Nasehat Ibu Untuk Para Ibu

Umurku masih SMP ketika nenek mulai memberi nasehat paling berharga dalam hidupku. Nenek yang kukenali sebagai ibu karena beliau yang membesarkanku sejak kecil. Nasehat nenek yang kupegang teguh dan menyelamatkanku di tengah arus pergaulan bebas. Entah berapa banyak temanku di kampung yang akhirnya menikah karena ‘kecelakaan’.

Nenek yang paling memahami keresahanku. Melihat teman-temanku begitu asik menikmati masa mudanya di masa SMP, terbersit keinginan untuk merasakan hal yang sama. Main dengan bebas tanpa kekangan. Bisa mengendarai sepeda motor. Membuat pesta ulang tahun penuh musik disko. Juga malam mingguan dengan teman lawan jenis.

“Jangan iri sama kesenangan teman-temanmu sekarang” nasehat nenek di satu malam saat mendapatiku murung setelah dilarang untuk datang ke pesta ulang tahun teman oleh kalekku.

“Tugasmu sekarang adalah belajar, nduk, raih prestasi setinggi yang kamu bisa. Suatu saat nanti kalau kamu sudah sukses, mereka yang akan berbalik iri melihat kehidupanmu” nenek melanjutkan nasehatnya sambil mengusap kepalaku.

“Jangan juga iri melihat teman-temanmu yang sudah pada pacaran. Nanti, kalau kami sudah dewasa, jadi perempuan mandiri yang sukses, pasti akan ada laki-laki yang datang kok.”

Aku masih terdiam mendengar nasehat nenek yang duduk di sisi tempat tidurku. Tangan keriputnya masih mengusap kepalaku. Aku tak bisa melihat bagaimana ekspresi wajahnya karena aku berbaring dengan posisi menelungkup dengan wajah menghadap bantal. Dan nasehat nenekku belum selesai.

“Tapi kalau kamu memang penasaran mau pacaran …” nasehatnya terhenti sejenak. Kudengar ia menghela nafas lebih dalam sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya.

“Jaga diri baik-baik. Jangan sampai memberikan ini dan ini ke pacarmu!” Kata nenek sambil menunjuk bagian badanku yang harus selalu dijaga.

Sejak mendengar nasehat itu, entah kenapa aku jadi ingin cepat dewasa saja. Aku terpacu untuk belajar agar selalu mendapat nilai yang tinggi di buku rapor. Ingin cepat lulus SMP. Ingin segera SMA lalu kuliah, lulus dan kemudian kerja. Aku ingin tau bagaimana rasanya menjadi perempuan mandiri. Ingin membuktikan semua yang dikatakan nenekku.

Nenek masih sempat menimang anakku (cicit)

Lalu waktu berlalu. Setelah lulus kuliah Diploma 2 dan mendapat kerja, aku menikah, punya anak, yang walau akhirnya harus gagal dan aku jadi single parent. 3 tahun kemudian, Allah memberiku jodoh lagi dan sekarang nambah anak lagi. Hehe.

Sekarang nenekku sudah meninggal. Tapi aku masih punya ibu kandung yang dulu sempat kukira bahwa ia adalah kakak perempuanku.

Ibuku adalah perempuan yang kuat. Dia pandai memasak. Masakannya enak sekali. Paling enak sedunia. Dan itulah yang membuatku selalu kangen pulang ke rumah ibu.

Ketika aku melahirkan anak pertama, ibu menemaniku di ruang bersalin. Dia yang tak henti-hentinya mengingatkanku untuk tak putus berdoa. Mengusap punggung dan menggenggam tanganku saat aku mengerang karena merasakan sakitnya kontraksi.

Saat itu langsung terlintas dalam fikiran, mungkin seperti ini rasa sakit yang dialami ibu untuk melahirkanku.

Aku menangis. Meminta maaf pada ibu. Kusesali semua prasangka bahwa ibu tak menyayangiku karena meninggalkan ku dalam asuhan kakek nenek. Ternyata aku terlalu egois karena mengambil kesimpulan sendiri tanpa mau melihat satu masalah dari sudut pandang yang berbeda.

Setelah melahirkan, ibu mengajariku bagaimana cara memandikan bayi, mengganti popok, cara menyusui yang benar, mengatur menu makan agar ASI lancar, juga selalu rajin mengingatkanku untuk minum jamu. Supaya cepat pulih kesehatannya, juga cepat dan tetap langsing lagi, katanya.

Emak bilang, “stay slim!”

Kalau dicermati, ada poin-poin tentang kriteria perempuan cantik dalam nasehat nenek dan ibuku. Aku mencoba menjabarkannya menjadi 5 poin berikut:

1. Mandiri dan berprestasi

Wajar jika orang tuaku mendidikku menjadi prempuan mandiri. Mengingat kami tdak termasuk keluarga dengan ekonomi kuat. Untuk makan saja kakek dan nenekku harus bekerja menjadi buruh di sawah orang. Mengandalkan sawah sendiri pun hasilnya tidak seberapa karena hasil panen lebih banyak dipakai untuk membayar hutang pupuk dan bibit. Itu sebabnya, aku dituntut untuk berprestasi di sekolah supaya gampang cari kerja setelah lulus.

Tetapi sekarang, pandanganku tentang prestasi dan perempuan mandiri menjadi lebih luas dari sekedar ranking sekolah dan cari kerja.

Berprestasi adalah tentang mampu mengenali potensi diri, mengasah dan menekuninya, hingga membuahkan hasil yang positif.

Salah satu prestasiku saat ini, yang kuingat adalah blogging. 🙂

Anyway, menjadi perempuan mandiri bukan berarti tak butuh pria. Dan sepertinya benar apa kata nenekku, kebanyakan laki-laki sekarang lebih suka perempuan mandiri. Perempuan mandiri lebih menarik asal dia tau batasan.

2. Menjaga diri dan tau batasan

Ya laki-laki mana sih yang ngga tertarik sama perempuan yang pandai menjaga diri. Ye kan? Tapi bukan berarti bahwa sebagai perempuan kita harus mengurung diri di rumah terus demi jaga diri. Menurutku, bergaul di luar rumah tidak ada salahnya kok. Yang penting ya seprti kata almarhumah nenekku, “jagain yang ini dan ini”.

Pertanyaannya, gimana cara jagainnya? Pertama, menghargai diri sendiri lah ya pastinya. Menghargai diri ada banyak cara. Kalau ngga mau bau comberan, ya jangan main-main di comberan. Begitu salah satu contohnya.

3. Keibuan

Keibuan itu yang gimana sih? Yang pinter masak? Pinter urus rumah tangga? Selalu lemah lembut? Atau gimana?

Eh, tapi jaman sudah berubah. Banyak laki-laki yang berfikiran bahwa perempuan ngga harus bisa masak. Kan banyak catering. Tapi masak iya sih tinggal menyiapkan makanan yang dibeli dari katering, lalu menghidangkan di atas meja sambil senyum, ngga bisa?

Jadi menurutku, keibuan adalah tetap tau peran sebagai prempuan walau dia mengklaim diri sebagai perempuan modern dan mandiri. Dan tetap tau dan bisa mengurus bayi, itu sebab ibuku memaksaku mandiin bayi dari sejak hari pertama setelah pulang dari klinik bersalin.

Ah, ibuuuk. Jadi kangen. Apalagi setelah tadi pagi nonton video ini. Video yang menceritakan tentang arti seorang ibu. Silakan ditonton. Kalau kamu ngga nangis, hebat!

4. Tampil menarik dan percaya diri

Nenekku adalah orang paling rajin sedunia. Bedak dan parfum tak pernah ketinggalan dipakai kalau sehabis mandi. FYI, bedaknya nenekku adalah talcum powder. Beberapa merek favoritnya adalah Spalding, Viva, dan merek-merek bedak bayi. Kalau parfum favoritnya adalah cuddle. Nenek pakai bedak dan parfum 2x sehari setelah mandi bahkan walau umurnya sudah 60 lebih.

“Mamak ngga mau orang jadi mual kalo deket-deket sama mamak karena mamak bau” begitu jawabnya kalau aku tanya kenapa kok rajin amat dandan tiap hari.

Ada benarnya sih. Aku juga suka eneg kalo bau ketek orang. Nah, laki-laki juga gitu kan, pasti lebih suka melihat perempuan yang wangi, atau at least ngga bau ketek. Jadi, tampil menarik memang penting. Dan menarik itu ngga harus pakai baju dan sepatu mahal. Yang penting bersih, rapi, sesuai karakter, dan ngga bau ketek.

Jangan lupa untuk PeDe! Kalau ngga PD atau minderan, aura menarikmu hilang loh.

5. Bijak

Laki-laki pasti suka lah sama perempuan bijak. Apalagi kalau laki-laki berniat untuk menjadikan perempuan itu sebagai pasangan hidup. Karena dalam berumah tangga, pasti akan ada banyak masalah yang dihadapi. Memiliki istri bijak dalam mengatasi masalah pasti lah menjadi idaman setiap pria.

Aku sendiri ngga bisa menilai apakah aku sudah cukup bijak atau belum. Tapi semoga perjalanan hidupku selama ini, disertai segala nasehat dan plajaran hidup dari para orang tuaku, bisa selalu kujadikan contoh untuk mejalani hidup agar selalu bahagia. Aamiin.

Terakhir, untuk menutup tulisan yang ternyata sudah lebih dari 1.000 kata ini, aku ingin mengucapkan selamat hari ibu untuk semua ibu di dunia. Semoga kita tak pernah lelah menjalani proses belajar menjadi ibu yang baik. Aamiin.

16 thoughts on “Nasehat Ibu Untuk Para Ibu”

  1. wah neneknya Noe, persis banget dengan nenekku banyak wejangan ini itu, yang oada akhirnya memang benar perkataannya. Maklum diurus sama nenek banyak mandirinya deh.

    Ke 5 point diatas bener banget, kealamin sendiri niy hihii

  2. Keren critanya….
    Suka banged baca pengalaman2 orang sewaktu kecil……. ????

    Kira2 cewe yg di JLS kemarin kita ketemu, apa juga korban pergaulan bebas ya…….????

Leave a Reply