Move to Bogor part. 6 Merayakan kemenangan di air terjun Cibereum

Aku rasa, inilah klimaks dari perjalanan backpacking bersama Daffa’ dan Abyan selama tiga hari ini. Bahagia sekali aku bisa duduk diam, menyaksikan dua anakku begitu ceria dengan seluruh pakaian dan tubuhnya yang basah. Bermain diantara aliran air yang jernih dan dingin. Deras arusnya yang menabrak bebatuan mencipta jeram-jeram kecil dengan buih putihnya yang cantik. Dan gemuruh suara air yang jatuh dari ketinggian itu menelan suara riang dari mulut-mulut mungil Daffa’ & Abyan. Senin, 29 Juli 2013, di air terjun Cibereum.

Semacam perayaan kemenangan dan membiarkan mereka mandi kedinginan. Setelah berjalan kaki melewati sebagian jalur pendakian Gunung Gede Pangrango. Sejauh 3 kilometer dan menghabiskan waktu hampir satu jam. Dua kali lipat waktu yang biasanya dibutuhkan oleh para pendaki. Tapi buatku, detik demi detik berjalan kaki bersama Daffa’ dan Abyan seperti menikmati secangkir kopi panas. Tak perlu buru-buru, nikmati perlahan. Ya, seperti sensasi menyeruput kopi, saat berkali-kali aku harus tersenyum menyaksikan tingkah anak-anakku yang lucu.

Mengejar kupu-kupu, mengangumi bunga-bunga liar, atau memunguti daun berwarna merah yang ditemukan gugur di jalan berbatu. Bagaimana aku tidak tersenyum atas ini semua? Saat binar dimata anak-anak terpancar, lalu mereka berteriak;

“Wah! Kupu-kupunya cantiiikk!”
Atau,
“Ibu, fotoin bunga itu. Bagus ya, warnanya ungu.”
Atau,
“Ibu, kok daunnya warna merah? Harusnya kan ijo. Fotoin, Bu!”

Dan bagaimana aku tidak merasa lega berada disini? Setelah tadi selama dalam perjalanan terus bertanya-tanya; “bila kita akan sampai?” Ditambah rasa takut yang terus dirapal oleh Abyan yang masih balita. “Ibu, kenapa kita masuk hutan? Ibu, kakak takut. Nanti ada harimau nggak? Pulang aja yuk, Bu.”

Sementara Daffa’ begitu tabahnya menapaki jalan dengan ransel di punggung, melewati jembatan sepanjang rawa gayonggong, sambil sesekali beristirahat, memandang kagum pada telaga biru, menceburkan kaki ke anak-anak sungai dan membasuh mukanya. Abyan yang masih kolokan lalu merasa iri melihat Daffa’ yang 2 tahun lebih tua darinya, minta diturunkan dari punggung yang dengan senang hati menggendongnya jika lelah, lalu meniru apapun yang dilakukan Daffa’.

Semua itu cukup untuk membayar rasa nyeri yang menghinggapi otot-otot kaki, serta menjawab pertanyaan tadi pagi saat baru saja aku terbangun dari tidur di warung sederhana, di ruang lesehan tanpa kasur. Apakah aku masih sanggup hiking ke curug Cibeureum? Dan saat aku mencoba membuka jendela, terlihat puncak gunung Gede Pangrango membiru di kejauhan. Impian yang tersimpan dalam hati kembali menari-nari di pelupuk mata. Suatu hari, aku akan berdiri di puncak itu bersama Daffa’, juga Abyan.

Indra, travelmate yang menemaniku selama 3 hari ini sudah mandi pagi-pagi sekali. Dia juga yang membangunkanku agar segera bersiap-siap. Dia bilang, lebih baik jalan pagi-pagi menuju air terjun. Sambil olah raga, anggap saja jogging sejauh 3 kilometer. Padahal, masih tersisa sedikit lelah, hasil dari keliling Kebun Raya Cibodas kemarin. Kupaksakan bangun dan berniat mandi. Tetapi saat sedikit saja tanganku bersentuhan dengan air, kuurungkan niatku. Air di bak mandi itu, seperti air yang baru disimpan dalam lemari es seharian. Mencuci muka dan gosok gisi saja, aku rasa cukup. Backpacker sudah biasa tidak mandi, kan?

Sebelum pergi dari warung sederhana yang aku tumpangi menginap secara gratis semalam, aku tentu tak lupa memesan sarapan. Tak ingin mengulangi kesalahan seperti kemarin. Jangan sampai menderita kelaparan dan kehausan lagi. Dan untuk 6 porsi nasi goreng, 2 botol air mineral ukuran 3 liter untuk makan malam dan sarapan, ditambah beberapa jajanan, aku hanya perlu membayar Rp74.000,- saja! Murah sekali. Dan untuk kotak sumbangan kebersihan di pojok ruangan itu, aku masukan selembar uang Rp5.000,- Sebenarnya, ingin mengisinya lebih dari itu, apalah daya, dompetku mulai sekarat! Tersisa selembar lima puluh ribuan disana, ini akan dipakai untuk membayar administrasi masuk ke Taman Nasional Gede Pangrango nanti.

Meninggalkan warung makan yang sederhana namun penuh kehangatan ramah tamah pemiliknya, aku berjalan melewati kantor pengelola kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Tanaman hias semarak berwarna-warni disisi jalan, membuat aku harus berhenti sejenak dan berulang kali untuk memotretnya. Alam memang selalu memberi kelegaan lewat keindahannya. Seperti air yang membasahi kerongkongan ketika haus. Disini juga untuk pertama kalinya Daffa’ dan Abyan melihat selang air yang ujungnya berputar. Memancarkan air untuk menyirami tanaman. Selalu, banyak hal baru yang kita temukan dalam setiap perjalanan.

Memasuki kawasan hutan, kami disambut ramah petugas di pos pendaftaran pengunjung. Kubiarkan Indra dan anak-anak menghadap petugas, aku asik mengabadikan moment. Setelah selesai mendaftar dan membayar Rp 7.000,- per orang, maka perjalanan yang sebenarnya dimulai. Bismillah… Doa kuucap, semoga Allah senantiasa melindungi kami. Dan semoga aku kuat jika di tengah perjalanan nanti Abyan minta digendong.

Dan benar saja, setiap berjalan lima menit, Abyan langsung merengek karena capek. Tetapi untungnya ada Indra. Dia yang (semoga) dengan iklas menggantikan tugasku untuk menggendong. Setiap lima menit, Indra juga pasti menderita kelelahan dua kali lipat dari biasanya. Diturunkanlah Abyan dan mereka kembali berjalan bergandengan. Lima menit kemudian, Abyan minta digendong lagi, turun lagi, digendong lagi. Begitu seterusnya.

Sementara aku bersama Daffa’, terus berjalan bergandengan. Sesekali beristirahat untuk mengatur nafas. Sambil terus membesarkan hati untuk tabah. Karena kini tak hanya kaki yang merasakan pegal linu, tapi juga pundak dan punggung dengan beban ransel yang gendut seberat 6 kilogram.

Senyumku masih mengembang, mengingat setiap detik perjalananku menuju tempat ini. Anak-anakku pun sudah melupakan rasa lelahnya dan kini berganti gigil kedinginan. Segera ku ajak mereka berhenti berendam. Kutanggalkan pakaian mereka, membalut tubuh-tubuh kurusnya dengan handuk, membaluri dengan minyak kayu putih, dan membantu mereka memakai pakaian bersih yang masih tersisa dalam ranselku.

Lalu matahari mulai meninggi, kami segera meninggalkan curug Cibeureum yang menjadi tempat bagi aku dan anak-anakku untuk kembali belajar arti kemenangan. Mengalahkan ego, menempuh tantangan demi mencapai sebuah tujuan. *****

Silakan ke album foto untuk melihat lebih banyak

Leave a Reply