Move to Bogor part.2 Latihan puasa dan sabar

Hijau, sejuk, damai. Itulah tiga kata dariku untuk mewakili Kebun Raya Cibodas. Bersama Daffa’ & Abyan, aku menikmati moment-moment backpacking yang jauh dari polusi disini. Pada Minggu, 28 Juli 2013.

Udara dingin langsung menyapa ketika aku tiba di Cibodas. Ditambah awan kelabu menggantung di langit. Semoga hujan tidak segera turun.

Ini untuk pertama kalinya aku mengajak anak-anak berwisata ke botanical garden. Sejak lama, aku ingin membawa Daffa’ & Abyan ke Kebun Raya Bogor untuk melihat Rusa. Tetapi karena terbentur soal waktu dan biaya, keinginan itu belum juga terwujud. Sekarang, malah takdir membawaku kesini. Kebun Raya Cibodas yang ternyata merupakan cabang dari Kebun Raya Bogor yang dikembangkan di kawasan Gunung Gede Pangrango.

Daffa’ & Abyan sangat excited berjalan dan berlarian sepanjang jalan menuju gerbang Kebun Raya Cibodas. Setelah turun angkot, untuk menuju pintu gerbang utama, harus berjalan kaki sekitar 200 meter. Jalannya beraspal hitam dan lebar. Di kanan dan kiri jalan ditanami pepohonan hijau yang membuat suasana semakin sejuk.

Masuk ke Kebun Raya Cibodas ini, harga tiket masuknya cukup murah. Cuma Rp9.500,- saja per orang. Jika membawa kendaraan maka dikenakan biaya tambahan yaitu Rp5.000,- untuk kendaraan bermotor, dan Rp16.000,- untuk kendaraan roda empat. Berhubung aku tak punya kendaraan pribadi, ya jalan lenggang kangkung saja. Untungnya, anak-anakku sudah biasa jalan kaki.

Jujur, aku tak punya tujuan khusus disini. Yang terpenting buatku, aku bisa menghabiskan waktu bersama Daffa’ & Abyan. Itu saja!

Setelah melewati gerbang, aku seolah berjalan tanpa tujuan. Daffa’ & Abyan berlari berkejaran. Tawa mereka renyah, menggambar senyum di wajahku. Mereka sama sekali tak peduli hendak dibawa kemana. yang penting buat mereka adalah jalan-jalan bareng ibunya. Tempat apapun. mereka asik saja. Sementara sesekali aku asik dengan kamera pocket yang selalu kubawa setiap kali backpacking. Mengabadikan moment indah bersama anak-anak, menangkap landscape, dan apapun yang menarik perhatianku.

“Mba, Lo pingin kemana?” Indra yang menjadi guide kali ini malah mengajukan pertanyaan saat aku asik dengan kameraku.

“Nah lo! Malah tanya gue. Meneketehe deh,” aku jawab sekenanya sambil mengangkat bahu.

“Liat raflesia arnoldi aja yuk!”

Aku ikut saja ajakan Indra. Meski aku tau, di dalam kawasan ini ada banyak yang bisa dikunjungi seperti danau, air terjun, taman lumut, sungai, camping ground dan berbagai lokasi taman khusus untuk tanaman-tanaman yang dikelompokkan menurut jenisnya. Tapi, aku tidak mau ‘ngoyo’ untuk menyambangi spot-spot keren itu. Santai sajalah. Sedapatnya saja! Lagipula, letak spot-spot tersebut pasti berjauhan. butuh banyak waktu dan tenaga extra untuk jalan kaki jika ingin mengunjungi semuanya.

“Apa itu, Om?”

Daffa’ penasaran mendengar Indra menyebut nama raflesia arnoldi. Sambil terus berjalan, Indra menjelaskan apa yang ia tau tentang bunga bangkai.

Tetapi, sesuai dengan namanya, kebun raya, menjelajah kawasan hutan seluas 85ha hanya dengan berjalan kaki tentu saja menguras tenaga. Abyan mulai kelelahan. Dan seperti biasa, dia mulai ngadat sebelum kami sampai di lokasi bunga bangkai. Lalu kami memutuskan untuk beriatirahat sejenak.

Kami duduk di sebuah bangku kayu, di antara pohon-pohon yang menjulang tinggi. Ada jembatan gantung dari tali dan bilah-bilah papan yang diikat di batang-batang pohon tersebut. Jembatan tali gantung itu menghubungkan dari satu pohon ke pohon lainnya. Aku dan anak-anakku hanya melihat saja. Meski terbersit keinginan untuk naik ke atas sana. Tidak, itu pasti bayar, mahal!

Untung saja Daffa’ & Abyan tidak penasaran. Seandainya mereka sudah tau bagaimana serunya memacu adrenalin dengan melakukan hal-hal yang menantang, mereka pasti akan merengek untuk mencoba meniti jembatan tali yang tergantung setinggi kira-kira 10 meter itu. Aku jadi teringat saat backpacking ke Sentosa Island, Daffa’ & Abyan merengek minta nonton di Unirversal Studio, dan aku harus tega menolak permintaan mereka. Kejam ya aku? Dan, syukurlah, kali ini mereka tidak minta naik ke jembatan itu.

Setelah dirasa cukup dengan istirahat, aku mengajak anak-anak untuk kembali jalan kaki menuju lokasi raflesia arnoldi. Asik sekali berjalan kaki di dalam kawasan Kebun Raya Bogor ini. Menapaki jalan-jalan beraspal, dikelilingi pohon-pohon yang kesemuanya dipasangi papan nama. Aku berjalan santai sekali, sambil membaca papan-papan nama pohon. Selalu dituliskan dengan dua nama, nama populer dan nama latin setiap jenis pohon. Ini sukses membuatku manggut-manggut setiap membacanya. Sementara Daffa’ dan Abyan terus asik berlarian, berkejaran. Aku tak khawatir, karena Indra, temanku yang juga seorang backpacker itu, selalu bersedia mengawasi anak-anakku.

Tetapi, lama kelamaan aku capek juga. Letak raflesia arnoldi cukup jauh ternyata. Meski aku tidak puasa di hari ke-19 bulan Ramadhan ini, aku kan belum makan seharian. Ditambah lagi air minumku habis. Di peta yang ada di loket sebelum masuk kebun ini tadi, aku sempat melihat, di dalam kawasan ini ada cafe. Aku harus makan, atau minimal beli air mineral. Anak-anak juga sudah mengeluh haus. Akhirnya, dengan melihat papan penunjuk arah di setiap persimpangan jalan di dalam kebun, yang kami cari adalah arah menuju cafe, bukan bunga bangkai itu lagi.

Sayangnya, tak ada satu pun cafe yang buka. Maklum sih, ini kan Ramadhan. Akhirnya aku harus kerja extra menenangkan Abyan yang sebentar-sebentar rewel minta minum. Ya, hitung-hitung latihan puasa untuk anak-anak, dan latihan sabar untukku. Jadikan pelajaran; jika ngotot mau ngetrip di bulan ramadhan, bawa persediaan air minum dan cemilan yang cukup untuk anak-anak!