Move to Bogor part.5 Menginap Gratis

Tidur tanpa kasur? Jujur saja, aku benci hal ini. Tapi, mau bagaimana lagi? Kakiku sudah terlalu pegal untuk berjalan kaki mencari penginapan. Di tambah lagi, kondisi dompet yang semakin memprihatinkan. Tak apalah, sesekali aku menikmati malam di ruang lesehan yang disediakan oleh sebuah warung di Cibodas. Yang paling penting, menginap disini gratis!

*****

Daffa’ dan Abyan sudah pulas tertidur. Mereka ada disisi kananku. Aku dan Daffa’ di pinggir, dan Abyan di bagian tengah. Aku merasakan seluruh persendian tulangku linu karena diserang  hawa dingin Cibodas. Otot-otot kaki semakin nyeri terutama di bagian paha dan betis saat aku mengganti posisi dari berbaring lalu duduk.

Kupandangi dua anak lelakiku sembari bersandar pada dinding triplek. Wajah-wajah polos itu begitu damai. Kutarik nafas dalam-dalam. Mereka saja tidak protes tidur di tempat seperti ini, mengapa aku harus mengeluh?

Kurapikan selimut yang membalut tubuh mereka. Ini bukan selimutku. Tadi ketika baru tiba disini, kulihat 2 buah selimut terlipat di sudut ruangan. Tertumpuk bersama 3 buah bantal jadi satu. Langsung saja aku ambil satu selimut dan dua buah bantal. Sisanya untuk Indra. Daffa’ dan Abyan masing-masing satu bantal, aku bisa memanfaatkan ranselku untuk menyangga kepalaku. Sementara satu selimut ini bertiga, aku rasa cukup.

Sebenarnya, hari masih sore ketika aku menemukan warung ini. Setelah keluar dari Kebun Raya Cibodas, sekitar jam 5, aku langsung berjalan menyusuri komplek kios-kios yang ada di sekitaran pintu keluar Kebun Raya Cibodas. Kios-kios ini kebanyakan menjual souvenir dan oleh-oleh khas Bogor seperti asinan dan tempe keripik. Yang paling menarik perhatianku adalah souvenir berupa bunga-bunga kecil dalam pot. Andai punya banyak uang dan membawa kendaraan, aku mau saja memborong bunga warna warni itu untuk ditata rapi di teras rumah.

Tepat di depan pintu keluar Kebun Raya Cibodas, tampak beberapa angkot sedang ngetem menunggu penumpang. Sempat terfikir untuk naik angkot sampai pertigaan dimana tadi siang aku turun dari bis. Aku butuh mesin ATM untuk tarik tunai uang. Sekalian mencari penginapan murah untuk istirahat malam ini. Tapi berhubung Daffa’ dan Abyan sudah rewel karena haus dan lapar, maka diputuskan untuk cari tempat makan dulu di sekitar pintu keluar Kebun Raya Cibodas yang ternyata terhubung langsung dengan jalur pendakian Gunung Gede Pangrango.

Setengah jam lebih jalan kaki, menelusuri setiap gang kios-kios yang serupa warung petak. Seluruh warung makan tutup. Hanya beberapa terlihat buka, namun yang dijual hanya bakwan dan pisang goreng, serta takjil berupa kolak untuk persiapan buka puasa.

“Ibu, kakak capeek…” Abyan terus mengeluh sambil terus berjalan mengikuti langkahku.

“Mamas juga, Bu. Haus…” Daffa pun mengikuti. Padahal biasanya dia tegar. Ah, bagaimanapun dia tetap saja masih anak-anak.

“Sabar ya, Nak. Nanti kita singgah di warung. Kita makan terus cari penginapan. Sebentaaaar lagi,” aku terus membujuk mereka untuk tetap berjalan.

Berharap menemukan satu saja warung makan yang buka. Nihil. Putus asa rasanya. Sempat terfikir kembali saja ke depan pintu keluar Kebun Raya Cibodas, lalu naik angkot ke pertigaan. Tapi kufikir lagi, masa sih nggak ada satu pun yang jual nasi?

“Mba, itu ada warung. Kita beli aqua aja dulu yuk!”

Indra yang berjalan di depanku menunjuk sebuah warung yang hanya terbuka bagian pintunya saja. Seperti warung-warung lainnya yang sederet dengannya, bangunannya terbuat dari kayu dan papan. Jendela warung dari bilah-bilah papan tampak terturup rapat. Di depan warung terdapat meja dan dua bangku panjang. Aku menebak, itu pasti warung makan.

Cuma warung ini yang terlihat membuka pintu. Yang  lainnya tertutup rapat. Dari tempatku berdiri kira-kira hanya berjarak kurang dari 10 meter. Dari pintu yang terbuka itu aku melihat di dalamnya sebuah meja dan etalase berisi makanan ringan dan botol-botol air mineral. Di atas meja melintang tali rafia dan digantungkan beraneka makanan ringan rencengan.

Aku mengikuti Indra menuju warung itu. Santai saja aku berjalan sambil menuntun Daffa’ & Abyan yang sudah lesu karena lelah. Kasian mereka. Indra justru mempercepat langkah lalu berbincang dengan ibu muda si pemilik warung yang sedang duduk di bangku di depan warungnya. Tak lama, Indra berbalik lalu berjalan mendekati aku lg.

“Mba, warungnya emang tutup sih. Tapi dia bisa katanya bikinin nasi goreng,” mata Indra berbinar sekali mengabarkan hal itu.

Memasuki warung, aku langsung saja duduk di bangku. Memesan 3 porsi nasi goreng untukku dan 2 anakku. Sambil menunggu, mataku mencari-cari dimana steker listrik.

“Teteh istirahatnya di atas saja. Bisa selonjoran. Ada colokan listrik juga disana.”

Si pemilik warung dengan logat sunda yang kental mengarahkan aku untuk ke lantai atas dari warung ini. Sambil sibuk menyiapkan pesananku nasi goreng, ia seakan tau apa yang ku cari. Dua gadget yang aku punya memang sudah skarat sejak di dalam area Kebun Raya Cibodas.

Aku lalu menuju ke atas menapaki tangga kayu. Ku biarkan anak-anakku naik lebih dulu agar aku bisa menjaga mereka dari belakang saat menapaki anak-anak tangga yang tanpa pagar untuk pegangan.

Ruangan di lantai atas warung ini bersih. Rasanya memang lebih lega karena tidak ada meja dan kursi. Lantai papan yang ditutup semacam kain permadani. Aku biasa menyebutnya hambal. Banyak steker listrik yang tertempel di rangka kayu. Langsung saja aku mendekati salah satunya.

Kakiku yang rasanya sudah seperti mau patah, membuat aku tidak lagi menginginkan hal lain selain tidur. Berbeda dengan Daffa’ dan Abyan. Begitu melihat sebuah jendela terbuka lebar di ujung ruangan, mereka malah berlari mendekati. Ditemani Indra, aku mendengar celoteh mereka yang terdengar begitu terpana dan mengagumi pemandangan indah dari atas sini.

Tak lama nasi goreng pesananku datang. Sambil makan, terfikir olehku untuk menumpang menginap disini saja. Aku meminta tolong Indra untuk meminta ijin pada si pemilik warung. Dan kabar baik yang kuterima adalah berkah tak terkira dari Allah.

“Mba, katanya kalo mau nginep boleh aja,” seperti biasa, Indra menjelaskan dengan wajah sumringah. “Nggak disuruh bayar juga. Cuma disuruh isi kotak amal itu aja,” lanjutnya sambil menunjuk sebuah kotak amal dari kaca di dekat tangga. Di dinding triplek di atas kotak amal itu tertempel kertas HVS ukuran A4 dengan tulisan SUMBANGAN KEBERSIHAN.

Maka nikmat Tuhan yang manakah yang hendak kau dustakan? Seketika aku seperti tertampar mengingat satu ayat itu. Kejutan demi kejutan yang aku temui selama backpacking seharian ini. Setelah air mineral dan teh gratis dari crew FTV, sekarang pun aku diijinkan menginap gratis. Masih mau mengeluh karena tidak ada kasur?

Kembali kubenamkan tubuh lelahku ke dalam selimut. Menyatu dengan lantai papan ber-alas selembar kain hambal. Berbantal ransel. Kupeluk dua buah hatiku yang telah jauh mencumbui mimpi. Lalu kunimati cinta yang hangat, di tengah dingin angin Cibodas yang menusuk tulang.