Jawa Barat, Traveling

Move to Bogor part.4 Bukan bunga bangkai

“Mas, ini air minum punya siapa ya?” tanyaku pada dua orang lelaki yang sedang asik berbincang, duduk bersandar pada dinding cafe. “Boleh minta nggak?” lanjutku ketika kulihat mereka hanya tersenyum padaku, lalu berpaling dariku dan saling pandang satu sama lain.

“Aduh mba, yang punyanya itu lagi sibuk,” jawab salah seorang lelaki sambil menunjuk pada keramaian di sebuah perempatan jalan di dekat cafe.

“Lagi ada apa sih itu, Mas?” aku malah penasaran. 2 buah lampu dengan tiang penyangga tampak menyala terang sekali. Diletakan di dua sisi jalan. Cahayanya diarahkan ke satu titik dengan diberi semacam payung di belakang lampu. Persis seperti lampu yang dipakai di studio foto.

“Itu lagi ada syuting FTV, Mbak.”

“Oo..,” aku manggut-manggut sambil melihat ke arah lokasi syuting itu.

Aku yakin, dua orang lelaki ini bagian dari mereka. Tetapi mungkin, mereka bukan crew jadi tidak berani memberi ijin kepadaku saat aku minta sedikit saja air minum yang tersedia. Mungkin mereka hanya supir. Mungkin. Soalnya mereka duduk di emperan cafe dan dekat dengan mobil-mobil yang di parkir.

Masygul rasanya. Apa aku harus mendekati orang-orang yang sedang bekerja membuat adegan film itu, menepuk pundak sang sutradara yang duduk di kursi plastik menghadapi layar tv, lalu meminta ijin untuk minum? Bukan ide buruk sebenarnya, tapi aku enggan melakukannya.

“Mbak mau minum?” suara seorang perempuan bertanya dari arah belakangku.

“Eh, iya mba,” aku membalikkan badan, tersenyum malu melihat prempuan itu sedang duduk bangku di sudut cafe.

“Ambil aja mbak, ngak papa,” ucapnya.

Aku mengucap terima kasih, lalu mengambil gelas dari atas meja dan mengisinya dengan air minum melalui selang pompa pada galon itu.

“Kalau mau teh juga ambil aja Mbak,” katanya lagi saat aku belum habis meneguk satu gelas air putih yang segar sekali membasahi tenggorokanku.

“Ibu, aku mau teh aja.”

“Iya, aku juga.”

Daffa’ & Abyan malah tidak mau minum air putih. Dengan sedikit rasa malu tapi bersyukur, aku ambil 2 gelas plastik sekali pakai yang biasa dipakai untuk pop ice, mengisinya dengan teh yang sudah siap minum dalam teko, lalu kuberikan pada dua anakku. Aku mengucap terima kasih kepada perempuan yang merupakan crew FTV itu, lalu mengajak anak-anakku pergi dari lokasi syuting itu.

Ini memang bukan kisah Siti Hajar dan Nabi Ismail di gurun pasir, tapi aku percaya, banyak orang berempati karena melihat kedua anakku, atas seijin Allah. Alhamdulillah, setelah berusaha mencari air minum kesana kemari, kami malah bertemu dengan crew FTV dengan perbekalan lengkapnya.

Tidak jauh dari lokasi syuting, kami berhenti di taman yang dikhususkan untuk tumbuhan paku. Aih, aku suka sekali tempat ini. Berbagai jenis pakis ditanam dan ditata apik. Ayo istirahat disini sambil menghabiskan teh. Tetapi, Daffa’ dan Abyan lebih suka menikmati teh-nya di antara pepohonan yang letaknya berseberangan dengan taman pakis.

Sambil menunggu mereka menghabiskan tehnya, mataku kembali mencari-cari papan petunjuk arah. Apa lagi yang hendak aku tuju selain bunga bangkai? Ngotot sekali ingin melihat bunga yang fenomenal dan langka itu. Meski sebenarnya aku ingin sekali ke air terjun Ciismun yang ada dalam kawasan ini. Namun sayang, lokasinya jauh. Sementara hari sudah mulai sore dan tidak mungkin kami kesana. Bisa kemalaman nanti.

Sebenarnya, kakiku sudah pegal sekali. Entah sudah berapa kilometer dipaksa jalan kaki dalam kawasan kebun ini. Aku berjanji pada diri sendiri. Setelah melihat bunga kangkai itu, aku akan segera keluar dari sini, mencari tempat makan dan penginapan murah. Dan meski lelah, aku pantang mengeluh. Apa lagi ada Daffa’ & Abyan yang masih terus semangat.

Aku terus berjalan. Melewati jalan setapak yang telas di beton, jalan beraspal, menyeberangi jembatan di atas sungai kecil, ditemani beraneka ragam tanaman. Sampai akhirnya kami sampai pada apa yang kami cari.

“Yaah, bunganya nggak mekar Mba,” suara Indra terdengar kecewa ketika kami sampai di lokasi bunga bangkai.

Tampak sebuah papan kecil berwarna hijau di bawah pohon. Papan itu bertuliskan ‘Bunga – Bangkai”. Beberapa pohon yang diberi label bunga bangkai ini dikelilingi pagar besi yang juga berwarna hijau. Aku tertegun di sisi pagar. Bunga yang ada di hadapanku ini, benar-benar jauh dari ekspektasi. Aku membayangkan raflessia arnoldi, sebuah bunga bermahkota lima, berwarna merah bata dan berbintik putih. Kenapa ini malah suweg?

Aku ingat betul, bunga ini adalah suweg. Waktu kecil, aku akrab sekali dengan suweg. Hanya memang tidak sebesar suweg di Kebun Raya Cibodas ini. Suweg memiliki umbi yang bisa yang besar dan dimakan. Di pekarangan rumahku di kampung, banyak suweg tumbuh dengan subur. Aku senang menggali dan mengambil umbinya, dikupas kulitnya, dipotong-potong, dikukus, lalu dimakan dengan parutan kelapa.

Membingungkan. Ternyata bunga bangkai dipakai sebagai nama untuk dua bunga yang berbeda. Rafflesia arnoldi dan suweg, tumbuhan jenis bunga yang masih memiliki hubungan kerabat jauh, sama-sama disebut sebagai bunga bangkai. Baiklah, meski tidak sesuai ekspektasi, aku jadi tau sekarang. Bunga bangkai ada dua macam.

Jadi, diama aku bisa melihat rafflesia arnoldi?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.