Jawa Barat, Traveling

Move to Bogor part.3 Menemukan Oase

Oke, aku harus mengakui bahwa keputusan untuk backpacking di bulan Ramadhan itu bukan ide yang bagus. Meski aku sedang kedatangan tamu bulanan, dan anak-anakku juga belum bisa puasa full, tetap saja kami tidak bisa bebas makan. Jarang sekali bahkan tidak ada tempat makan buka. Kecuali di kota-kota yang ramai, dan banyak restoran fastfood tetap beroperasi dengan memasang kain yang dibentangkan sebagai penutup dinding-dinding kaca.

Sayangnya, aku lebih suka backpacking ke tempat-tempat yang jauh dari keramaian kota. Seperti kali ini di Kebun Raya Cibodas. Aku menderita kelaparan dan kehausan di tengah botanical garden. Sudah berjalan kesana kemari, mengikuti petunjuk arah dimana ada cafe di dalam kawasan kebun. Semua tutup! Aku sih terbiasa menahan lapar, sejak kecil aku memang susah makan. Anak-anakku juga menuruni kebiasaanku, susah makan kecuali jika disuapi. Tapi, seberapa lama kita bisa menahan haus?

Di depan 2 cafe yang aku datangi disini, rasanya aku ingin bertindak sedikit kriminal. Demi melihat air mineral dan aneka soft drink di pajang dalam etalase yang bisa dengan mudah terlihat dari jendela kaca. Bagaimana jika aku pejahkan saja kaca jendela ini?

Sebut saja aku sudah putus asa. Tidak ada harapan untuk bisa membeli air minum dan makasan di dalam Kebun Raya Cibodas ini. Dan sudah kepalang tanggung masuk kebun, untuk kembali keluar beli minum dan kembali lagi ke dalam kawasan kebun? Oh no! Jalan kakinya jauh. Yasudah, the show must go on. Lapar dan haus ditahan saja. Anggaplah sedang puasa.

Aku berniat kembali mencari lokasi raflesia arnoldi. Tetapi ada baiknya beristirahat dulu. Cafe kedua yang aku datangi ini, letaknya di tengah tanah lapang dan ditutupi rumput hijau. Permukaannya tidak datar. Bentuknya seperti bukit-bukit teletubbies di film boneka yang disukai anak-anak di akhir abad 20. Cantik sekali. Aku berdiri di beranda cafe yang terbuka dan diberi pagar setinggi pinggang orang dewasa. Dikejauhan, berjarak sekitar 200 meter dari cafe, terlihat sebuah danau. Permukaan danau terlihat cahaya perak kemilau sinar matahari yang jatuh dan terpantul. Oase, aku seakan lupa pada rasa hausku.

Di padang rumput yang mirip bukit teletubbies itu, rupanya Daffa’ & Abyan sudah mendahuluiku menikmati keindahan yang terhampar. Mereka berlari berkejaran. Entah kenapa mereka suka sekali melakukan itu. Kadang mereka balap-balapan dengan menentukan garis start dan finish sebelum berlari. Sampai diatas padang yang tinggi, aku lihat mereka berhenti berlari. Mareka terlihat berbincang sambil menunjuk ke arah bawah. Tanah di hadapan mereka tampak menurun dengan kemiringan 20 derajat. Aku heran memperhatikan dua anak lelakiku itu. Apa yang mereka perbincangkan?

Tak lama, aku melihat mereka lalu duduk dan berbaring telentang. Dan menuruni tanah miring itu dengan bergulingan. Aku tersenyum melihat tingkah mereka dan bergeleng-geleng sendirian. Bahagia sekali mereka melakukan itu. Sama bahagianya ketika mereka diajak ke dalam mal dan masuk ke arena game zone. Tapi aku yakin, berguling-gulingan di padang rumput berbentuk bukit teletubbies ini pasti pengalaman yang jauh lebih menyenangkan dari pada naik kuda-kudaan dalam mal. Aku lalu berjalan ke arah mereka. Bersiap dengan kamera. Moment ini tak boleh disia-siakan.

Menyadari aku datang, Daffa’ & Abyan langsung berdiri. Memandang wajahku yang masih terus ternyesum dan bergeleng-geleng saja. Wajah kedua malaikat kecilku itu, innocent sekali. Mereka tersenyum dengan mata yang bening dan bersinar. Menunggu reaksiku selanjutnya. Aku tau, mereka takut aku marah. Seperti pengasuhnya di rumah yang suka marah-marah jika mereka bermain kotor-kotoran.

“Ibu nggak marah kok,” masih dengan senyum aku menjawab kekhawatiran mereka. “Guling-gulingan lagi aja sana!” kataku kemudian.

“Yeay.., Asiiikkk..!”

Daffa’ & Abyan lalu bergandengan kedua tangan mereka, berlompatan dan teriak kegirangan. Tak lama, mereka lalu berguling-gulingan lagi.

Melihat itu, ada kebahagiaan menyusup dalam rongga dada. Ya Allah, semoga aku bisa terus melukis senyum dan tawa di hari-hari mereka.

“Mba Noe, udah sore nih. Yuk jalan lagi,”

Dari bawah pohon di tengah padang rumput Indra berteriak mengajakku pergi. Aku mengangguk tanda setuju. Ku panggil anak-anakku untuk berhenti bermain.

Sebenarnya, di cafe sebelum ini juga kami sempat berhenti sejenak untuk beristirahat. Cafe pertama itu dibangun tepat disisi kolam yang agak luas dan terdapat beberapa ikan mas hidup disana. Di sisi lain cafe dibuatkan taman dengan air terjun bertingkat-tingkat. Duduk di sisi air terjun buatan itu, aku sempat ingin minum saja air dari situ. Tapi, takut sakit perut. Karena air terjun buatan pasti berbeda dengan air ternjun asli yang debitnya jauh lebih besar dan masih murni. Aku tidak akan berfikir dua kali untuk meneguknya.

Dan tanpa disangka-sangka. Di tengah perjalananku mencari lokasi bunga bangkai, aku kembali menemukan sebuah bangunan cafe. Di sebelah cafe itu aku lihat beberapa mobil terparkir dan orang-orang ramai berkumpul. Mungkin sedang gathering, fikirku. Di bagian muka cafe yang juga sedang tutup itu, ada sebuah meja yang penuh dengan gelas-gelas tersusun di atas pinggan. Ada toples gula, kopi, dan teh. Satu buah termos air panas, dan teko berisi teh yang sudah diseduh dan siap dituang ke dalam gelas untuk kemudian di minum. Di lantai di sisi meja, satu galon air minum lengkap dengan selang pompa.

Glek! Aku menelan ludah sendiri saat melihat itu semua.

“Bu, itu minum,” Abyan mengguncang lenganku sambil menunjuk ke arah galon.

Bukan, Nak. Itu Oase!

1 thought on “Move to Bogor part.3 Menemukan Oase

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.