Move to Bogor part.1 Capek di jalan

Aku benar-benar tidak menyangka, perjalanan dari Jatinangor ke Cibodas lewat Cianjur, ternyata lumayan jauh. Capek duduk di bis. Ongkosnya Rp27.000,- per orang. Bisnya tidak terlalu bagus jika dibanding bis Jakarta-Merak berlabel Arimbi atau Armada. Bus yang aku tumpangi ini tidak ber-AC. Di badan bus dan kaca bagian depan dan belakang, ada tulisan Doa Ibu. Mungkin nama PO-nya. Aku dan anak-anakku duduk di seat paling belakang. Waktu naik bus ini di Jatinangor, memang sudah hampir penuh penumpang, jadi tak ada pilihan seat lain.

Aku lebih banyak tidur selama dalam bis. Kepalaku sedikit pusing setelah semalaman tidur tak nyenyak, ditambah tadi pagi habis berdesak-desakan di pasar kaget Unpad, di Jatinangor. Daffa’ & Abyan juga mati gaya. Jika biasanya mereka ceria karena bebas melihat pemandangan di luar bus selama perjalanan, kali ini tidak bisa. Kami duduk tidak dekat jendela. Akhirnya, kami tidur berjamaah.

Satu persatu penumpang turun. Lama kelamaan bus menjadi longgar. Badanku semakin remuk terombang-ambing dalam bus yang jalannya ngebut. Daffa’ & Abyan aku bangunkan. Kusuruh mereka pindah duduk ke seat-seat yang telah kosong. Aku fikir mereka akan senang, bisa kembali berdiri di jendela bis menghadap keluar.

Pemandangan Cianjur lumayan bagus. Tadi aku sempat mengintip. Areal persawahan terhampar hijau, bertingkat-tingkat. Cuaca cerah sehingga langit terlihat biru dan tersaput awan putih yang berarak. Nun jauh disana, terlihat bukit membiru. Tak jarang di tengah sawah mataku menangkap sebuah gubuk kecil. Ingatanku melayang. Dulu, sewaktu kecil, aku akrab sekali dengan tempat seperti ini, di sebuah desa kecil tempat aku dilahirkan, di Lampung Tengah.

Aku ingin anak-anakku juga punya kenangan indah masa kecil bersama alam. Thats why I love backpacking with children.

Sepertinya Daffa’ & Abyan belum puas dengan tidur siangnya. Setelah kubangunkan mereka untuk pindah tempat duduk, mereka malah mengambil posisi tidur di seat kosong. Kadang aku salut dengan dua bocah lelakiku ini. Mereka tak pernah repot dengan urusan tidur. Jika sudah mengantuk, ya tidur saja. Bisa di taman, mushola, angkot, busway, kereta, juga bus. Aku kerepotan? Iya tentu saja. Apa lagi jika sudah waktumya harus turun dari kendaraan umum dan mereka susah bangun. 😀

Seperti kali ini, saat kami harus turun di pertigaan Cibodas. Aku memang tidak terlalu kesulitan dengan Daffa’. Daffa’ akan bangun kapanpun jika aku membangunkannya. Meski dengan tubuh mungilnya yang sempoyongan. Daffa’ akan berjalan mengikutiku. Tapi Abyan, balitaku ini masih kolokan. Aku kadang harus menggendongnya jika dia sedang nyenyak tertidur dalam angkutan umum.

Namun karena kali ini badanku sedang kurang fit, aku memaksa Abyan bangun dan berjalan turun dari bus. Abyan menangis. Aku pusing dibuatnya. Setelah turun dari bus dan busnya pergi, Abyan masih menangis. Heuh.. kalau sudah begini kesabaranku diuji.

Aku mengabaikan tangisannya kali ini. Aku terus menuntunnya hingga ke sisi jalan. Beberapa angkot sedang mangkal di pertigaan Cibodas yang ada di Cipanas ini. Aku langsung saja naik. Angkot masih kosong, namun setelah aku, 2 anakku dan Indra naik, sopir angkotnya langsung tancap gas saja.

Di dalam angkot, aku perhatikan wajah Daffa’ & Abyan masih lesu. Mereka menggelendot manja padaku. Kedua tanganku merangkul mereka. Saat-saat seperti ini, justru aku bisa lebih merasakan kebersamaan.

Udara disini sejuk. Aku merasakannya dari angin yang masuk melalui jendela angkot yang terbuka lebar. Bukan cuma udaranya, pemandangannya pun menyejukkan mata. Halaman rumah-rumah penuh dengan tanaman hias. Semarak arna-warni bunga. Indah!

“Eh, liat deh tuh di luar banyak bunga” kubangunkan Daffa’ & Abyan. Aku tak ingin menikmati pemandangan yang tak biasa ini sendirian. Benar saja, Daffa’ ikut terpesona. Namun Abyan tak peduli.

10 menit berada dalam angkot. Kami sampai di Kebun Raya Cibodas. Onkos angkot dari pertigaan Cibodas sampai Kebun Raya Cibodas ini cuma Rp2.000,- per orang. Murah sekali, padahal harga BBM kan sudah naik.

“Bu, kuping kakak nggak kedengelan” Abyan bicara manja sambil mengucek telinganya setelah turun dari angkot.

Aku menunduk lalu meniup telinganya. Fuuhh..! “Sekarang udah kedenheran belom?” tanyaku.

“Beelooom” jawab Abyan manja. Matanya menatapku, mulutnya cemberut. Wajahnya jadi semakin lucu karena pipinya yang tembem.

Hahaha.., jika tidak bisa mendengar kenapa bisa menjawab? Selalu begitu setiap naik kendaraan terlalu lama dan ditambah udara dingin. Telinga seperti tertutup sesuatu sehingga suara apapun terdengar sangat kecil. Aku tertawa di tengah penat setelah perjalanan jauh. Tingkah anak-anak yang lucu selalu bisa menghibur dan membuat aku lupa pada rasa lelah.

Setelah tertawa geli, kupeluk erat Daffa’ & Abyan. Thank You Allah for sending me the angels…

Leave a Reply