan yang ditawarkan terlihat menarik. Sesekali aku berhenti di salah satu lapak, untuk melihat-lihat dan survey harga. Kuingat-ingat lapak dagangan mana yang menawarkan harga paling murah, supaya saat perjalanan pulang nanti aku bisa mampir lagi dan membeli beberapa buah tangan.

Kawasan jalan setapak yang menanjak dan dipenuhi pedagang spuvenir ini mengingatkanku pada Chinatown di Singapura, serta Jongker Walk saat malam minggu di Malaka. Aku mulai menyimpulkan, komunitas China di suatu tempat sepertinya hobi berdagang. Apalagi jika di tempat itu ada atraksi wisata yang ramai dikunjungi.

Kek Lok Si Temple
Memasuki lorong penuh toko souvenir

Dan jika membandingkan harga, kawasan Chinatown biasanya akan lebih murah dibanding dengan barang yang sama yang dijual di tempat lain. Contoh saja pengalamanku belanja souvenir di Orchard Singapura. Usai dari Orchard aku ke Chinatown, dan kaget mendapati barang dengan kualitas yang sama namun harganya jauh lebih murah.

Mengeksplore Kawasan Temple

Meskipun perjalanan melewati anak tangga menuju Kek Lok Si Temple cukup menguras tenaga, namun semua rasa lelah itu terbayar lunas begitu sampai di sebuah taman yang menjadi tempat pertama yang akan ditemui oleh pengunjung pejalan kaki.

Kek Lok Si Temple
Taman di Kek Lok Si Temple no

Di taman itu ada sebuah patung Budha, dan di depannya ada pagoda kecil yang tidak terlalu tinggi. Di sekelilingnya ditanami banyak bunga-bunga yang menjadikan suana semarak, selaras dengan warna cat bangunan-bangunan kuil yang dominan merah kuning dan emas.

Komplek Kek Lok Si Temple yang mulai dibangun oleh komunitas China di Penang sejak tahun 1890 ini memiliki banyak bangunan yang bisa dieksplore. Dari taman yang kuceritakan di atas, aku kembali menemukan anak tangga menuju bangunan-bangunan lain yang ada di Kek Lok Si Temple.

Kek Lok Si Temple
Ini yang namanya Kek Lok Si bukan ya?

Aku sendiri kurang faham nama-nama dari setiap bagunan yang ada. Yang kutahu dari hasil browsing internet, salah satu bangunan utama yang memiliki nama Kek Lok Si adalah sebuah bangunan tua dan besar di tengah-tengah komplek, yang pondasinya terbuat dari kayu, namun masih berdiri kokoh. Aku mengira, foto diatas ini yang dimaksud sebagai Kek Lok Si, itu.

Namun yang paling mencolok diantara semua bangunan yang ada di kawasan Kek Lok Si Temple ini adalah Pagoda 10.000 Buddha (Pagoda of ten thousands Buddhas). Untuk naik ke pagoda tersebut, setiap pengunjung wajib memberi donasi (tiket masuk) sebesar 2 Ringgit Malaysia (atau sekitar Rp7.000) per orang.

Pagoda 10.000 Budha
Menara kuning itu Pagoda 10.000 Budha

Aku sempat ragu untuk masuk dan menaiki anak tangga lagi untuk melihat-lihat apa yang ada dalam pagoda di setiap lantainya. Takut kecapekan. Maklum lagi hamil muda. Meskipun aku terlihat berani dan ngeyelan, tetap saja ada rasa takut. Cuma ya, seringnya dilawan sih. Dan kali ini aku nekat lagi untuk naik sampai ke lantai 7 pagoda yang merupakan lantai paling tinggi.

Dan rupanya kenekatanku tak sia-sia, karena dari atas pagoda aku dapat menikmati panorama bebukitan hijau dan pemandangan kota Penang di sekitar Kek Lok Si Temple.

Kek Lok Si Temple
Panorama hijau bebukitan di sekitar Kek Lok Si Temple
Reclining Budha
Patung Reclining Budha di Pagoda 10.000 Buddhas

Selain itu, di pagoda ini, ada patung-patung Budha dengan berbagai pose yang berbeda di setiap lantainya. Ada yang berdiri, duduk, dan ada yang posisinya sedang tidur, atau biasa disebut Reclining Budha. Wah, patung Reclining Budha di Pagoda ini sukses mengobati rasa penasaranku karena gagal mengunjungi patung Reclining Budha yang ada di Bangkok.

So, kenekatanku untuk mengeksplore Kek Lok Si Temple, dan memaksakan diri naik ke pagoda, ngga sia-sia lah ya. 🙂

22 thoughts on “Nekat ke Kek Lok Si Temple, Penang”

  1. 4 thn tinggal di penang, aku malah baru ke kuil kek lo si, pas udh ga di sana lagi 😀 Telat banget… tp dulu kita nyewa mobil mba…hebat ihhh mba bisa kuat jalan kaki -__-.

    btw laksa penang emg amis..ikannya berasa bgt… jd tergantung yg bikin pinter ato ga ;p… yg aku suka laksa johor.. itu enak krn bukan ikan kuahnya :).. santan gurih gitu… cobain deh ntr

    1. Waaa, noted, laksa johor. Makasii rekomemdasinya.

      Eh, 4th di Penang, kuliah kah? Asiknya yaa, Penang kota yang tenang dan damai, aku sukaa lhoo…

  2. Lokasi kuil yang diatas bukit itu sungguh strategis. Jadi gak sia-sia yang capek2 naik keatas, terbayar dengan pemandangannya yang cantik.

Leave a Reply